Sebanyak 14.483 jiwa mengungsi karena banjir bandang Luwu Utara

Sebanyak 14.483 jiwa mengungsi karena banjir bandang Luwu Utara

Warga korban banjir bandang melintas di sekitar masjid yang dipenuhi material lumpur di Masamba, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, Jumat (17/7/2020). Hingga hari ini, jumlah korban meninggal mencapai 32 orang sementara puluhan lainnya masih dalam pencarian. ANTARA FOTO/Abriawan Abhe/pras.

Makassar (ANTARA) - Sebanyak 14.438 jiwa dari total 3.627 Kepala Keluarga (KK) mengungsi akibat banjir bandang disertai lumpur dan pasir pada lima kecamatan, di Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan.

"Laporan data sementara Kepala Pelaksana BPBD Luwu Utara yang diterima, jumlah korban jiwa sebanyak 32 orang, luka-luka 51 orang dan hilang 67 orang," kata Kepala BPBD Sulsel, Ni'mal Lahamang saat dikonfirmasi, Jumat.

Untuk data pengungsi pada lima kecamatan yang terdampak, kata dia, Kecamatan Masamba dengan jumlah terbanyak 7.748 jiwa, dari 1.937 Kepala Keluarga (KK).

Disusul Kecamatan Baebunta 5.808 jiwa dengan 1.452 KK, dan Kecamatan Sabang 927 jiwa, dengan jumlah 138 KK. Sedangkan Kecamatan Malangke dan Malangke Barat masih dilakukan pendataan.

Baca juga: KPU: Luwu Utara lanjutkan coklit di daerah tak terdampak banjir

Baca juga: Presiden perintahkan Menteri PUPR pulihkan Luwu pascabanjir bandang


Sementara rumah warga yang terdampak, sebanyak 4.202 unit, sekolah sembilan unit, rumah ibadah 13 unit, rincian 12 masjid dan satu gereja. Fasilitas kesehatan masing-masing satu Puskesmas, satu Laboratorium Kesda dan satu unit PSC serta delapan kantor pemerintahan.

Akses jalan yang terdampak, total sepanjang 12,8 kilometer, yakni jalan nasional Rumah Sakit-Tugu Masamba 0,8 kilometer, jalan lingkar Kota Masamba 4,2 kilometer, jalan nasional Tugu Coklat-SD Radda 1 kilometer, ruas jalan Sabang-Talang 1 kilo meter dan ruas jalan Masamba-Kamiri 1,2 kilometer.

Untuk fasilitas jembatan yang rusak tercatat sembilan unit, tiga jembatan gantung di desa Meli, satu jembatan gantung masing masing berada di Desa Kamiri, Desa Maipi dan Dusun Pongo serta Dusun Padang, Desa Malimbu. Sedangkan jembatan beton satu di Maroa, Desa Maipi dan satu di Desa Kamiri.

Selain itu, kerusakan fasilitas lainnya, 100 meter jaringan pipa air bersih terputus, bendungan irigasi rusak di Desa Radda sebanyak dua unit dengan bentangan 60 meter, satu pasar tradisional, usaha mikro 61 unit, dua kantor perbankan BTPN dan BRI serta empat unit jasa perbengkelan.

Bahkan dampak banjir disertai lumpur dan pasir juga meluber di Bandara Andi Djemma, Rumah Jabatan Bupati dan Wakil Bupati Luwu Utara. Selanjutnya, 219 lahan pertanian dan 241 hektare lahan perkebunan mengalami kerusakan, untuk hewan ternak masih didata.

Sebelumnya, bencana banjir bandang terjadi pada Senin, 13 Juli 2020, sekitar pukul 21.00 WITA. Dampak bencana teridentifikasi di lima kecamatan, yakni Kecamatan Masamba, Sabbang, Baebunta, Malangke dan Malangke Barat.*

Baca juga: Kepala BNPB tinjau kondisi Luwu Utara lewat udara

Baca juga: Empat sekolah di Luwu Utara tertimbun lumpur dan digenangi air
Pewarta : M Darwin Fatir
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020