BMKG: 64 persen wilayah Indonesia memasuki musim kemarau

BMKG: 64 persen wilayah Indonesia memasuki musim kemarau

Kepala Bidang Analisis Variabilitas Iklim BMKG Dr Indra Gustari. (ANTARA/Muhammad Zulfikar)

Jakarta (ANTARA) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan berdasarkan evaluasi yang dilakukan pada akhir Juni 2020 sebanyak 64 persen wilayah di Indonesia sudah memasuki musim kemarau.

"Jadi masih ada 36 persen wilayah kita yang musim hujan," kata Kepala Bidang Analisis Variabilitas Iklim BMKG Dr Indra Gustari saat konferensi video yang dipantau di Jakarta, Minggu.

Wilayah-wilayah yang berada pada musim hujan tersebut, masih berpotensi mengalami curah hujan yang tinggi. Hal itu termasuk pula pada daerah-daerah yang belum teridentifikasi musim kemaraunya.

Hasil evaluasi tersebut, kata dia, sejalan dengan titik pengamatan di permukaan yang dinamakan pos hujan. Berdasarkan data atau peta pos hujan, daerah Jawa Barat, Bali hingga Nusa Tenggara sudah 21 hari, bahkan satu bulan tidak mengalami hujan.

"Bahkan ada satu titik di Kupang sudah 70 hari tidak turun hujan," kata dia.

Baca juga: 51,2 persen wilayah Indonesia telah alami musim kemarau

Terkait curah hujan di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, yang baru saja dilanda banjir bandang, BMKG melihat curah hujan cukup tinggi di daerah tersebut hampir sepanjang tahun.

Baca juga: Jawa Tengah bagian selatan segera memasuki musim kemarau

"Hampir sepanjang tahun curah hujannya di atas 50 milimeter dan puncak hujan di daerah Kecamatan Masamba, yaitu akhir Maret dan Juni," ujarnya.

Baca juga: BMKG: Awal musim kemarau di Jateng selatan mundur

Berdasarkan titik pengamatan di permukaan, menurut Indra Gustari, curah hujan di Kabupaten Luwu Utara pada 13 Juli atau pada saat terjadi banjir badang sebenarnya tidak tinggi dan berada di kriteria rendah, yaitu di bawah 50 milimeter selama 10 hari.

Namun, curah hujan sebelumnya, tepatnya 12 Juli, tergolong tinggi, yaitu di atas 50 milimeter dalam 10 hari. Sehingga banjir bandang tersebut tidak hanya disebabkan oleh curah hujan pada 13 Juli, namun akumulasi dari hari sebelumnya.
Pewarta : Muhammad Zulfikar
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2020