Uni Eropa tinjau penularan virus corona melalui udara

Uni Eropa tinjau penularan virus corona melalui udara

Bendera Uni eropa berkibar di depan kantor pusatnya di Brussels, Belgia, (9/12/2019). (ANTARA/REUTERS/Yves Herman/aa.)

Brussels (ANTARA) - Badan kesehatan masyarakat Uni Eropa sedang meninjau risiko yang ditimbulkan oleh sistem ventilasi dan pengaturan lain di tempat kerja terhadap penularan virus corona baru melalui udara, selain melalui butiran air liur (droplet).

Pengumuman oleh Pusat Pencegahan Penyakit Eropa (the European Centre for Disease Prevention/ECDP) dapat menunjukkan komitmen untuk mengatasi penyebaran melalui kabut udara halus atau aerosol, yang diakui Badan Kesehatan Dunia (WHO) sebagai bahaya yang mungkin terjadi.

Andrea Ammon, yang mengetuai ECDP, mengatakan kepada Reuters, bahwa masih belum ada bukti yang menunjukkan proporsi kasus yang disebarkan oleh aerosol daripada butiran air liur, tetapi "kami tahu keduanya adalah kemungkinan".

Pekan lalu, WHO mengatakan virus itu dapat menyebar melalui aerosol (sistem tersebarnya partikel halus zat padat atau cairan dalam gas atau udara), meskipun belum dikonfirmasi. Badan kesehatan global itu mendapat tekanan dari para ilmuwan, yang menulis sepucuk surat yang menyerukan untuk mengakui potensi penyebaran melalui udara.

Ammon mengatakan ECDP sedang menilai risiko di tempat kerja, yang akan meningkat dengan penularan melalui udara, setelah beberapa wabah lokal di pabrik di seluruh Eropa, dengan yang paling serius di rumah jagal di Jerman pada Juni.

Baca juga: WHO ulas laporan yang sebut COVID-19 ditularkan lewat udara

"Kami sedang mengerjakan laporan teknis tentang pengaturan pekerjaan dan faktor risiko untuk wabah seperti itu," kata dia, dan menambahkan bahaya yang ditimbulkan oleh sistem ventilasi sedang ditinjau.

Sementara virus itu diyakini menyebar terutama melalui tetesan kecil air liur yang terkontaminasi, ECDP telah lama memperingatkan virus mungkin juga menyebar melalui udara di kabut.

Hal ini bisa menimbulkan risiko tinggi di ruang tertutup, terutama dengan ventilasi yang buruk, risiko yang bisa meningkat di musim dingin ketika orang-orang menghabiskan lebih banyak waktu di dalam ruangan.

Banyak pedoman menjaga jarak dan kebersihan sosial yang telah diadopsi negara-negara selama pandemi COVID-19 didasarkan pada pencegahan kontak melalui tetesan kecil air liur atau lendir yang dikeluarkan oleh pembawa virus ketika mereka batuk, bersin, atau berbicara. Mencegah penyebaran melalui udara akan memerlukan strategi lain.

Ammon mengatakan ECDP masih menganggap tetesan kecil ar liur adalah penyebab penularan yang paling umum. Dia mengatakan pada tahap ini belum perlu untuk memperbarui panduan ECDP, dan menegaskan kembali bahwa sangat penting bagi orang-orang untuk terus menghormati aturan jarak sosial dan mengenakan masker.

Sumber: Reuters

Baca juga: Rekomendasi dokter jika COVID-19 dinyatakan menular lewat udara
Baca juga: Riset di UB, sinar UV bisa bersihkan udara dari virus corona
Baca juga: Dr Supriyanto: Penggunaan sarung tangan picu penularan virus corona
Pewarta : Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Azis Kurmala
COPYRIGHT © ANTARA 2020