Kisah Misngadi bantu warga tanam nanas untuk cegah karhutla

Kisah Misngadi bantu warga tanam nanas untuk cegah karhutla

Pendamping pokmas Misngadi (ujung kanan) ketika melakukan sosialisasi pentingnya bertani tanpa membakar. ANTARA/HO-Dok.pribadi

Jakarta (ANTARA) - Misngadi yang menjadi pendamping kelompok masyarakat di Provinsi Riau mampu menggerakkan budi daya nanas di lahan gambut di sejumlah desa untuk membantu pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Misngadi mengungkap  salah satu desa di Kabupaten Kampar mulai banyak menanam nanas setelah melihat contoh bagaimana anggota pokmas mulai menanam tanaman itu dengan metode pengelolaan lahan tanpa bakar (PLTB).

"Dampaknya di desa itu dari tahun 2015 sampai hari ini memang nihil api, tidak ada kebakaran," kata Misngadi yang juga pendamping kegiatan di Kedeputian Konstruksi, Operasi dan Pemeliharaan Badan Restorasi Gambut (BRG) ketika dihubungi di Jakarta, Kamis.

Baca juga: Barito Utara praktikan pembukaan lahan tanpa bakar
Baca juga: KLHK lakukan modifikasi cuaca cegah karhutla


Ia menjelaskan, nanas didorong menjadi salah satu komoditas yang ditanam oleh pokmas karena dalam jangka waktu dua sampai tiga bulan sudah mulai tumbuh dengan dalam jangka delapan bulan sudah mulai ada yang panen.

"Tidak hanya nanas, terdapat beberapa komoditas lain seperti ubi yang didorong oleh pokmas untuk dibudidayakan oleh warga desa," katanya.

Selain itu untuk semakin mendukung swadaya masyarakat maka ia mendorong  pembuatan produk olahan dari bahan baku nanas seperti keripik dan dodol oleh Pokmas Mekar Sari, di Desa Pagaruyung .

Untuk mewadahi produk-produk yang dihasilkan oleh banyak pokmas itu kemudian dibentuk Koperasi Petani Gambut (KPG) Riau pada 2019.

Baca juga: Cegah kebakaran, Presiden minta penataan lahan gambut secara konsisten
Baca juga: Kementan sebut pemanfaatan lahan rawa di Kalteng butuh Rp2,55 triliun


Kegiatan sosialisasi untuk mendorong revitalisasi ekonomi masyarakat di lahan gambut itu semakin intens dengan masuknya Badan Restorasi Gambut (BRG) dalam sosialisasi mengelola gambut dengan benar dan tanpa membakar.

Ia mengaku memulai sosialisasi pengelolaan lahan tanpa bakar karena menyadari dampak dari kebakaran lahan terhadap lingkungan dan kesehatan warga.

"Efeknya itu puluhan tahun kita di Riau ini selalu menghisap asap ketika musim kemarau, itu salah satu yang mendorong saya. Artinya mencoba bagaimana mengurangi pembakaran lahan sehingga risiko terhadap kesehatan berkurang," kata dia.

Baca juga: BRG sulap ladang api Rupat jadi sumber ekonomi
Baca juga: BRG dorong ekspor olahan nanas dari lahan gambut Riau
Pewarta : Prisca Triferna Violleta
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2020