Mentan minta petani muda lakukan pendekatan baru pertanian modern

Mentan minta petani muda lakukan pendekatan baru pertanian modern

Ilustrasi - Sejumlah petani mempraktikkan bercocok tanam dengan alat mesin pertanian modern saat kunjungan kerja Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo di Desa Gadabung, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Kamis (11/6/2020). ANTARA FOTO/Makna Zaezar/pri.

Jakarta (ANTARA) - Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo meminta agar para petani muda dapat melakukan pendekatan baru untuk mengembangkan pertanian modern, termasuk dengan memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Dalam webinar Milenial Agriculture Forum (MAF) III yang berlangsung melalui telekonferensi, Menteri Syahrul mengatakan bahwa saat ini sektor pertanian sedang memasuki era baru yang memiliki pendekatan berbasis online dan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Oleh karena itu, langkah intervensi pertanian baru harus dilakukan agar Indonesia benar-benar maju, mandiri, dan berdaulat.

"Di era sekarang startup dan robot construction sudah menjadi bagian dari pertanian. Dengan begitu digital system menjadi pendekatan baru di sektor pertanian masa depan," kata Mentan di Jakarta, Rabu.

Oleh karena itu Kementan pun telah mempersiapkan KUR yang memiliki bunga rendah, yakni hanya 6 persen untuk bisa dimanfaatkan dengan baik oleh para petani milenial.

Mentan menilai anak muda mampu menjadi petani sukses dengan memanfaatkan fasilitas dan bantuan yang ada. Dengan begitu, petani akan terus termotivasi untuk melakukan sebuah ide baru dan inovasi kreatif.

"Kemampuan riset dan teknologi yang kita miliki, pasti pertanian modern bisa dilakukan dengan baik," kata Mentan.

Baca juga: Mentan ingin wujudkan pertanian modern di Kalteng

Dalam kesempatan yang sama Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDM) Dedi Nursyamsi menekankan pentingnya regenerasi petani untuk keberlanjutan pertanian yang lebih baik.

Dedi menyebutkan jumlah petani di Indonesia saat ini mencapai 33 juta orang, namun hanya 27 persen petani muda di antaranya yang terjun ke lapangan.

"Ini menjadi perhatian kita karena bisa saja 10 tahun mendatang kita bisa terjadi krisis petani," kata Dedi.

Baca juga: Mentan ajak perguruan tinggi bersinergi bangun pertanian modern

Kementan pun sudah menargetkan pencetakan 2,5 juta petani milenial selama 5 tahun ke depan untuk merealisasikan program jangka panjang pemerintah. Terkait hal ini, Kementan sudah melakukan kerja sama dengan berbagai kementerian/lembaga, serta perguruan tinggi.

Sementara itu Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Arif Satria mengungkapkan bahwa sektor pendidikan berkelanjutan tetap akan mempunyai peran untuk bisa mempercepat proses transformasi entrepreneurship yang menghasilkan produk-produk petani milenial.

Ia berharap anak muda bisa hadir di desa-desa sebagai pelaku usaha baru. Tentunya hal ini juga mendorong regenerasi petani ke arah yang lebih baik lagi.

"Kita harus segera mempersiapkan regenerasi dengan sangat baik, karena kalau tidak kita akan kurang siap berkompetisi di masa depan," kata Arif.

Baca juga: Kementan catat petani muda hanya 8 persen atau 2,7 juta orang

Baca juga: Duta Petani Muda bangun kesadaran untuk jadi petani


 
Pewarta : Mentari Dwi Gayati
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020