Industri baja dan proyek infrastruktur di tengah pandemi

Industri baja dan proyek infrastruktur di tengah pandemi

Dokumentasi - Petugas beraktivitas di pabrik pembuatan baja Kawasan Industri Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Jumat (4/10/2019). ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/foc/pri.

Jakarta (ANTARA) - Pandemi COVID-19 menjadi kisah lain ketika percepatan proyek infrastruktur sedang berada di puncaknya. Kecepatannya pun harus disesuaikan dengan kondisi yang memaksa semua untuk mengutamakan kesehatan di atas seluruh kepentingan.

Namun perlahan tapi pasti kesetimbangan baru terbentuk ketika adaptasi kebiasaan baru dicanangkan sebagian bagian dari hidup yang berkompromi dengan COVID-19.

Industri baja sebagai salah satu penopang proyek infrastruktur pun tak lepas dari pengecualian. Industri baja nasional selama ini juga memberikan kontribusi yang besar bagi pendapatan negara secara langsung sehingga perkembangan atasnya diharapkan tak memudar.

Maka seiring dengan kembali dimulainya pembangunan infrastruktur di masa adaptasi kebiasaan baru, industri baja nasional diperkuat agar bisa mendukung terwujudnya negara mandiri dari impor baja.

Namun yang saat ini tengah dialami hampir seluruh negara di dunia adalah minimnya permintaan atau “demand” akan produk baja karena dampak pandemi COVID-19.

Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Taufiek Bawazier mengatakan, di era pandemi semua negara berupaya mencari cara agar permintaan di industri baja meningkat.

“Kita lihat di Amerika, ada upaya dari industri bajanya bersurat kepada parlemennya untuk mengeluarkan semacam infrastruktur bill yang tujuannya adalah untuk mendorong industri baja agar bergerak,” katanya.

Sebab di semua negara pada saat pandemi hampir seluruh industri bajanya mengalami perlambatan pertumbuhan dan kemudian banyak dijumpai tenaga kerja yang mungkin perlu dijaga agar tidak di-PHK.
Ilustrasi: Petugas beraktivitas di pabrik pembuatan baja Kawasan Industri Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Jumat (4/10/2019). ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/foc.

Skema stimulus

Taufiek menjelaskan, negara-negara yang berkonsentrasi untuk mengembangkan industri baja, menggunakan skema stimulus untuk membangkitkan industri baja nasional mereka.

Dengan skema stimulus ini, diharapkan permintaan baja tumbuh sehingga semua ekosistem yang ada di industri baja ini juga ikut bergerak.

“Pemerintah China juga sama, mengeluarkan bounce sampai sekitar 326 miliar dolar AS. Jadi pemerintah pusat dan derah, untuk proyek pembangunan hampir 13 airport. Kemudian 9 railway. Semua ditujukan untuk membangkitkan demand baja. Dan estimasi dari proyek yang seperti itu, di China itu 21 juta ton dapat terserap di proyek-proyek tersebut,” katanya.

Ia menambahkan, jika dilihat dari peta dunia, sebanyak 52 persen pengguna baja itu ada di sektor konstruksi dan bangunan.

Sebanyak 16 persennya diequipment/machining, 12 persennya di sektor otomotif, 10 persennya di house hold, dan 3 persen di sektor lainnya seperti alat elektronik.

Ini adalah gambaran besar mengapa infrastruktur menjadi penting untuk di dorong dengan dana pemerintah.

Selain itu, instrumen lain yang tak kalah penting dalam memperkuat industri baja nasional menurut Taufik adalah SNI produk baja dan peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).

Secara teknik, SNI merupakan instrument yang cukup bagus untuk membendung, impor-impor produk yang di bagian hilir.

“Kalau bahan baku sebagian besar hanya di pabrik. Kalau konsepnya SNI itu lebih banyak beredar di pasar. Itulah yang menjadi fokus. Industri yang paling hilir yang menjadi perhatian harus di-SNI-kan. Untuk TKDN juga sudah kita upayakan sehingga produksi itu punya TKDN di atas 40 persen, otomotis pemerintah dan BUMN itu harus membeli produk-produk yang dihasilkan dari dalam negeri. Itu yang menjadi konsentrasi kita,” katanya.

Namun yang utama  juga mengutarakan pentingnya industri baja melakukan inovasi agar tetap berkelanjutan.

Ia mengatakan, persepsi konsumen untuk membeli sebuah produk harus dibangun agar industri ini tetap tumbuh.

Kesimpulannya yang pertama, inovasi jadi bagian kunci keberlangsungan baja nasional, kemudian yang kedua, pemerintah, baik pusat maupun daerah, serta BUMN harus mengalokasikan minimal proyek-proyek infrastruktur yang menjadi bagian penting penyerapan baja nasional.

Kemudian yang ketiga, inovasi bagian yang tidak terpisahkan di dalam membangkitkan ekonomi di era pandemi. Yang keempat adalah penegakan SNI, instrument-instrumen lain, termasuk TKDN menjadi kunci lain untuk menumbuhkan industri baja agar tetap terjaga dari berbagai barang impor.

“Konsep yang kita bangun adalah bagaimana utilitas industri ini tetap tumbuh, minimal tidak jatuh. Jadi kita tumbuh ini karena demand yang ada juga tetap bergerak,” ujarnya.
Ilustrasi - Salah satu produk baja ringan


Strategi baru

Vice President PT Tata Metal Lestari Stephanus Koeswandi, mengatakan  pihaknya sebagai perusahaan penyedia Baja Lapis Zinc Aluminium dengan merek Nexalume dan Baja Ringan TASO, mengatakan pentingnya strategi bagi pelaku usaha dalam menjaga industri baja nasional dalam percepatan infrastruktur di masa pandemi.

Ibarat seperti sepak bola, ada dua strategi yang dapat dilakukan pengusaha dalam kondisi ini. Yang pertama adalah strategi bertahan.

“Caranya dengan menjaga kesehatan dan keamanan kerja di lingkungan industri baja nasional, dan menjaga perekonomian dan memproteksi industri baja nasional dari baja impor,” katanya.

Ada juga strategi maju ke depan. Langkah yang bisa dilakukan menurutnya dengan mempercepat inovasi dalam industri baja, inovasi berbasis metal secara berkesinambungan, kemudian meningkatkan standar dan yang terakhir memperkuat UMKM dan IKM khususnya untuk baja konstruksi.

Stephanus menambahkan, baja merupakan Mother of Industry, dari sebuah negara. Karenanya ia berharap dukungan untuk dapat menjaga dan meningkatkan standarisasi di industri ini.

Salah satunya dengan spercepatan kebijakan wajib SNI khususnya untuk profil baja ringan guna melindungi industri baja dalam negeri dari produk impor.

"Industri ini ibaratnya sedang tidak sehat sehingga membutuhkan obat untuk jangka pendek seperti safeguard jangka menengah seperti SNI dan jangka panjang seperti kepastian energi dan lain sebagainya," kata Stephanus.

Menurutnya, SNI bagi industri baja sangat penting, khususnya untuk konsumen akhir melihat spesifikasi yang tertera jelas dalam setiap produk, untuk menjamin keamanan bangunan.

Menanggapi hal ini, Kepala Badan Standarisasi Nasional, Kukuh S Achmad menyampaikan, tahun ini masih ada 9 Daftar Program Nasional Regulasi Teknis 2019-2020 terkait baja untuk disahkan.

Nantinya jika SNI untuk 9 produk baja tersebut disahkan diharapkan dapat menjadi jawaban pelaku industri atas persoalan daya saing dan kemandirian selama ini. Pasalnya, produk impor memang perlu diatur untuk menjaga produk dalam negeri.

"SNI produk baja ini sedang dirumuskan bersama Kementerian Perindustrian, kami berharap ini bisa menjawab kebutuhan industri," katanya.

Baca juga: Kemenperin dorong pengembangan industri hulu baja dalam negeri
Baca juga: Kemenperin lepas ekspor 1.200 ton baja ke Pakistan
Pewarta : Hanni Sofia
Editor: Royke Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2020