Doni ingatkan protokol kesehatan "vaksin" efektif tangkal COVID-19

Doni ingatkan protokol kesehatan

Dokumen - Pengendara melintas di depan baliho edukasi penerapan protokol kesehatan di Makassar, Sulawesi Selatan. ANTARA/Arnas Padda

Jakarta (ANTARA) - Ketua Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Doni Monardo mengingatkan masyarakat bahwa mematuhi protokol kesehatan merupakan "vaksin" yang paling efektif menangkal penularan virus corona baru sebelum obat dan vaksin ditemukan.

"Presiden sudah katakan, sebelum vaksin dan obat ditemukan maka 'vaksin' yang efektif untuk mencegah COVID-19 adalah patuh protokol kesehatan," kata Doni Monardo dalam talk show yang disiarkan televisi swasta di Jakarta, Selasa.

Baca juga: Kerja menghadapi pandemi

Ia mengatakan memakai masker dengan benar, menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun, menghindari kerumunan merupakan sejumlah protokol kesehatan yang wajib dipatuhi masyarakat agar terhindar dari penularan COVID-19 selama vaksin dan obat belum ditemukan.

Menurut dia, apa yang diminati pemerintah kepada masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan belum sebanding dengan perjuangan tenaga kesehatan di rumah sakit. Angka kematian dokter cukup tinggi di Indonesia, lebih dari 130 orang dan bahkan di antara mereka merupakan dokter umum.

Baca juga: Bagi 2.200 masker, Pupuk Indonesia ingatkan penggunaan masker

"Artinya hampir semua dokter berpotensi terpapar COVID-19. Kalau kita mau menjaga tenaga kesehatan kita, maka harus kerja keras mengurangi angka pasien COVID-19, sehingga para dokter bisa lebih relaksasi dan mempermudah mempercepat penanganan pasien," ujar Doni.

Ia mengatakan kolaborasi penta helix dari tingkat pusat hingga daerah dan ikut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk tokoh agama, merupakan cara untuk memberikan pemahaman pada masyarakat bahwa siapa saja dapat terinfeksi SARS-CoV-2 terlebih jika tidak menjalankan protokol kesehatan dengan benar.

Baca juga: Pegawai positif corona, Dindukcapil Temanggung tunda perekaman KTP-el

"Kolaborasi penta helix penting sekali. Khususnya tokoh agama, karena masih ada 17 persen masyarakat kita yang menganggap COVID-19 tidak mungkin menulari mereka. Satgas juga bekerja sama dengan Dewan Pers, kita ikutkan juga 5.800 wartawan untuk mengupayakan mengubah perilaku masyarakat, termasuk yang 17 persen tadi," ujar Doni.

Menurut dia, seluruh masyarakat Indonesia perlu optimistis, bahwa sebagai bangsa pejuang, dengan kolaborasi bersama COVID-19 dapat dikendalikan.

#satgascovid19 #ingatpesanibupakaimasker #cucitangan #jagajarak

Pewarta : Virna P Setyorini
Editor: Heru Dwi Suryatmojo
COPYRIGHT © ANTARA 2020