Dampak ekonomi COVID-19, persaingan AS-China semakin ketat

Dampak ekonomi COVID-19, persaingan AS-China semakin ketat

Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar menyampaikan pidato kunci dalam seminar daring berjudul “Smart Economic Partnership: Potentials for Cooperation between Indonesia and the American and European Region”, dari Jakarta, Jumat (1/5/2020). (ANTARA/Yashinta Difa)

Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Luar Negeri RI Mahendra Siregar menyebut persaingan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan China akan semakin ketat sebagai dampak wabah COVID-19.

“Bahkan sebelum wabah COVID-19, kita harus mengantisipasi situasi ini agar tidak menjadi semakin serius di masa depan,” kata Mahendra dalam seminar daring dari Jakarta, Jumat.

Baca juga: Trump yakin virus corona berasal dari lab Wuhan-China

Baca juga: Trump salahkan China atas penyebaran virus corona


Wakil Menteri Perdagangan RI periode 2010-2011 itu menilai persaingan geopolitik AS-China mungkin tidak berdampak pada ekonomi Indonesia yang memiliki beragam mitra perdagangan, investasi, dan ekonomi.

“Tetapi dalam hal stabilitas politik, itu soal lain,” ujar dia.

Untuk itu, Indonesia secara konsisten mendukung solusi yang melibatkan organisasi multilateral, internasional, dan regional agar berfungsi baik dalam menangani situasi sehubungan dengan geopolitik.

Selain mengantisipasi semakin buruknya situasi ekonomi akibat persaingan AS-China, kata Mahendra, negara-negara juga perlu mengambil pembelajaran bahwa rantai pasok global seharusnya tidak bergantung hanya pada satu sumber.

Dengan adanya wabah COVID-19, pemerintah dan industri telah mulai memahami manajemen risiko jika hanya memiliki sumber pasokan tunggal, yang akan sangat terganggu akibat kebijakan karantina wilayah yang diberlakukan di banyak negara.

“Jadi mereka mulai melihat (pentingnya) diversifikasi, daripada hanya mengutamakan efisiensi,” tutur Mahendra.

Merujuk pada laporan Dana Moneter Internasional (IMF) yang memperkirakan bahwa ekonomi global akan menghadapi resesi dan perlambatan hingga -3 persen akibat COVID-19, Mahendra menyebut situasi ekonomi global akan menjadi lebih buruk.

“Sepertinya kita mungkin harus menanggung (perlambatan hingga) -5 persen atau bahkan lebih. Jadi resesi akan lebih parah dari yang diproyeksikan IMF, yang terutama disebabkan oleh resesi yang lebih parah di AS dan Eropa,” kata dia.

Baca juga: Pertama di AS, Missouri tuntut China bayar kerugian akibat COVID-19

Baca juga: AS minta China revisi aturan ekspor APD corona

Pewarta : Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Yuni Arisandy Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2020