Teknologi degreening Balitbangtan jaga rasa dan tampilan jeruk keprok

Teknologi degreening Balitbangtan jaga rasa dan tampilan jeruk keprok

Jeruk keprok yang telah mendapatkan perlakuan dengan teknologi degreening hasil inovasi Badan Litbang Pertanian. ANTARA/HO-Balitbang Pertanian/am.

Jakarta (ANTARA) - Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian melakukan inovasi untuk mempertahankan rasa manis dan penampilan buah jeruk keprok melalui teknologi degreening.

Peneliti Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian (BB Pascapanen) Balitbangtan Sari Intan Kailaku di Jakarta, Sabtu mengatakan jeruk keprok seringkali masih berwarna hijau walaupun sudah matang, penampilan tersebut sangat mempengaruhi persepsi dan penerimaan konsumen.

Baca juga: Balitbangtan sebut jeruk Indonesia siap bersaing dengan jeruk impor

Dikatakannya, perubahan warna kulit jeruk dipengaruhi oleh pemecahan klorofil dan sintesis karotenoid selama proses pematangan, yang menyebabkan warna kulit berubah dari hijau menjadi kuning atau oranye.

"Namun, penurunan klorofil seringkali tidak terjadi sempurna, hal ini yang membuat warna hijau masih tampak pada sebagian kecil atau sebagian besar kulit jeruk," ujarnya melalui keterangan tertulis.

Perbedaan suhu siang dan malam hari, tambahnya, secara alami dapat membantu menstimulasi perkembangan warna pada jeruk.

“Di negara tropis seperti Indonesia, perbedaan suhu antara siang dan malam yang tidak terlalu berbeda nyata membuat warna kulit jeruk seringkali tidak terbentuk secara optimal," katanya.

Kini, ujar Sari, Balitbangtan mempunyai teknologi degreening yang terbukti secara ilmiah di seluruh dunia sebagai solusi yang aman dan efektif untuk memperbaiki warna kulit jeruk tanpa menurunkan mutu rasa dan kandungan gizinya.

Penerapan teknologi degreening menggunakan etilen, suatu hormon pematangan secara alami diproduksi oleh buah saat proses pematangan dimulai, telah lama dikenalkan dan diteliti di seluruh dunia.

Etilen menyebabkan perubahan tekstur, pelunakan, warna, dan proses lainnya yang terlibat dalam pematangan buah.

Menurut dia, berbagai hasil penelitian telah menunjukkan bahwa etilen secara efektif membantu pematangan buah yang dipanen dalam keadaan matang fisiologis atau matang secara alami.

Di BB Pascapanen, Balitbangtan telah mengembangkan teknologi degreening untuk buah jeruk, yang diujicobakan pada varietas keprok varietas Batu 55 dan menghasilkan warna kuning optimal setelah 5 hari penyimpanan pada suhu ruang, dan 7 hari pada suhu AC. Jeruk yang telah matang dapat disimpan hingga 21 hari.

Dengan demikian, ujar Sari, setelah panen dan pemaparan gas etilen, petani dan pedagang memiliki waktu transportasi yang cukup agar buah sampai di konsumen dengan mutu warna optimal dan masih memiliki masa display yang cukup panjang.

"Dengan penerapan teknologi ini, buah jeruk pun memiliki rasa manis dengan tekstur yang baik, serta kandungan gizi yang terjaga," katanya.

Baca juga: Permintaan jeruk saat pandemi COVID-19 meningkat

Kepala Balitbangtan Fadjry Djufry menambahkan dengan penggunaan hormon ini, buah dapat sampai ke tangan konsumen dalam keadaan matang sempurna, dengan mutu fisik, kimia dan organoleptik yang baik.

Dia menegaskan pemanfaatan teknologi pascapanen penting bagi produk hortikultura, khususnya untuk komoditas yang tidak mempunyai masa simpan yang lama.

"Ini penting mengingat kualitas produk pertanian akan menentukan nilai tambah dan daya saing produk baik secara kompetitif maupun komparatif," katanya.

Baca juga: Balitbangtan hasilkan varietas jeruk kualitas ekspor
Pewarta : Subagyo
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020