Normal baru tuntut warga berkerja dengan cara berbeda

Normal baru tuntut warga berkerja dengan cara berbeda

Penguasaan teknologi menjadi hal penting di era "new normal". (HO/Prasmul)

Jakarta (ANTARA) - Rektor Universitas Prasetiya Mulya, Prof Dr Djisman Simandjuntak mengatakan normal baru menuntut warga di ibu kota dan kota-kota besar lainnya bekerja dengan cara berbeda, yakni mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan.

"Cara bekerja yang berbeda, yakni berpikir kritis, menguasai berbagai hal dan kreatif dalam menghadapi berbagai perubahan yang berlangsung cepat," kata Djisman dalam Prasmul Day bertajuk Think Limitless di Jakarta, Senin.

Dalam kegiatan yang diselenggarakan pada10-16 Agustus 2020 secara virtual ini, Djisman mengatakan, kondisi yang tidak pasti menuntut pembelajaran yang lebih kekinian, berorientasi masa depan dan harus berkelanjutan.

Pesatnya perkembangan teknologi, kata dia, menuntut kemampuan warga bisa menguasai segala sesuatu dan cepat beradaptasi.

"Akrab disebut sebagai Revolusi Industri 4.0, masyarakat dihadapkan dapat beralih ke pola hidup baru dengan menguasai informasi, pertukaran data dan komunikasi," kata Djisman.

Penanaman teknologi cerdas yang dapat terhubung dengan berbagai bidang telah mengubah kehidupan manusia secara signifikan serta mengundang perkembangan industri dalam laju yang jauh lebih cepat dari era sebelumnya.

Baca juga: 530 perusahaan di Jaksel terapkan sistem bekerja dari rumah

Dalam rapat terbatas "Perencanaan Transformasi Digital" di Istana Merdeka, Presiden Joko Widodo mengungkapkan kekhawatirannya perihal posisi transformasi digital Indonesia yang tergolong rendah dibandingkan negara lain.

Menurut Presiden Jokowi, ketertinggalan tersebut dapat tersusul dengan mencetak SDM bertalenta digital.

Untuk menyanggupi amanat Presiden Jokowi, kata Djisman, SDM Tanah Air harus memiliki ilmu mumpuni di bidang sains dan teknologi, yang terbungkus dalam keterampilan serta mindset kewirausahaan.

Pembekalan ilmu yang modern dan dapat diaplikasikan terus dikedepankan agar siap menghadapi industri ketika lulus.

Selain pola pikir sebagai pengusaha, masyarakat akan terbiasa untuk berpikir di luar zona nyaman, mengambil kesempatan dan beradaptasi terhadap segala kemungkinan, termasuk perubahan di industri.

Karena itu, berpikir tanpa batas menjadi satu perspektif dan cara belajar baru di masa ini untuk apapun aspirasi karir. "Baik sebagai pengusaha berbasiskan teknologi, engineer dengan pemahaman bisnis maupun profesional dengan skill yang komprehensif," kata Djisman.

Artinya, Wakil Rektor I Bidang Pembelajaran Universitas Prasetiya Mulya Profesor Agus W. Soehadi, setiap individu dituntut memiliki kemampuan teknis namun tetap humanis yang tak tergantikan oleh mesin seperti empati, imajinasi dan pemikiran kritis.
Baca juga: Anies perketat pengawasan dunia usaha terkait klaster perkantoran
Pewarta : Ganet Dirgantara
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2020