Musim kemarau, Kementan turut produksi benih tahan kekeringan

Musim kemarau, Kementan turut produksi benih tahan kekeringan

Petani memikul benih padi untuk ditanam di persawahan Weleri, Kendal, Jawa Tengah, Kamis (24/12/2019). Kementerian Pertanian (Kementan) terus melakukan upaya dalam pencapaian sasaran produksi tanaman pangan melalui peningkatan produktivitas, diantaranya dengan mengusahakan benih padi varietas unggul bersertifikat. ANTARA FOTO/Anis Efizudin/ama.

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pertanian bersama pemerintah daerah memproduksi benih yang tahan kekeringan agar bisa terhindar dari dampak musim kemarau.

Direktur Perbenihan Kementan Mohammad Takdir Mulyadi mengatakan benih menjadi tahapan awal yang dapat menentukan keberhasilan budidaya. Oleh karena itu, pemilihan varietas menjadi bagian sangat penting.

"Kami berharap dengan pemilihan varietas yang tepat, tahan kekeringan serta toleran terhadap Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) akan menjadi solusi akibat perubahan iklim global," kata Takdir di Jakarta, Senin.

Takdir menambahkan sesuai dengan arahan Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi bahwa Kementan terus mengupayakan ketersediaan benih varietas unggul dalam mengantisipasi kekeringan agar tidak terjadi kelangkaan benih pada musim tanam berikut.

Menurut dia, petani harus diberikan akses agar mudah memperoleh benih unggul. Dengan memberdayakan petani menjadi penangkar yang mandiri, akan memperluas penyediaan benih berkualitas.

Kegiatan tersebut salah satunya dilakukan Kelompok Tani Unggul, Desa Taman Martani, Kabupaten Sleman, DIY yang bermitra dengan PB Usaha Tani memproduksi benih padi tahan kekeringan varietas Inpari 32 dan Inpari 42 seluas 10 hektar (Ha) untuk mengantisipasi kemarau.

Dari data deskripsi varietas, varietas unggul tahan kekeringan yang direkomendasikan adaptif di lahan kering antara lain varietas Batutegi, Situ Patenggang, Situ Bagendit, Inpago 4, Inpago 5, Inpago 7, Inpago 8, Inpago 9, Inpago 10, Inpago 11, Inpago 12, Luhur 1, Luhur 2, Jatiluhur.

Sedangkan varietas unggul tahan kekeringan yang adaptif di lahan tadah hujan antara lain varietas Batutegi, Sarinah, Towuti, Dodokan, Silugonggo, Inpari 10, Inpari 11, Inpari 12, Inpari 13, Inpari 18, Inpari 19, Inpari 20, Inpari 22, Inpari 26, Inpari 27, Inpari 28, Inpari 32, Inpari 33, Inpari 38, Inpari 39, Inpari 40, Inpari 41, Inpari 42, Inpari 43.

Seno, yang bekerja di PB Usaha Tani menguraikan keunggulan varietas 42 dan Varietas 32 yang saat ini mulai jadi primadona petani di wilayahnya Bantul dan Kulon Progo. Bahkan, benihnya selalu habis karena diproduksi hingga ke provinsi lain seperti Jateng dan Jatim.

Menurut dia, varietas Inpari 32 punya keunggulan tahan terhadap kekeringan, tahan penyakit kresek dan tungro, serta gabahnya bernas atau memiliki bobot padi lebih berat.

"Dari ubinan yang telah ditanam selama ini, produksinya bisa mencapai 9 ton per hektar gabah kering panen atau setara dengan 7,5 ton gabah kering giling atau 7,2 ton benih," kata Seno.

Sementara itu, varietas Inpari 42 masih terbilang baru, namun petani sudah mulai menyukai karena punya keunggulan bersifat amphibi atau mudah beradaptasi saat kekeringan dan genangan selama 2 minggu, tahan rebah, serta tahan terhadap OPT hama tungro, wereng batang coklat (WBC), dan hawar (penyakit) daun yang dapat menurunkan produksi.

Seno menambahkan varietas Inpari 42 memiliki keunggulan penggunaan pupuk dan aplikasi pestisida yang lebih irit, serta produktivitasnya cukup tinggi mencapai 8 ton/ha gabah kering panen atau setara dengan 6,5 ton benih.

Baca juga: Varietas unggul Inpari 32 dan 42 mampu hasilkan padi 10 ton/ha
Baca juga: Balitbangtan targetkan tanam Inpari IR Nutri Zinc 10 ribu ha
Baca juga: BPTP Kepri kenalkan benih padi Inpara di Bintan

 
Pewarta : Mentari Dwi Gayati
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2020