Kelompok pribumi Australia blokir rute akses Uluru sebab takut pandemi

Kelompok pribumi Australia blokir rute akses Uluru sebab takut pandemi

Orang-orang memblokir masuk ke Taman Nasional Uluru-Kata Tjuta, rumah bagi situs adat Uluru Australia yang dihormati, bagi pengunjung dari hotspot penyakit coronavirus (COVID-19), di Taman Nasional Uluru-Kata Tjuta, Australia 3 Agustus 2020. ANTARA/Korporasi / Handout Aborigin Komunitas Mutitjulu melalui REUTERS/pri.

Sydney (ANTARA) - Australia telah menutup taman nasional situs pribumi Uluru yang dihormati setelah beberapa orang di komunitas pribumi memblokir rute akses ke situs tersebut karena khawatir pengunjung dapat menularkan infeksi virus corona baru.

Australia sedang berjuang melawan gelombang baru virus corona baru yang mematikan, dengan area tenggara negara bagian Victoria terguncang oleh ratusan kasus COVID-19.

Sementara itu, penduduk asli Australia tampak menghadapi risiko yang lebih besar karena mereka mengalami insiden kesehatan lain yang lebih tinggi.

"Hal itu terserah pada para wisatawan untuk menjauh jika mereka datang dari zona merah (COVID-19) atau sakit," kata Thalia Bohl-Van Den Boogaard, perwakilan dari sekelompok penduduk asli Australia yang memprotes kunjungan wisatawan, kepada Reuters melalui telepon.

Beberapa pengunjuk rasa dari komunitas pribumi Australia berdiri di jalan masuk utama ke taman nasional situs Uluru pada Selasa, di mana jumlah demonstaran turun dari sebelumnya yang mencapai antara 30 dan 40 orang yang telah membuat para turis berbalik pergi sebelum tempat wisata ditutup.

Kelompok pribumi Australia khawatir dengan kedatangan di kota terdekat mereka sebanyak 39 orang dari kota Brisbane, yang dinyatakan sebagai zona merah COVID-19, kata Bohl-Van Den Boogaard, kepala eksekutif Badan Gabungan Aborigin Komunitas Mutitjulu.

"Orang-orang di sini telah melakukan isolasi di komunitas mereka selama berbulan-bulan dan berbulan-bulan untuk menahan penyebaran, dan sekarang mereka tidak diberikan hal untuk tetap melakukan hal yang benar," ujar Den Boogaard yang mendesak para wisatawan untuk tidak datang.

Sekitar 350 wisatawan telah mengunjungi taman nasional situs Uluru setelah pembukaan kembali perbatasan negara pada Juli di Australia setelah sebelumnya ditutup sejak Maret pada saat gelombang pertama pandemi COVID-19, kata Bohl-Van Den Boogaard.

Parks Australia, pengelola kawasan warisan budaya dan situs alam yang dikelola pemerintah, mengatakan pihaknya bekerja sebagai bagian dari "tanggapan kolektif" untuk meminimalkan risiko penularan.

"Atas permintaan Badan Gabungan Aborigin Komunitas Mutitjulu, Taman Nasional Uluru-Kata Tjuta akan ditutup," kata seorang juru bicara mengatakan kepada Australian Broadcasting Corp (ABC) pada Senin.

Situs monolit setinggi 348 meter yang terdaftar di UNESCO sebagai situs Warisan Dunia, yang sebelumnya dikenal sebagai Ayers Rock, akhirnya tertutup bagi wisatawan. Tahun lalu situs itu dilarang untuk menjadi tempat pendakian.

Seorang juru bicara Parks Australia mengatakan taman nasional itu akan tetap ditutup selama berlangsungnya diskusi dengan kelompok pribumi Australia dan para pejabat wilayah federal Northern Territory Australia untuk meningkatkan pemeriksaan dan pengujian kesehatan di bandara setempat dan di kota Yulara, yang dikunjungi sekelompok orang dari Brisbane.

Sumber: Reuters
Baca juga: Mayoritas penduduk Australia dukung pengakuan terhadap Aborigin
Baca juga: Tony Abbott akan tinggal sepakan bersama suku Aborigin
Baca juga: Oposisi Australia bersatu untuk mengakui Suku Aborigin
Pewarta : Yuni Arisandy Sinaga
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2020