Lembaga Eijkman dan pusat riset Australia kerja sama teliti malaria

Lembaga Eijkman dan pusat riset Australia kerja sama teliti malaria

Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Prof Amin Soebandrio (kiri) dan Pemimpin Eksekutif Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR) Prof Andrew Campbell (kanan) menandatangani nota kesepahaman untuk memperkuat kerja sama penelitian malaria zoonosis di kantor Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Jakarta, Rabu (11/03/2020). (ANTARA/Martha Herlinawati Simanjuntak)

Jakarta (ANTARA) - Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dan Pusat Riset Pertanian Internasional Australia (Australian Centre for International Agricultural Research/ACIAR) memperkuat kerja sama penelitian mengenai malaria zoonosis, penyakit malaria yang menyebar antara manusia dan hewan.

Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Prof Amin Soebandrio dan Pemimpin Eksekutif ACIAR Prof Andrew Campbell menandatangani nota kesepahaman mengenai penguatan kerja sama itu di Jakarta, Rabu, disaksikan oleh Delegasi Komisi untuk Penelitian Pertanian Australia yang sedang berkunjung ke Indonesia.

"Penelitian ini penting untuk kita untuk mengembangkan dan memvalidasi metode terbaik untuk mendeteksi parasit malaria zoonosis pada manusia, sehingga kita mengerti bagaimana dan di mana parasit ditransmisikan," kata Prof Amin di Auditorium Sitoplasma Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Jakarta.

Proyek penelitian mengenai malaria zoonosis menghubungkan para peneliti Indonesia dan Australia yang berusaha mengevaluasi transmisi parasit malaria, khususnya Plasmodium knowlesi dari primata monyet makaka, ke manusia di seluruh Indonesia.

Proyek 2,5 tahun itu akan meliputi kegiatan surveilans pada manusia menggunakan metode-metode deteksi molekular akurat, pemetaan risiko geospasial, pemodelan ilmu sosial dan kesehatan ekonomi, pemantauan monyet makaka menggunakan kamera, survei pertanian, dan evaluasi vektor nyamuk dalam habitat yang berbeda.

Penelitian transmisi malaria zoonosis akan dilaksanakan di tiga provinsi di Indonesia. Lembaga Eijkman akan memimpin penelitian di Malinau di Kalimantan Utara dan Sabang di Aceh.

Riset malaria zoonosis di wilayah Provinsi Sumatera Utara termasuk Batubara, Asahan, Labuan Batu Utara, dan Tapanuli Tengah akan dikoordinasi oleh Universitas Sumatera Utara.

Amin mengatakan, proyek riset tersebut akan memberi pemahaman yang lebih baik mengenai penularan malaria zoonosis di seluruh Indonesia.

Sementara itu, Prof Andrew Campbell dari ACIAR mengatakan bahwa pendekatan multidisiplin dalam penelitian infeksi zoonosis menjadi semakin penting.

"Penelitian gabungan yang inovatif ini sangat tepat waktu. Coronavirus mengingatkan kita semua akan perlunya memperkuat pemahaman mengenai keterkaitan antara sistem surveilans hewan dan manusia serta memfasilitasi pengembangan pertanian berkelanjutan dalam konteks perubahan lingkungan hidup yang sangat cepat, kompleksitas arus manusia, barang dan hewan, serta konsekuensi risiko infeksi," katanya.

Proyek penelitian mengenai malaria zoonosis di Indonesia didanai bersama oleh ACIAR dan Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia (DFAT) sebagai bagian dari Program Penguatan Sistem OneHealth.

Hingga saat ini masih sedikit yang diketahui tentang penularan Plasmodium knowlesi di Indonesia. Padahal, di Malaysia perubahan-perubahan dalam pemanfaatan lahan pertanian dan hutan telah lama dikaitkan dengan meningkatnya angka kasus malaria zoonosis, khususnya yang berdampak pada petani dan pekerja perkebunan.

Baca juga:
Indonesia-Inggris kerja sama danai riset HIV hingga malaria
Terobosan peneliti Australia dekatkan vaksin malaria

 
Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2020