Jakarta (ANTARA) - Penutupan total (lockdown) Kota Ruili, Provinsi Yunnan, China, yang berbatasan dengan Myanmar mengancam keberlangsungan bisnis berlian senilai 10 miliar yuan atau sekitar Rp21,9 triliun.

Pemerintah Provinsi Yunnan mengumumkan status darurat di delapan prefektur dan 25 kabupaten yang dekat dengan perbatasan Myanmar setelah seorang warga Ruili positif COVID-19 pada pekan lalu, disusul dua kasus impor dari Myanmar pada Senin (14/9).

Seluruh wilayah Kota Ruili dikenai karantina total, yang diperkirakan akan berakhir sepekan lagi sambil menunggu instansi kesehatan melakukan tes COVID-19 secara massal.

Wabah itu disebabkan oleh perlintasan secara ilegal dari Myanmar, demikian pejabat China dikutip sejumlah media setempat, Rabu.

Lockdown menyebabkan harga daging dan sayur meroket setelah warga setempat memborong bahan makanan.

Harga daging babi naik menjadi 60 yuan per 0,5 kilogram dan daging sapi melonjak menjadi 100 yuan per 0,5 kilogram, tulis majalah berita finansial lokal.

Rak-rak para pedagang kosong melompong hanya dalam waktu semalam, jasa pengantar makanan juga berhenti beroperasi.

Ruili merupakan kota kecil yang dihuni sekitar 200.000 jiwa. Kota itu merupakan pangkalan besar batu berlian yang diimpor dari Myanmar sebagai salah satu produser berlian terbesar di dunia.

Mengingat secara geografis dekat dengan Myanmar dan sistem bea cukai yang menguntungkan bagi perdagangan lintas batas, Ruili telah menjadi pasar utama berlian dengan total transaksi mencapai 10 miliar yuan atau sekitar Rp21,9 triliun pada 2019, menurut Majalah Caijin.

Bisnis berlian yang berkembang juga menciptakan bisnis media melalui internet.

Di Kota Ruili, sekitar 60.000 orang bekerja mempromosikan penjualan berlian melalui siaran langsung. 

Baca juga: Perbatasan China-Myanmar "lockdown", pariwisata Wuhan menggeliat

Baca juga: Infeksi COVID-19 di Myanmar meningkat, Thailand perketat perbatasan

Baca juga: Berlian sempurna 102 karat akan dilelang


 

Berlian Oranye Terbesar & Termahal

Pewarta: M. Irfan Ilmie
Editor: Tia Mutiasari
Copyright © ANTARA 2020