Jepang terjunkan pasukan penyelamat setelah hujan lebat di Kyushu

Jepang terjunkan pasukan penyelamat setelah hujan lebat di Kyushu

Dokumentasi. Foto udara menunjukkan kawasan permukiman yang terendam banjir setelah sebuah sungai meluap akibat hujan lebat di Kyoto, Minggu (15/7/2012). Warga pulau selatan Jepang, Kyushu, mulai membersihkan rumah mereka usai banjir yang menewaskan 24 orang mulai surut sementara delapan orang masih dinyatakan hilang, menurut keterangan NHK. (ANTARA/REUTERS/Kyodo)/TM

Tokyo (ANTARA) - Jepang menerjunkan ribuan tentara untuk bergabung dalam operasi penyelamatan di selatan Pulau Kyushu, setelah tiga orang luka berat dan delapan orang dilaporkan hilang dalam hujan lebat terburuk, yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dua orang ditemukan dalam keadaan jantungnya berhenti berdetak dan satu orang dalam kondisi serius akibat hujan lebat di Prefektur Kumamoto, yang dapat memicu banjir dan tanah longsor lebih lanjut, menurut lembaga penyiaran publik NHK.

"Hujan deras kemungkinan akan berlanjut hingga Minggu, dan orang-orang di daerah itu harus sangat waspada," kata Perdana Menteri Shinzo Abe, Sabtu. Ia menambahkan bahwa 10.000 tentara akan dikirim ke wilayah tersebut.

Dengan menampilkan cuplikan gambar rumah dan mobil yang terendam dalam air berlumpur, NHK melaporkan bahwa banjir di Sungai Kuma menghancurkan rumah-rumah dan menghanyutkan jembatan.

Badan Meteorologi Jepang menurunkan peringatan dari tingkat tertinggi, yang semula diunggah untuk memperingatkan bahaya banjir dan tanah longsor yang dipicu hujan sangat deras yang belum pernah terlihat sebelumnya di wilayah tersebut, tambah stasiun televisi itu.

Lebih dari 200.000 orang di 92.200 rumah tangga di prefektur Kumamoto dan Kagoshima telah diinstruksikan untuk mengungsi, menurut kantor berita Kyodo.

Sumber: Reuters

Baca juga: Hujan lebat di Kyushu Jepang, 13 orang hilang

Baca juga: Ratusan ribu orang diminta mengungsi karena hujan lebat di Jepang


 

Enam kecamatan di Konawe Utara kembali diterjang banjir

Pewarta : Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2020