Anak usaha Kimia Farma ekspor obat ke Afghanistan dan Myanmar

Anak usaha Kimia Farma ekspor obat ke Afghanistan dan Myanmar

Ilustrasi: Favipiravir, obat yang bisa digunakan untuk terapi COVID-19 hasil produksi dari PT Kimia Farma, Tbk. ANTARA/Dok Humas Bio Farma/pri.

Jakarta (ANTARA) - Emiten farmasi PT Phapros Tbk, melalui anak usahanya PT Lucas Djaja, melakukan ekspor produk obat senilai Rp1,8 miliar ke Afghanistan dan Myanmar.

"Ekspor dilakukan karena ada kebutuhan di sana dan total nilainya mencapai lebih dari 120.000 dolar AS atau sekitar lebih dari Rp1,8 miliar. Adapun hingga pertengahan Oktober 2020 ini total nilai ekspor kami tumbuh sebesar 17 persen," kata Direktur Utama PT Lucas Djaja Ninung Murtini dalam pernyataan di Jakarta, Selasa.

Perusahaan yang berbasis di Bandung, Jawa Barat itu mengekspor antibiotik jenis amoxicillin, obat resep kortikosteroid jenis dexamethasone, dan obat untuk sakit maag.

Baca juga: Pendapatan Kimia Farma naik 32,37 persen, capai Rp2,40 triliun

Ekspor obat tersebut, kata Ninung, merupakan kontainer yang ke-12 sampai ke-14 dan sampai akhir November 2020 total jumlah kontainer obat yang ekspor akan mencapai 17 kontainer.

Sebelumnya pada 2017 Phapros yang juga anak usaha PT Kimia Farma itu telah melakukan ekspor ke Nigeria.

Baca juga: Dirut Phapros: Inovasi jadi kunci bertahan walau ditengah pandemi

Pada kesempatan terpisah Direktur Utama PT Phapros Tbk Hadi Kardoko berharap bahwa ekspor yang dilakukan PT Lucas Djaja bisa mendongkrak konsolidasi pendapatan ekspor perusahaan hingga di atas 5 persen.

"Kami tetap gencar melakukan ekspansi bisnis di tahun ini, meski di tengah pandemi COVID-19 saat ini," ujar Hadi.

PT Lucas Djaja resmi diakuisisi oleh PT Phapros Tbk pada akhir 2018 dengan kepemilikan saham sebesar 90,22 persen.

Baca juga: Obat penanganan COVID-19 racikan holding BUMN farmasi siap digunakan

 
Pewarta : Citro Atmoko
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020