BKF: Penanganan COVID-19 kunci RI menuju ekonomi terbesar ke-5 dunia

BKF: Penanganan COVID-19 kunci RI menuju ekonomi terbesar ke-5 dunia

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu melalui tangkapan layar ketika memaparkan perkembangan pemulihan ekonomi nasional dalam keterangan pers daring di Jakarta, Kamis (4/6/2020). ANTARA/Dewa Wiguna.

Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu menyebutkan upaya penanganan pandemi COVID-19 pada 2020 merupakan kunci ekonomi Indonesia untuk menjadi yang terbesar ke-5 di dunia.

“Kerja keras penanganan COVID-19 pada 2020 akan sangat menentukan pemulihan di tahun-tahun berikutnya,” katanya di Jakarta, Rabu.

Perkiraan itu seiring dengan data Produk Domestik Bruto-Paritas Daya Beli dari World Bank dan IMF yang memprediksikan Indonesia menjadi negara perekonomian terbesar ke-5 di dunia pada 2024.

Menurut data tersebut, pada 2024 akan terjadi pergeseran susunan perekonomian terbesar di dunia yaitu Asia mendominasi posisi lima teratas sehingga menggeser beberapa negara Eropa.

Indonesia dan India diperkirakan menggantikan posisi Inggris dan Jerman setelah saat ini China dan Jepang telah berada di peringkat lima besar perekonomian di dunia.

Febrio mengatakan salah satu alasan dibalik pergeseran dominasi ekonomi ini bukan hanya bergantung pada upaya pemulihan pada 2020 namun juga adanya pertumbuhan kelompok kelas menengah di Asia.

Tak hanya itu, sisi demografi turut berkontribusi dalam pergeseran dominasi Asia.

Kemudian menurut World Economic Forum, Indonesia, Fillipina, dan Malaysia akan menjadi pemimpin perekonomian Asia dengan motor pertumbuhan berupa meningkatnya angkatan kerja.

Perkiraan susunan ekonomi terbesar di dunia tersebut menggunakan perbandingan proyeksi pertumbuhan ekonomi beberapa tahun ke depan termasuk pada 2020 serta proses pemulihan ekonomi di tahun-tahun berikutnya.

Berdasarkan proyeksi World Bank dan IMF, beberapa negara dengan PDB terbesar pada tahun ini diprediksi akan mengalami kontraksi seperti AS dan Jepang minus 6,1 persen (yoy), Jerman minus 7,8 persen (yoy), dan Brazil minus 8 persen (yoy).

Sementara prediksi pertumbuhan ekonomi untuk negara-negara Asia pada tahun ini juga sangat rendah seperti Malaysia terkontraksi 3,1 persen (yoy), Thailand turun 5 persen (yoy) dan Filipina minus 1,9 persen (yoy).

Meski demikian, Indonesia dan China diperkirakan mengalami pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dibandingkan negara Asia lainnya yakni masing-masing nol persen atau tidak tumbuh dan 1 persen (yoy).

“Prediksi ini perlu kita syukuri dan perlakukan sebagai motivasi bagi Indonesia. Pemerintah harus terus melakukan kebijakan yang tepat dalam rangka penanganan pandemi COVID-19,” kata Febrio.

Baca juga: Kepala BKF: Ekonomi dunia melambat dengan banyak ketidakpastian
Baca juga: Kemenkeu ingatkan pentingnya penyaluran bansos untuk dorong konsumsi
Baca juga: Menko Airlangga: Stimulus Rp1.039 triliun harus terealisasi akhir 2020
Pewarta : Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2020