Wabah cacar monyet di RD Kongo sebabkan 10 kematian, 141 infeksi

Wabah cacar monyet di RD Kongo sebabkan 10 kematian, 141 infeksi

ANTISIPASI VIRUS CACAR MONYET. Penumpang pesawat melintasi alat pendeteksi suhu tubuh (thermal scanner) saat tiba di terminal 2 Bandara Juanda Surabaya di Sidoarjo, Jawa Timur, Jumat (17/5/2019). Kantor Kesehatan Pelabuhan kelas 1 Surabaya wilayah kerja bandara Juanda meningkatkan kewaspadaan dengan memasang alat pendeteksi suhu tubuh untuk mengantisipasi masuknya virus cacar monyet (Monkeypox) ke wilayah Indonesia. ANTARA FOTO/Umarul Faruq/nz.ANTARA FOTO/Umarul Faruq (ANTARA FOTO/Umarul Faruq)

Yaounde (ANTARA) - Wabah cacar monyet di Republik Demokratik Kongo (DRC) sejauh ini telah menyebabkan 10 orang meninggal dan 141 orang lainnya terinfeksi, seperti dilaporkan media setempat, Selasa.

"Sejak pekan pertama pengawasan sampai 33 pekan ke depan, kami telah mengonfirmasi 141 kasus, dengan 10 kematian," kata Dr. Aime Alengo, pejabat kesehatan di Provinsi Sakuru kepada situs berita lokal Actualite.

Alengo mengatakan cacar monyet kebanyakan menyerang mereka yang berusia di bawah 5 tahun. "Kami merupakan satu dari segelintir negara di Afrika yang masih memiliki kasus penyakit ini."

Baca juga: Ketahui gejala dan tanda cacar monyet
Baca juga: Kenali beda cacar monyet dibanding cacar air


Dalam Buletin Health Emergencies  pada Selasa, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Kawasan Afrika mengatakan: "Salah satu tantangan besar dalam keadaan darurat saat ini di antaranya memperoleh dana yang dibutuhkan untuk menanggapi semua wabah yang sedang terjadi di negara tersebut."

Virus cacar monyet merupakan genus orthopoxvirus yang menyebabkan suatu penyakit dengan gejala serupa, namun tidak begitu parah, dengan cacar. Sementara cacar berhasil diberantas pada 1980, cacar monyet masih terus terjadi di sejumlah negara di Afrika Tengah dan Barat.

Virus cacar monyet kebanyakan ditularkan ke manusia dari hewan liar seperti pengerat dan primata, namun penularan antar manusia juga bisa terjadi, menurut WHO.

Negara Afrika Tengah itu juga sedang berjuang melawan campak dan wabah COVID-19.

Pekan ke-32 (9 Agustus 2020), 418 kasus campak, termasuk tujuh kematian dilaporkan di negara tersebut.

Provinsi yang melaporkan sebagian besar kasus di antaranya Provinsi Sankuru dan South Ubangi.

Rasio kematian tinggi terjadi di Maniema dan Sankuru. Sejak 2019 total 380.766 kasus campak dan 7.018 kematian dilaporkan di negara tersebut, menurut kantor WHO cabang Afrika.

Sumber: Anadolu

Baca juga: Juanda siapkan ruang karantina antisipasi cacar monyet
Baca juga: Kemenkes tegaskan monkeypox tidak ada di Indonesia
Pewarta : Asri Mayang Sari
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020