BRG berdayakan masyarakat desa gambut antisipasi karhutla Sumsel

BRG berdayakan masyarakat desa gambut antisipasi karhutla Sumsel

Dinamisator BRG Sumsel DD Shineba (kanan) bersama tim pusat saat melakukan pertemuan dengan masyarakat desa gambut di Palembang, Rabu (22/4/2020) ANTARA/Yudi Abdullah

Palembang (ANTARA) - Badan Restorasi Gambut (BRG) berupaya memberdayakan masyarakat yang ada di sekitar desa gambut untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sumatera Selatan pada musim kemarau yang diprediksi BMKG mulai terjadi pada Mei 2020.

Kegiatan pemberdayaan seperti membina pertanian tanpa membakar dan ekonomi produktif sesuai dengan potensi desa dan kemampuan masyarakatnya, kata Dinamisator BRG Sumatera Selatan DD Shineba di Palembang, Rabu.

Baca juga: Perempuan dan peran pentingnya dalam restorasi lahan gambut

Pemberdayaan masyarakat desa di bidang ekonomi produksi, pihaknya melakukan pembinaan membuat aneka kerajinan tangan, pengolahan hasil kebun menjadi makanan ringan, dan dalam kondisi pandemi COVID-19 masyarakat kesulitan memperoleh alat pelindung diri, dilakukan pembinaan produksi masker kain.

Sedangkan pembinaan pertanian tanpa membakar, pihaknya terus menggalakkan kegiatan sekolah lapang bagi petani gambut agar mampu menjaga lahan gambut tidak terbakar dan kegiatan pertanian bisa berjalan baik meskipun pada kondisi musim kemarau.

Baca juga: Puntung rokok diduga sebabkan lahan gambut terbakar di Aceh Barat

Kegiatan sekolah lapang itu digalakkan di kabupaten yang memiliki lahan gambut yang luas dan rawan terbakar pada setiap musim kemarau, seperti Kabupaten Ogan Komering, Banyuasin, dan Kabupaten Musi Banyuasin.

Pemberdayaan masyarakat dan sekolah lapang bagi petani di desa gambut merupakan tindakan yang diharapkan bisa mencegah terjadinya kebakaran lahan gambut di Sumsel dan beberapa provinsi lainnya.

Baca juga: Mengembangkan sawit di lahan ramah lingkungan ala Balitbangtan

Untuk penyelenggaraan sekolah lapang pada tahun ini, BRG melibatkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) agar bisa memberikan penjelasan mengenai kebakaran hutan dan lahan yang dapat menimbulkan banyak kerugian ekonomi, gangguan kesehatan masyarakat, dan kerusakan lingkungan, ujar Shineba.

Sementara sebelumnya Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel Iriansyah menambahkan menghadapi musim kemarau tahun ini pihaknya lebih intensif melakukan pemantauan daerah rawan kebakaran hutan dan lahan untuk mencegah bencana kabut asap.

Beberapa daerah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menjadi perhatian utama pihaknya seperti Kabupaten Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir, Banyuasin, Musi Banyuasin, Ogan Komering Ulu, dan Kabupaten Musirawas.

Mengantisipasi karhutla di sejumlah daerah rawan tersebut pada tahun 2020 ini dialokasikan dana yang cukup besar sekitar Rp37 miliar, ujar Iriansyah.
Pewarta : Yudi Abdullah
Editor: Heru Dwi Suryatmojo
COPYRIGHT © ANTARA 2020