Gugah kesadaran kesehatan mental dan ruang cerita lewat konten digital

Gugah kesadaran kesehatan mental dan ruang cerita lewat konten digital

Ilustrasi. (Pixabay)

Jakarta (ANTARA) - Bulan Oktober menjadi bulan yang memiliki arti penting untuk memperingati kesehatan mental.

Sejak diresmikan pada tahun 1992 oleh World Federation for Mental Health, Hari Kesehatan Mental Sedunia diperingati setiap 10 Oktober, bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kepedulian akan kesehatan mental.

Seiring berkembangnya teknologi, akses mengenai kesehatan jiwa semakin terbuka, pun dengan orang-orang yang peduli dan ingin memberikan kembali ilmu dan waktu yang mereka dapat melalui cara yang sama; salah satunya adalah kanal Menjadi Manusia di YouTube.

Baca juga: WHO dan TikTok buat kampanye untuk Hari Kesehatan Mental Sedunia

Terbentuknya Menjadi Manusia diawali dari perjalanan hidup salah satu pendirinya, Rhaka Ghanisatria, yang didiagnosa memiliki Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiperaktivitas (ADHD).

Pengalaman Rhaka memahami dan menangani ADHD membuat ia sadar bahwa berbagi cerita dan terhubung dengan satu komunitas orang-orang yang berpikiran dan mengalami hal yang sama, dapat membawa manfaat yang luar biasa.

Bersama dengan Adam Abednego dan Levina Purnamadewi, mereka tercerahkan untuk berbagi cerita dan membantu khalayak luas, bahkan orang - orang yang dipandang sebelah mata oleh masyarakat umum, untuk mulai bercerita, berbagi pengalaman seputar perjuangan mereka menangani atau menjaga kesehatan mental.

“Sejak awal, tujuan kami cuma dua. Yang pertama ingin ketika seseorang punya masalah mereka tidak merasa sendirian. Yang kedua ingin orang Indonesia lebih open minded untuk tidak menghakimi pendapat orang lain," kata Rhaka.

Baca juga: SuperM digandeng WHO ikut peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia
 
Menjadi Manusia. (ANTARA/HO)


Rhaka dan kawan-kawan pun terus mencari cara untuk memberikan skill tambahan untuk orang lain mengembangkan kesehatan mental mereka, khususnya hal-hal yang tidak pernah diajarkan oleh sekolah.

Misalnya saja seperti bagaimana bangkit dari kegagalan, bagaimana caranya berdamai dengan patah hati, dan bagaimana caranya mencintai diri sendiri, dan sebagainya.

Bagi mereka, menjaga kesehatan mental tidak hanya seputar penyakit mental, tetapi juga lebih sadar akan emosi yang sedang dialami juga dapat mengekspresikan dan mengelola emosi tersebut lebih baik. Terutama, soal bagaimana cara generasi saat ini berpikir, merasakan, dan akan terlihat jelas saat mereka bersosialisasi di masyarakat.

Baca juga: 40 Persen warga Korsel alami masalah kesehatan mental akibat COVID-19

Namun, mereka sadar bahwa memulai pembicaraan seputar kesehatan mental tidaklah mudah, bahkan cenderung tabu - apalagi ketika harus bercerita tentang saat-saat rentan dalam hidup seseorang.

Rhaka, Adam, dan Levina pun mencari cara bagaimana dapat membuat konten positif seputar kesehatan mental, tanpa menggurui.

Salah satu cara mereka untuk memulai percakapannya adalah dengan membuka diri dengan cerita pribadi mereka, serta membentuk "Teman Manusia", sebuah support group atau komunitas yang mengizinkan orang untuk dengan bebas bercerita dan menemukan sudut pandang untuk masalah yang dihadapi.

“Kita tidak mencari orang untuk bercerita, tapi kita memberikan kebebasan untuk mereka bercerita dengan sendirinya," kata Adam.

Sekelompok anak muda ini percaya bahwa bagi seseorang untuk dapat berbagi kisah mereka, mereka perlu untuk berdamai dengan apa yang pernah mereka hadapi atau sedang hadapi.

Baca juga: Mengapa kita wajib luangkan waktu untuk diri sendiri di tengah pandemi

Orang-orang ini tidak hanya telah berdamai, tapi juga berharap bahwa dengan bercerita, orang lain bisa belajar dari apa yang mereka hadapi dan tidak merasa sendirian.

Ia dan tim kemudian sadar bahwa ketika kita berbagi, kita belajar. Seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan kanal ini sendiri, membantu mereka juga ‘menjadi manusia’.

Terdapat sebuah perjalanan bagi Menjadi Manusia ketika mereka mendengarkan kisah hidup dan perjuangan orang lain -- yang seakan membuka mata mereka akan realita dunia, memberikan perspektif baru, dan menjadikan mereka kaya akan makna hidup.

Langkah baru dalam mencari solusi

Seperti layaknya Menjadi Manusia, Psikiater Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta dr Gina Anindyajati pun menilai, teknologi saat ini bukan hanya menambah alternatif untuk mengakses pengetahuan dan kesadaran akan kesehatan mental, namun memiliki peran penting terutama di masa pandemi saat ini.

Menurut dr Gina, konten digital termasuk video, seminar daring, hingga praktik telepsikiatri dan telekonseling, merupakan sebuah solusi yang kian diminati untuk mengenali diri sendiri di masa ini.

Hal ini dibuktikan melalui banyaknya jumlah penonton dan pelanggan (subscriber) di kanal YouTube seperti Menjadi Manusia, maupun adanya dinamika terkait pelayanan kesehatan jiwa di Indonesia, yang masih dikaji oleh Departemen Psikiatri FKUI-RSCM dan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI).

Baca juga: Seberapa efektif terapi kesehatan mental lewat pesan teks?

Dinamika tersebut berkaitan dengan perubahan jumlah pasien, mengingat diberlakukannya PSBB, tersedianya layanan yang mudah dijangkau (konsultasi daring dan telekonseling), dan sebagainya.

dr Gina memprediksi, akan terdapat peningkatan kebutuhan pelayanan kesehatan jiwa yang berhubungan dengan dampak pandemi terhadap kondisi psikologis masyarakat.

Telepsikiatri dan konsultasi daring juga merupakan cara para profesional untuk memastikan orang yang membutuhkan tetap terlayani, dan juga meminimalkan risiko paparan infeksi virus COVID-19.

Akan tetapi, masih banyak pertimbangan untuk menjalankan praktik ini, terlebih dari kesiapan sumber daya. Untuk kalangan tertentu, teknologi adalah hal yang tidak terjangkau, sehingga pertemuan tatap muka tetap menjadi pilihan.

dr Gina mengatakan, telepsikiatri dapat menjadi pilihan solusi, namun tetap perlu menyediakan pilihan yang lain misalnya panduan praktik yang menyesuaikan standar keamanan di masa pandemi untuk daerah dengan sumber daya terbatas.

Baca juga: Aplikasi ini deteksi kesehatan mental lewat kebiasaan pakai ponsel
 
Ilustrasi. (Pixabay)


Akses kesehatan mental yang inklusif

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memilih tema "Mental Health for All: Greater Investment – Greater Access", yang berarti kesehatan mental yang inklusif untuk semua orang, dengan akses yang mudah didapat.

"Mobilisasi dalam skala global dapat membantu menghasilkan keputusan yang pada akhirnya akan menyediakan pelayanan kesehatan mental yang baik, kapan pun dan di mana pun yang kita butuhkan," kata Director of the Mental Health and Substance Use Department WHO, Dévora Kestel.

Menurut Kestel, kampanye global yang disalurkan lewat teknologi juga bisa menjadi alternatif bagi mereka yang tidak memiliki akses terhadap dukungan kesehatan mental yang tepat dan sesuai.

Sependapat dengan Kestel, dr Gina mengatakan, kesehatan jiwa untuk semua adalah perwujudan dari hak azasi manusia. Akses yang lebih luas dan investasi yang lebih banyak diperlukan untuk mewujudkan kesehatan jiwa bagi semua.

Baca juga: Menjaga kesehatan mental saat pandemi dengan "mindfulness"

Ia berharap, tema ini juga bisa mendorong keterlibatan semua pihak, bukan hanya para profesional kesehatan jiwa, untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera dan sehat jiwa.

Lebih lanjut, hal ini karena kesehatan jiwa dan kesejahteraan erat kaitannya dengan faktor biologis, psikologis, dan sosial, termasuk ekonomi, politik, sumber daya, infrastruktur, dan sebagainya.

Dengan adanya investasi di berbagai bidang, diharapkan orang akan tercukupi kebutuhan dasarnya dan ada pelayanan kesehatan yang tersedia serta terjangkau.

Melalui peran teknologi yang kian erat dengan aktivitas sehari-hari, ditambah dengan kian meningkatnya kesadaran publik terhadap kesehatan jiwa, diharapkan mampu menjadi awal untuk menentukan sikap mencari bantuan.

Semoga dengan kesadaran ini, kita semua bisa menjadi masyarakat yang empatik dan mau mengambil bagian untuk berinvestasi di bidang kesehatan jiwa.

Mulai dari menginvestasikan waktu dan energi untuk mengenali diri sendiri sehingga bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi, menginvestasikan kemauan untuk membantu orang lain, hingga menginvestasikan sumber daya yang lebih besar sebagai negara untuk menjamin kesejahteraan dan kesehatan jiwa masyarakat.

Baca juga: Satu dari tiga perempuan alami kesepian saat "lockdown"

Baca juga: Mendengkur bisa pengaruhi kesehatan mental?
Pewarta : Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020