BPBD: 34 bangunan di Aceh Tengah rusak diterjang puting beliung

BPBD: 34 bangunan di Aceh Tengah rusak diterjang puting beliung

Rumah warga di Kampung Jurusen, Kecamatan Pegasing, Aceh Tengah, rusak diterjang angin puting beliung, Selasa (25/8/2020) sore. ANTARA/HO-BPBD Aceh Tengah

Banda Aceh (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah menyatakan 34 bangunan di empat desa di kabupaten tersebut rusak diterjang angin puting beliung.

Kepala Pelaksana BPBD Aceh Tengah Ishak di Takengon, ibu kota Kabupaten Aceh Tengah, Rabu, mengatakan puting beliung melanda empat desa di Kecamatan Pegasing tersebut pada Selasa (25/8) sore.

"Dalam bencana tersebut, empat warga mengalami luka ringan dan 20 jiwa dari lima kepala keluarga terpaksa mengungsi di lapangan bola voli," kata Ishak menyebutkan.

Baca juga: Pohon tumbang di Aceh timpa sepeda motor dan kabel listik PLN

Ishak menyebutkan bangunan rusak diterjang puting beliung tersebut di antaranya di Kampung Belang Bebangka tujuh unit, Kampung Kayu Kul 12 unit rumah, Kampung Jurusen 12 rumah dan dua fasilitas umum rusak serta satu rumah rusak di Kampung Kute Lintang. Dari semua bangunan yang terkena puting beliung itu 15 unit di antaranya rusak berat.

BPBD Aceh Tengah, kata Ishak, juga telah mendirikan tenda-tenda pengungsian dan dapur umum. Serta membantu membersihkan rumah penduduk dari dampak bencana tersebut.

"Selain merusak bangunan dan rumah-rumah warga, puting beliung disertai angin kencang yang terjadi pukul 17.30 WIB tersebut juga banyak menumbangkan pohon," kata Ishak.

Baca juga: Banjir dan longsor landa enam daerah di Aceh

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda Banda Aceh mengimbau masyarakat mewaspadai fenomena cuaca ekstrem seperti hujan lebat disertai kilat petir dan angin kencang.

Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda Banda Aceh Zakaria menyebutkan hujan lebat disertai petir dan angin kencang berpotensi di wilayah tengah serta pesisir barat selatan Aceh.

"Cuaca ekstrem terjadi akibat sirkulasi siklonik yang terpantau di Samudera Hindia bagian barat dan terdapat belokan angin, sehingga intensitas pembentukan awan konvektif yang meningkatkan potensi pembentukan awan hujan," kata Zakaria.

Baca juga: Banjir melanda delapan desa di Pidie Jaya, Aceh
Pewarta : M.Haris Setiady Agus
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2020