Galur COVID-19 di Beijing kemungkinan dari Asia Selatan, Asia Tenggara

Galur COVID-19 di Beijing kemungkinan dari Asia Selatan, Asia Tenggara

Warga mengantre untuk menjalani tes asam nukleat di sebuah lokasi pengujian sementara menyusul merebaknya kembali virus Corona baru atau COVID-19 di Kota Beijing, China, Selasa (30/6/2020). Otoritas Kesehatan China pada hari Selasa (30/6) melaporkan 19 kasus virus corona baru di daratan untuk 29 Juni, naik dari 12 hari sebelumnya. Tidak ada kematian baru. ANTARA FOTO/REUTERS/Thomas Peter/wsj.

Shanghai (ANTARA) - Salah satu galur virus corona jenis baru (SARS-CoV-2), penyebab COVID-19, yang menyerang lebih dari 300 warga di Kota Beijing, China, pada awal Juni kemungkinan berasal dari Asia Tenggara atau Asia Selatan, demikian hasil penelitian Harvard University.

Wabah baru COVID-19 di Bejing membuat banyak pihak khawatir terhadap kemungkinan China menghadapi "gelombang kedua" penyebaran virus. Menurut Pusat Pengawasan dan Pencegahan Penyakit Menular China, galur virus yang ditemukan di Beijing berasal dari luar negeri.

Kajian dari Harvard, yang telah diterbitkan di laman medRxiv.org, Selasa, memeriksa tiga urutan genom SARS-CoV-2 yang dikumpulkan di Beijing bulan lalu. Tiga urutan genom itu kemudian dibandingkan dengan 7.643 sampel virus dari seluruh dunia.

Pemeriksaan peneliti Harvard menunjukkan tiga genom itu menunjukkan tingkat kemiripan tinggi dengan kasus di Eropa pada Februari sampai Mei, dan beberapa kasus di Asia Selatan dan Asia Tenggara pada Mei sampai Juni.

Walaupun demikian, hasil penelitian itu masih belum dievaluasi ilmuwan lainnya (peer-reviewed) sehingga belum dapat dianggap sebagai temuan final dan tidak dapat digunakan sebagai acuan.

Para peneliti mengatakan galur virus itu juga ditemukan dalam jumlah sedikit di China pada Maret. Temuan itu mengindikasikan virus itu pertama kali muncul di China dan kembali lagi ke negara tersebut tiga bulan setelahnya.

"Beberapa kasus penularan baru dari galur virus ini sebagian besar dari Asia Tenggara dan Asia Selatan, dan temuan ini kemungkinan menunjukkan kasus baru di Beijing disebabkan oleh penularan dari Asia Tenggara/Selatan," tulis para peneliti.

Wabah COVID-19 di Beijing berasal dari pasar grosir Xinfadi pada 11 Juni. Setidaknya per Rabu (1/7) 329 orang dari klaster itu dinyatakan positif tertular virus.

Setelah kasus pertama di pasar Xinfadi ditemukan, pemerintah memberlakukan karantina dan pemeriksaan skala besar kepada penduduk sekitar. China juga mewajibkan seluruh daging impor menjalani pemeriksaan COVID-19 sebelum mereka dapat meninggalkan pelabuhan.

Virus SARS-CoV-2 ditemukan pertama kali di pasar basah Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China pada akhir Desember tahun lalu. Saat ini, virus itu telah menyerang lebih dari 10 juta orang dan menewaskan lebih dari 500.000 jiwa di seluruh dunia.

Namun, sejumlah penelitian memperkirakan COVID-19 mewabah lebih awal dari penemuan kasus pertama. Virus itu diyakini ditularkan dari kelelawar (Rhinolophus stheno) yang banyak ditemukan di barat daya China, Laos, dan Myanmar.

Sumber: Reuters
Baca juga: Warga Beijing pilih tinggal di rumah, Distrik Chaoyang berisiko tinggi
Baca juga: Virus lebih ganas daripada Wuhan, Beijing perpanjang karantina 28 hari
Baca juga: China umumkan data genom COVID-19 di Beijing, asalnya dari Eropa
Pewarta : Genta Tenri Mawangi
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2020