BRG dorong budidaya pertanian alami di lahan gambut

BRG dorong budidaya pertanian alami di lahan gambut

Budidaya pertanian alami di lahan gambut yang dikembangkan petani di Kabupaten Bengkalis, Riau (Antara/HO-BRG)

Jakarta (ANTARA) - Badan Restorasi Gambut (BRG) mendorong penerapan budidaya pertanian alami di lahan gambut sebagai upaya menjaga kesuburan dan mencegah kerusakan tanah.

Deputi Bidang Edukasi Sosialisasi Partisipasi dan Kemitraan BRG Myrna A Safitri di Jakarta, Kamis menyatakan budidaya pertanian alami terbukti memberikan dampak positif untuk para petani sebab telah mendorong terwujudnya produksi pertanian yang stabil namun tetap menjaga kesuburan dan mencegah kerusakan lahan gambut.

Upaya untuk mewujudkan budidaya pertanian alami, tambahnya, yakni melalui kegiatan Sekolah Lapang Petani Gambut (SLPG), BRG memfasilitasi para petani untuk mendapatkan manfaat dari lahan gambut sekaligus menyehatkan ekosistem gambut yang selama ini kondisinya rusak parah.

Baca juga: Deputi BRG: Waspadai kebakaran hutan di tengah pandemi COVID-19

"Kegiatan SLPG sejalan dengan amanah UUPA (Undang-undang Pokok Agraria). Dalam Pasal 15 UUPA tertulis jelas pemegang hak atas tanah diwajibkan memelihara tanah, menjaga kesuburan dan mencegah kerusakan tanah," ujar Myrna.

Dikatakannya, pertanian tanpa bakar dan tanpa bahan kimiawi di lahan gambut selaras dengan apa yang diamanahkan UUPA yakni menjaga kesuburan dan mencegah kerusakan tanah.

Untuk mewujudkan pertanian alami tersebut, BRG melatih para petani di desa-desa yang berada di lokasi target restorasi gambut. Saat ini ada sekitar 1000 kader petani yang mengelola sekitar 200-an demplot pertanian tanpa bakar.

Myrna menyatakan, pada peringatan Hari Tani Nasional 24 September diharapkan, para petani di lahan gambut semakin bersemangan menjalankan pertanian berkelanjutan.

Baca juga: Tim BRG fasilitasi pameran produk pangan masyarakat desa gambut Sumsel

"Tidak hanya itu, para petani juga diharapkan dapat melakukan inovasi pada kearifan lokal dan pengetahuan tradisional yang ada," katanya.

Sementara itu Ketua Kelompok Tani Memanah, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau Ismail mengatakan, tantangan mewujudkan pertanian alami di lahan gambut yakni diperlukan waktu yang panjang.

"Keinginan para petani memanen hasil pertanian dalam waktu yang singkat menjadi tantangan mewujudkan budidaya pertanian alami. Sebab pertanian dengan cara alami membutuhkan waktu yang lumayan panjang dan pemeliharaan yang maksimal," katanya.

Namun, tambahnya, banyak petani sudah membuktikan bahwa hasil pertanian yang diolah secara alami hasil produksinya berkualitas dan sehat.

Oleh karena itu, menurut dia, diperlukan pembinaan secara berkesinambungan oleh pemerintah derah kepada petani di desa-desa gambut guna mewujudkan pertanian alami.
 
Pewarta : Subagyo
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020