Komoditi Sulut jajal pasar Jepang setelah ekspor langsung dibuka

Komoditi Sulut jajal pasar Jepang setelah ekspor langsung dibuka

Gubernur Olly Dondokamber (tengah) bersama jajaran terkait lainnya hadir pada peluncuran ekspor langsung sejumlah komoditi ke Jepang menggunakan maskapai penerbangan Garuda. (1)

Manado (ANTARA) - Sejumlah komoditi pertanian asal Sulawesi Utara (Sulut) sudah dapat dipasarkan ke Jepang setelah ekspor langsung ke negara tersebut dibuka, Kamis.

"Pelaku usaha komoditas pertanian di Provinsi Sulut kini dapat meningkatkan kinerja ekspor ke pasar Jepang. Ekspor langsung atau direct call komoditas pertanian dapat dilakukan melalui Bandar Udara Sam Ratulangi Manado," kata Kepala Karantina Pertanian Manado, Donny Muksydayan, di Manado, Kamis.

Gubernur Sulut Olly Dondokambey melepas ekspor langsung perdana ke Jepang komoditas perikanan dan pertanian.

Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Manado, kata dia, mensertifikasi komoditas pertanian berupa labu, bawang merah, sereh wangi, kunyit kencur, lengkuas, daun pandan, vanili, bunga pala, dan lada biji.

Baca juga: Pacu ekspor tuna, Pemprov Sulut gandeng Garuda Indonesia

Baca juga: Karantina Pertanian Manado fumigasi bunga pala ekspor ke India

Ke-10 komoditas pertanian unggulan Sulut ini dikirim berupa sampel langsung ke Jepang dengan menggunakan pesawat Air Bus Maskapai Garuda Indonesia dengan rute terbang Jakarta - Manado -Tokyo.

Selain membawa komoditas pertanian, pesawat tersebut juga mengirim komoditas hasil perikanan seperti ikan Tuna sebanyak 10 ton dan 100 Kilogram ikan Nila sebagai contoh.

“Saya mengapresiasi pencapaian ini, terlebih bertepatan dengan HUT ke-56 Provinsi Sulawesi Utara. Semoga dengan terbukanya pasar ekspor baru ke Jepang ini dapat bermanfaat untuk masyarakat Sulawesi Utara,” kata Olly Dondokambey, Gubernur Provinsi Sulut saat memberikan sambutan pada peluncuran akses ekspor langsung atau komoditas pertanian dan perikanan dari Kargo Garuda di Bandara Sam Ratulangi, Manado.

Donni Muksydayan Saragih, Kepala Karantina Pertanian Manado mengatakan, ekspor langsung ini dapat terwujud berkat kerja sama semua pihak antara instansi pusat seperti Bea Cukai, BKIPM, Karantina Pertanian, BUMN, Pemprov Sulut dan pelaku usaha.

Donni menambahkan, terbukanya ruang ini menjadi peluang besar bagi petani dan pelaku usaha memacu kinerja ekspor khususnya untuk tujuan Jepang terutama untuk produk hortikultura dan tanaman pangan di mana selama ini ekspor didominasi sektor perkebunan.

Secara terpisah, Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil memberikan sambutan melalui Video Conference menyampaikan, persyaratan ekspor ke Jepang sesungguhnya cukup berat dibanding negara lain.

"Pada kesempatan ini di tengah pandemi COVID-19, kita dari Indonesia bersama-sama mampu melakukan ekspor langsung tentunya kita patut berbahagia," sebutnya.

Jamil menambahkan melalui pintu pengeluaran lain, ekspor pertanian ke Jepang sudah cukup banyak, saat ini nilainya mencapai Rp4 triliun lebih.

Saat ini, bersiap produk pertanian dan perkebunan dari Sulut seperti labu, sereh wangi, kunyit kencur, lengkuas, daun pandan, vanili, bunga pala, dan lada biji untuk menembus pasar Jepang secara langsung.

“Sesuai arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo bahwa di masa pandemi ini sektor pertanian harus mampu menjadi penopang ekonomi, dan dengan terobosan yang dilakukan Sulut saat ini merupakan langkah nyata yang patut diapresiasi,” ujarnya.

Sebelum adanya penerbangan langsung (direct call) ke Jepang komoditas pertanian asal Sulut harus melalui Bandara Soekarno Hatta di Banten dan Bandara Ngurah Rai di Bali yang membutuhkan waktu sekitar 24-30 jam (termasuk waktu transit) agar barang tersebut sampai ke Jepang.

Kondisi ini tidak efisien dan juga berdampak pada biaya logistik yang tinggi karena waktu tempuh yang lama, kualitas barang menurun akibat lama waktu perjalanan, seringnya pembatalan ekspor yang diakibatkan tidak mendapat slot kargo maskapai penerbangan.

Adanya penerbangan langsung ini, waktu perjalanan menjadi singkat dan efisien, secara letak geografis Bandara Sam Ratulangi jauh lebih dekat dengan Jepang (hanya 5,5 hingga 6 jam).

Harapan serupa juga disampaikan Dirjen Bea Cukai melalui Vidcom dan Kapus Pengendalian Mutu BKIPM bahwa terobosan seperti di Sulut ini diharapkan dapat meningkatkan perekonomian nasional.

Turut hadir Wagub Steven Kandouw dan Sekprov Edwin Silangen, DPRD, Kapus BKIPM, Kakanwil Bea Cukai, Kepala BI Sulut, Imigrasi, PT Angkasa Pura, dan Maskapai Garuda dan pelaku usaha.*

Baca juga: Mentan apresiasi Sulut ekspor pala di tengah pandemi COVID-19

Baca juga: Sulut ekspor santan beku ke China
Pewarta : Karel Alexander Polakitan
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020