Menyelamatkan gambut rupawan yang sensitif demi kehidupan

Menyelamatkan gambut rupawan yang sensitif demi kehidupan

Ilustrasi - Badan Restorasi Gambut (BRG) bekerja sama dengan Pemprov Kalbar membuat sejumlah kanal di kawasan lahan gambut yang mudah terbakar di musim kemarau, guna melakukan pembasahan pada lahan gambut seluas 42.755 hektare di Kalbar. (ANTARA/Andilala)

Jakarta (ANTARA) - Ekosistem gambut terbentuk dalam rentang waktu yang sangat panjang, bahkan hingga mencapai ribuan tahun lamanya.

Sisa-sisa pohon, rumput, lumut, jasad hewan yang tidak sempat membusuk sempurna saat air laut naik pada akhir zaman es menjadikannya materi organik dengan kemampuan menyimpan karbon dua kali lebih banyak dibandingkan dengan hutan tanah mineral yang ada di seluruh dunia.

Endapan tebal materi organik gambut menyerupai sepon yang mampu menyimpan air begitu besar, setidaknya lima kali lipat dari beratnya, sehingga dapat menjadi sumber air yang menyelamatkan masyarakat saat menghadapi masa kekeringan.

Sebaliknya jika terganggu, air gambut akan mudah sekali mengalir keluar dan menjadi kering serta mudah terbakar, sehingga karbon akan terlepas ke udara dan menjadi sumber emisi gas rumah kaca (GRK) terbesar. Namun, saat musim penghujan, banjir mudah sekali terjadi karena kemampuan "sepon" menyerap air sudah rusak.

Peneliti senior Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof Tukirin sempat mengatakan kebakaran hutan dan lahan gambut tidak akan terjadi secara alami, akan ada campur tangan manusia di dalamnya.

Pengelolaan ekosistem yang tidak tepat menjadi penyebabnya, sehingga mengubah situasi lingkungan di sana.

Hutan dan lahan gambut yang terbakar tidak akan bisa dikembalikan ke kondisi semula, mengingat proses pembentukannya butuh waktu ribuan tahun. Kebakaran yang terjadi pada 2015 telah mematikan 80 persen lebih pepohonan penyusun ekosistem tersebut.

Hasil penelitian yang pernah dilakukannya menunjukkan hutan rawa gambut umumnya mati secara keseluruhan, tidak ada pohon yang mampu bertahan setelah kebakaran, apalagi kebakaran berulang akan memusnahkan seluruh jenis tumbuhan primer.

Baca juga: Gerbang Tani Kalbar berharap BRG tidak dibubarkan

Ekosistem yang akan hidup pada lahan gambut yang sudah terbakar itu, tidak akan sama seperti sedia kala karena ada proses perubahan lingkungan dan ekologi.

Tatanan ekologi sudah hancur, mikroba, hewan, serta tumbuhan pasti tidak akan sama seperti sedia kala, terlebih lagi unsur haranya. Hanya tumbuhan paku-pakuan yang hidup di rawa gambut dangkal (berkedalaman hingga tiga meter) bekas terbakar, tidak ada tumbuhan berbunga yang mampu bertahan.

Sementara di gambut dalam (berkedalaman lebih dari tiga meter) bekas terbakar, perlu upaya lebih untuk dapat menanaminya lagi dengan tumbuhan asli seperti jelutung, ramin, maupun ulin.

                                                                         Membasahi gambut
Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG) Nazir Foead mengatakan keberadaan badan yang dipimpinnya memang berkaitan erat dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) besar pada 2015.

Presiden Joko Widodo pada 2016 membentuk badan khusus untuk menangani gambut bekas terbakar tersebut, dengan tugas membasahi lahan-lahan gambut yang salah urus dan kering sehingga mudah terbakar.

BRG, kata dia, diberikan target untuk memperbaiki tata kelola air gambut seluas lebih dari 2,6 juta hektare (ha) selama lima tahun, sejak 2016. Restorasi gambut dilakukan di tujuh provinsi prioritas, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Papua.

Menurut dia, sangat penting membasahi lagi gambut bekas terbakar dalam upaya restorasi sebagai bentuk pencegahan. Karena, jika hutan dan lahan tersebut kembali terbakar maka biaya pemadamannya akan sangat mahal dan sangat sulit dipadamkan, bahkan dengan jutaan liter air yang turunkan dengan cara pemboman air (water bombing).

Badan khusus itu, ia mengatakan, melapor pada Presiden melalui Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, sehingga ada perhatian khusus dan juga mengajak pemerintah daerah, dunia usaha, masyarakat untuk bersama-sama mengelola, memperbaiki tata kelola ekosistem gambut, sekaligus membuatnya menjadi bermanfaat bagi masyarakat.

Jika kubah gambut yang bisa memiliki kedalaman hingga 20 atau 30 meter harus dijaga dengan konservasi sehingga dapat menyimpan karbon dan air, maka untuk gambut tipis dapat dimanfaatkan untuk pertanian, peternakan, dan budi daya perikanan rawa.

Baca juga: BRG dorong pemda rawan karhutla di Sumsel kembangkan PLTB

Nazir mengatakan banyak pakar tanah di Indonesia dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Sriwijaya (Unsri) dan seterusnya memang menyarankan untuk melakukan pengelolaan tata air di area bekas terbakar tersebut. Tinggi muka air (TMA) di lahan gambut harus dijaga, salah satu caranya dengan membuat sekat kanal.

Selain agar gambut tidak menjadi kering, juga untuk menjaga tingkat keasaman lahan tersebut agar tetap dapat ditumbuhi tanaman.

"Karena berawa dan agak asam, jadi perlu tumbuhan yang bisa tahan di lahan basah dan tahan keasaman. Kecuali gambut tipis dekat sungai yang ketika dapat luapan air sungai membawa mineral, itu bagus sekali untuk pertanian," ujar dia.

BRG melakukan 3R, yakni pembasahan, revegetasi, revitalisasi sumber mata pencaharian (rewetting, revegetation, revitalization livelihood). Cara itu disebutkan yang diyakini tidak hanya berdampak baik bagi ekosistem tetapi juga peningkatan ekonomi masyarakat.

Selama periode 2017 hingga 2019, BRG telah membangun 13.766 sumur bor, 6.353 sekat kanal, 152 unit kanal timbun, 1.185 ha revegetasi, 520 paket revitalisasi dan 394 Desa Peduli Gambut (DPG) dengan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) di tujuh provinsi prioritas restorasi gambut.

Pada periode 2016 hingga 2019, jumlah sumur bor yang dibangun bersama mitra mencapai 1.902, 585 sekat kanal, 257 unit timbul kanal, serta Bantuan Ekonomi Produktif (BEP) sebanyak 413 paket.

Nazir mengatakan sejauh ini apa yang dikerjakan BRG dalam "emergency mood" karena ingin menyelesaikan masalah sesegera mungkin, sementara hutan dan lahan gambut yang terbakar pada 2015 cukup luas dan parah di tiga pulau, seperti Sumatera, Kalimantan dan Papua.

Baca juga: Pakar: Lahan gambut tak mungkin kembali ke kondisi alami

Perintah Presiden selanjutnya agar BRG, KLHK, dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terus memperbaiki tata kelola gambut bukan per titik tetapi sebagai satu ekosistem gambut.

"Jadi pendekatannya memang tidak bisa kerja lima tahun, harus setidaknya 25 tahun, karena perubahannya baru akan terlihat dalam fase per fase atau segmen per segmen," ujar dia.

Dengan kondisi dan sifat gambut yang khusus tersebut, Nazir membahasakan ekosistem unik tersebut seperti orang yang rupawan, harus dijaga dengan baik agar tidak hilang.

                                                                  Desa Peduli Gambut
Deputi III Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi, dan Kemitraan Badan Restorasi Gambut Myrna A. Safitri mengatakan hingga Juni 2020 lembaga tersebut telah memiliki 525 Desa Peduli Gambut untuk membantu pemulihan ekosistem gambut di berbagai provinsi.

Untuk Provinsi Papua ada 12 kampung yang didampingi sejak 2017. Untuk provinsi lain, yaitu 123 desa di Riau, 44 desa di Jambi, 73 desa di Sumatera Selatan, 90 desa di Kalimantan Barat, 147 desa di Kalimantan Tengah, dan 37 desa di Kalimantan Selatan.

Ia mengatakan Program Desa Peduli Gambut tersebut menempatkan desa atau kampung di dalam suatu lanskap ekosistem yang disebut hidrologis gambut.

Selain itu, memerlukan adanya kerja sama dalam upaya penyelamatan lingkungan termasuk kerja sama untuk membangun sosial ekonomi pedesaan.

Kerja sama tersebut diwadahi dalam satu nomenklatur Undang-Undang Desa yang disebut dengan kawasan perdesaan.

Secara umum, tujuan Desa Peduli Gambut membantu dan memfasilitasi desa agar bisa meningkatkan status yang diukur oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) melalui indeks desa membangun.

Dalam upaya itu, kearifan dan pengetahuan lokal sebagai sebuah modal penting dalam upaya pelestarian lingkungan dan pengembangan ekonomi.

Baca juga: BRG ingatkan ancaman karhutla di tengah pandemi COVID-19
Baca juga: KLHK optimistis penurunan emisi tercapai jika gambut tidak terbakar
Baca juga: Cegah kebakaran, Presiden minta penataan lahan gambut secara konsisten

 

Pewarta : Virna P Setyorini
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2020