Balitbangtan siapkan teknologi dongkrak produksi dan kualitas jeruk RI

Balitbangtan siapkan teknologi dongkrak produksi dan kualitas jeruk RI

Ilustrasi: Sejumlah petani sedang memanen jeruk dekopon di Desa Duwet, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jatim. Tingginya permintaan membuat petani jeruk dekopon meraih omzet puluhan juta rupiah. (ANTARA jatim/ Louis Rika/ Rz)

Jakarta (ANTARA) - Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian (Kementan) siap mendongkrak kenaikan produktivitas dan kualitas jeruk Indonesia melalui inovasi teknologi yang dihasilkan sehingga mampu menembus pasar ekspor.

Kepala Balitbangtan Fadjry Djufry di Jakarta, Rabu, mengatakan Indonesia memiliki berbagai macam jenis jeruk yang berpotensi untuk terus dikembangkan guna memenuhi kebutuhan dalam negeri dan pasar global.

"Jeruk di Indonesia cukup bervariasi dari satu provinsi ke provinsi lain misalnya jeruk siam, keprok, mandarin, dan lain-lain. Potensinya sangat besar dari segi cita rasa dan kualitas, namun penampilan jeruk masih perlu ditingkatkan,” ujarnya saat menjadi pembicara kunci dalam Webinar Tren Jeruk Dunia dan Posisi Indonesia di Pasar Internasional.

Hampir semua jeruk impor yang masuk ke Indonesia, lanjut dia, penampilannya memikat hati. Untuk itu, petani jeruk di Indonesia harus didorong untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas dari jeruk yang ada.

"Saya yakin ke depan, dengan sinergitas dan kerja sama kita bisa dorong untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas jeruk Indonesia paling tidak untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan sebagian kita ekspor," ujarnya.

Baca juga: Lima manfaat jeruk untuk kesehatan

Fadjry menyatakan Balai Penelitian Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) mempunyai teknologi yang bisa mendorong produktivitas jeruk termasuk mengatur pembuahan sepanjang tahun dengan teknologi Bujangseta.

"Dengan sentuhan teknologi, jeruk-jeruk kita bisa masuk ke beberapa pasar global. Balitbangtan siap membantu mendorong jeruk kita bisa masuk ke pasar ekspor," katanya.

Dia mengungkapkan saat ini total area jeruk di Indonesia lebih dari 57 ribu hektare dengan produksi 2,5 juta ton. Indonesia masih kekurangan sekitar 4 ribu hektare untuk memenuhi kebutuhan konsumsi lokal, sehingga perlu didorong peningkatan luas lahan dan produktivitas jeruk di Indonesia.

Sementara itu, tambahnya, meskipun Indonesia telah melakukan ekspor jeruk, namun jumlahnya belum signifikan yaitu hanya 1.752 ton. Untuk bisa menembus pasar global, menurut dia, sangat diperlukan kontinuitas produksi jeruk.

Di sisi lain, produksi yang melimpah dan harga yang jatuh di petani ketika panen raya. Untuk itu, lanjut dia, perlu mencari strategi membuka pasar baru. Ekspor adalah salah satu solusinya.

"Industri-industri yang ada di sentra jeruk juga perlu ditumbuhkan sehingga pada kondisi jeruk melimpah, melalui teknologi pascapanen dan pengolahan jeruk bisa lebih lama bertahan dan bisa diolah menjadi beberapa produk olahan," katanya.

Baca juga: Permintaan jeruk saat pandemi COVID-19 meningkat

 
Pewarta : Subagyo
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020