Dubes: Lembaga Dana Investasi Rusia tawarkan Sputnik V ke Indonesia

Dubes: Lembaga Dana Investasi Rusia tawarkan Sputnik V ke Indonesia

Sampel vaksin melawan virus corona baru (COVID-19) yang dikembangkan oleh Gamaleya Research Institute of Epidemiology and Microbiology, di Moskow, Rusia, (6/8/2020). Foto di buat tanggal 6 Agustus 2020. ANTARA/REUTERS/HO-The Russian Direct Investment Fund (RDIF)/aa.

Jakarta (ANTARA) - Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmila Vorobieva mengatakan Lembaga Dana Investasi   Rusia (Russian Direct Investment Fund/RDIF) menawarkan Sputnik V, vaksin COVID-19, ke Indonesia.

"Penawaran Sputnik V ini masuk dalam investasi maupun percobaan uji klinis," ujar Dubes Lyudmila Vorobieva dalam konferensi pers secara virtual di Jakarta, Rabu.

Lembaga Dana Investasi  di Rusia itu akan bekerja sama dengan Indonesia dalam penjualan maupun distribusi saat uji tahap klinis rampung.

"Lembaga tersebut juga siap untuk mengadakan uji klinis di Indonesia dan membuat beberapa komponen vaksin itu," ujar Dubes Lyudmila Vorobieva.

Baca juga: Meksiko bakal uji 2.000 dosis vaksin COVID-19 buatan Rusia
Baca juga: Rusia publikasikan data riset vaksin Sputnik V


Ia mengungkapkan bahwa proposal penawaran vaksin tersebut sudah dikirimkan ke pemerintah Indonesia.

"Namun, pihak Indonesia belum memberikan respons pasti terkait tawaran Sputnik V, vaksin COVID-19 dari Rusia," kata Dubes Lyudmila Vorobieva.

Ia mengatakan bahwa harga Sputnik V diperkirakan dua sampai tiga kali lebih murah dari vaksin lain.

"Harga dari vaksin Rusia, Sputnik V, berdasarkan estimasi kami dua sampai tiga kali lebih murah dari vaksin lainnya," kata dia.

Dubes Lyudmila Vorobieva juga menegaskan bahwa Sputnik V sangat aman untuk digunakan masyarakat umum.

Sputnik V merupakan vaksin COVID-19 terdaftar pertama yang didasarkan pada ide terobosan dari kombinasi unik dua jenis vektor (Ad5 dan Ad26) yang memungkinkan untuk membentuk kekebalan jangka panjang.

"Gamaleya Institute menggunakan dua vektor adenovirus (sekelompok virus yang menyebabkan infeksi pernapasan), yaitu Ad5 dan Ad26. Sedangkan perusahaan-perusahaan farmasi lain hanya menggunakan satu vektor," kata dia.

Pendekatan tersebut memiliki keunggulan yang jelas dibandingkan perusahaan farmasi lain yang hanya menggunakan satu vektor.

Selain itu, penggunaan teknologi yang digunakan untuk membuat vaksin tersebut sudah dikembangkan lama dan bertahun-tahun.

Uji klinis Sputnik V tahap pertama dan kedua berhasil diselesaikan pada bulan Juni-Juli.

Hasil uji klinis tahap pertama dan kedua menjanjikan. Dengan demikian Rusia akan melanjutkan uji klinis tahap ketiga pada minggu depan, ungkap Dubes Lyudmila Vorobieva.

Baca juga: Dubes Rusia: uji klinis tahap ketiga Sputnik V minggu depan
Baca juga: Belarus menjadi penerima asing pertama vaksin COVID-19 buatan Rusia
Pewarta : Azis Kurmala
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020