Akademisi: PLTN dapat dibangun untuk dukung pusat ekonomi baru

Akademisi: PLTN dapat dibangun untuk dukung pusat ekonomi baru

Ilustrasi - Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). (ANTARA/HO-Istimewa)

Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Mukhtasor mengatakan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dapat dibangun untuk mendukung pusat ekonomi baru di luar wilayah Jawa dan Bali.

"Membangun PLTN jangan di Jawa Bali tapi letaknya di luar Jawa, dipilih sekaligus diproyeksikan sebagai pusat industri baru dan pusat pertumbuhan ekonomi baru," kata Mukhtasor dalam seminar virtual, Jakarta, Kamis.

Mukhtasor menuturkan ketahanan energi juga dapat didukung dengan diversifikasi sumber energi dengan melibatkan PLTN di dalamnya.

"Memang kebutuhan kita atas pasokan listrik yang kuat itu membutuhkan PLTN karena Indonesia ini membutuhkan pasokan yang bervariasi bukan hanya satu jenis, energi terbarukan tetap diserap sesuai potensi lokal, gas dipotimalkan, dan sebagainya," ujarnya.

Baca juga: Peneliti: PLTN jangan jadi alternatif terakhir sumber energi

Baca juga: Akademisi: PLTN bisa masuk dalam bauran energi Indonesia


Dia juga menuturkan target energi baru terbarukan (EBT) 23 persen pada bauran energi nasional pada 2025 juga sulit dicapai jika PLTN tidak masuk.

Sekalipun target EBT mampu mencapai 23 persen dari bauran nasional, namun itu diperkirakan tidak terjadi dalam tahun 2025, tapi suatu saat mungkin bisa, tapi membutuhkan waktu yang lebih lama.

Dia juga menuturkan untuk mendukung sistem transportasi berbasis listrik, maka masuk akal kalau sumber energi juga didukung dari pembangkit listrik tenaga air dan nuklir.

Untuk itu, jika ingin membangun ketahanan energi dan mengurangi ketergantungan impor di masa depan, maka PLTN harus dipersiapkan dan dijadikan sumber energi.

Baca juga: Akademisi: Studi kelayakan PLTN butuh waktu sampai dua tahun

Baca juga: Akademisi: PLTN yang dibangun di Indonesia mulai dari generasi III+
Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020