Kemenparekraf pertahankan eksistensi pariwisata di pasar Thailand

Kemenparekraf pertahankan eksistensi pariwisata di pasar Thailand

Direktur Pemasaran Pariwisata Regional I, Vinsensius Jemadu, mengatakan pentingnya menginisiasi sejumlah pertemuan untuk memperkuat eksistensi pariwisata Indonesia pada era normal baru dan mempromosikan destinasi Indonesia kepada publik yang lebih luas di mancanegara khususnya pasar Thailand dan Indochina. (Birkom Kemenparekraf)

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) berupaya untuk mempertahankan eksistensi pariwisata Indonesia di pasar Thailand dan Indochina.

Direktur Pemasaran Pariwisata Regional I, Vinsensius Jemadu di Jakarta, Jumat, mengatakan pihaknya menginisiasi sejumlah pertemuan untuk memperkuat eksistensi pariwisata Indonesia pada era normal baru dan mempromosikan destinasi Indonesia kepada publik yang lebih luas di mancanegara khususnya pasar Thailand dan Indochina.

“Hal ini merupakan langkah Kemenparekraf agar pariwisata Indonesia tetap terjaga eksistensinya di pasar Thailand dan Indochina sehingga harus tetap menjalin kerja sama dengan mitra-mitra industri pariwisata. Indonesia memberikan informasi terbaru kepada para pelaku industri di Thailand dan Indochina terkait apa yang sudah dikerjakan oleh Indonesia untuk mempersiapkan destinasi wisata dalam menyambut wisatawan mancanegara,” ujar Vinsensius.

Baca juga: Pelaku pariwisata diminta terapkan protokol kesehatan dengan benar

Upaya itu salah satunya dilakukan dengan menggelar Seminar Daring Internasional khusus pasar Thailand dan Indochina demi menjaga koneksi terhadap pasar internasional serta mempersiapkan diri dalam menghadapi era adaptasi kebiasaan baru melalui penerapan protokol kesehatan di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada Mei 2020 mengalami penurunan sebesar 86,90 persen dibandingkan jumlah kunjungan pada Mei 2019.

“Data tersebut menunjukkan tantangan yang harus kita hadapi. Pola permintaan wisatawan berubah akibat pandemi COVID-19. Wisatawan akan mengutamakan kesehatan dan keselamatan selama berwisata. Oleh karena itu, Kemenparekraf melakukan berbagai upaya, mulai dari upaya internal maupun eksternal. Salah satu upaya eksternal yang kami lakukan adalah promosi mengenai kampanye InDOnesia CARE (I DO CARE) yang lebih memfokuskan kepada protokol Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan, dan Kelestarian Lingkungan (CHSE) di masing-masing destinasi, misalnya di Yogyakarta,” papar Vinsesius.

Baca juga: Kemenparekraf terbitkan panduan protokol kesehatan di hotel-restoran

Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya dipilih karena merupakan destinasi wisata favorit wisatawan mancanegara asal Thailand dan Indocina serta memilih Yogyakarta karena kemiripan kebudayaan, makanan, dan kesamaan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Thailand dan Indochina.

Direktur Pemasaran dan Pelayanan PT. Taman Wisata Candi, Hetty Herawati, menjelaskan bahwa Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko sebagai destinasi favorit wisatawan dari Thailand dan Indochina selama ini, saat ini telah melakukan berbagai kesiapan dalam melaksanakan protokol kesehatan di era normal baru.

Wisatawan yang hendak memasuki kawasan destinasi wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko akan dicek suhu tubuhnya, diwajibkan menggunakan masker, mencuci tangan, melakukan physcal distancing, serta membeli tiket secara daring.

“Kami telah melakukan pembaruan secara keseluruhan di area Taman Wisata Candi dengan menerapkan standar protokol kesehatan dan kami siap untuk menyambut wisatawan yang akan datang. Karena kesehatan dan keselamatan wisatawan merupakan prioritas kami,” kata Hetty.

Baca juga: Kemenparekraf gelar Gerakan BISA di sejumlah destinasi di Kepri

Manajer Operasional Miramar Service Thailand, Prinya Patharaphum, menegaskan bahwa Candi Borobudur dan Prambanan menjadi salah satu destinasi wisata utama bagi wisatawan Thailand.

Oleh karena itu, penting bagi pihak pengelola destinasi wisata tersebut untuk mempersiapkan protokol kesehatan di masa adaptasi kebiasaan baru ini.

“Selain mengunjungi Candi Borobudur dan Prambanan, wisatawan Thailand juga akan menyasar tempat kuliner dan tempat perbelanjaan daerah setempat seperti jalan Malioboro, maka sebaiknya sektor-sektor tersebut juga ikut mempersiapkan diri menyambut wisatawan domestik maupun mancanegara, khususnya wisatawan dari Thailand,” ujar Prinya.

Baca juga: Yogyakarta perketat aturan, wisatawan diwajibkan bawa surat sehat

Baca juga: Kemenparekraf: Protokol kesehatan kunci kebangkitan pariwisata

 
Pewarta : Hanni Sofia
Editor: Satyagraha
COPYRIGHT © ANTARA 2020