Memperkokoh daya dukung lingkungan di kawasan Candi Gedongsongo

Memperkokoh daya dukung lingkungan di kawasan Candi Gedongsongo

Sejumlah mahasiswa dari 28 perguruan tinggi di Indonesia selain menanam pohon melalui Program Siap Sadar Lingkungan (Siap Darling) juga mengikuti perkemahan hijan (green camp) dan mendiskusikan upaya pelestarian lingkungan hidup di Kompleks Percandian Gedongsongo, Lereng Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah pada Rabu (4/3/2020). ANTARA/Andi J/HO-Humas DTFL

Lereng Gunung Ungaran, Jateng (ANTARA) - "Tidak hanya pohon-pohon keras, tapi kami lihat pentingnya tanaman pencegah longsor dan bisa menghambat banjir bandang. Saya kira tanaman 'vetiver', akar wangi, nanti akan saya cari sebanyak-banyaknya bibit dan benih," kata Presiden Joko Widodo.

Penegasan itu disampaikan Kepala Negara saat menerima sejumlah kepala daerah yang terdampak banjir di Istana Merdeka, Jakarta pada 8 Januari 2020.

Kepala daerah itu adalah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Jabar Ridwan Kamil, Gubernur Banten Wahidin Halim, Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya, Bupati Bogor Ade Yasin, dan Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi.

Di awal Tahun Baru 2020, sejumlah daerah penyangga Ibu Kota Negara Jakarta, seperti Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kabupaten Lebak, Provins Banten --selain Jakarta dan Bekasi-- juga dilanda banjir dan longsor.

Kepala Negara juga menyatakan bahwa reboisasi atau penghijauan kawasan hutan harus segera dilakukan oleh pemerintah daerah (pemda) bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Presiden kemudian juga memerintahkan KLHK untuk menyiapkan bibit "vetiver" atau akar wangi itu sehingga program penghijauan dapat dilakukan pada Januari-Februari 2020, terutama di Kabupaten Bogor (Jabar) dan Kabupaten Lebak (Banten).

"Termasuk juga nanti saya minta ke KLHK agar sebanyak-banyaknya disiapkan di kabupaten-kabupaten yang ada untuk tanaman kerasnya," kata Presiden.

Setelah pernyataan Presiden itu, maka gerakan penghijauan kemudian menjadi keniscayaan yang mesti dilakukan semua komponen bangsa mengingat cuaca ekstrem seperti hujan dan angin, termasuk daerah di Indonesia yang sebagian besar memang rawan banjir dan longsor.

"Gerakan penanaman pohon itu dilakukan serentak setelah Presiden Joko Widodo mencanangkan di Sukajadi, Kabupaten Bogor. Kami sudah sampaikan dalam rapat penanggulangan bencana itu," kata Asisten Deputi (Asdep) Pengurangan Risiko Bencana Kementerian Koordinator (Kemenko) Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Iwan Eka.

Baca juga: KLHK tindaklanjuti arahan Presiden lakukan rehabilitasi lahan

Barangkali sudah bukan sesuatu yang asing jika dalam setiap bencana alam muncul pernyataan pejabat pemerintah bahwa masalah lingkungan hidup bukan sekadar tanggung jawab pemerintah, melainkan juga dibutuhkan partisipasi publik.

Dalam rangka partisipasi publik itulah kemudian muncul kolaborasi-kolaborasi dari berbagai pihak untuk turut serta melakukan program dan gerakan penghijauan melalui penanaman pohon.

                                                                                                    Hijaukan Candi Gedongsongo
Salah satu upaya partisipasi publik itu dilakukan melalui kolaborasi penanaman pohok antarpihak yang dilakukan di kawasan kompleks percandian Gedongsongo di lereng Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Selasa (5/3).

Melalui Program Candi Sadar Lingkungan (Candi Darling) atas kerja sama Bakti Lingkungan Djarum Foundation, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah, KLHK, dan 250 mahasiswa perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, di Indonesia, kawasan percandian Hindu itu kemudian ditanami aneka tanaman.

Mahasiswa yang ikut dalam kegiatan itu, di antaranya dari Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Universitas Negeri Semarang, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Universitas Darussalam Gontor, Universitas Negeri Jakarta, dan Universitas Sanata Dharma.

Kondisi lingkungan di kompleks percandian Gedongsongo itu sebenarnya sudah hijau dan asri, terlebih berada di lereng Gunung Ungaran.

Namun, agaknya penghijauan itu diniatkan untuk terus memperkokoh daya dukung lingkungan di kawasan tersebut.

Baca juga: Candi Gedongsongo lereng Gunung Ungaran ditanami akar wangi

Hal itu ditegaskan Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Mochamad Effendi yang ikut terjun langsung menanam pohon bersama mahasiswa, Presdir Djarum Foundation Victor R. Hartono, Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kemendikbud Fitra Arda, Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah Sukronedi, Vice President Djarum Foundation F.X. Supanji dan penyanyi "jebolan" Indonesian Idol Ahmad Abdul, yang akrab disapa Abdul Idol.

"Dengan menanam pohon lebih banyak maka daya dukung lingkungan di suatu kawasan akan semakin kuat," katanya.

Pada gilirannya, menurut Pangdam, dengan lingkungan yang lebih segar masyarakat pun menjadi sehat dan punya ketahanan tubuh yang baik.
 
Ratusan mahasiswa 28 perguruan tinggi di Indonesia usai menanam pohon melalui Program Siap Sadar Lingkungan (Siap Darling) di Kompleks Percandian Gedongsongo, Lereng Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah pada Kamis (5/3/2020). ANTARA/Andi J/HO-Humas DTFL


Menurut Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kemendikbud Fitra Arda, sebagai suatu warisan budaya, hadirnya pepohonan di area candi menunjukkan bahwa nenek moyang telah memerhatikan pentingnya lingkungan hidup sebagai aspek penting kelestarian candi-candi.

"Keterlibatan generasi milenial dalam penanaman pohon di lingkungan candi ini agar generasi berikutnya mendapatkan lingkungan hidup yang tetap baik," katanya.

Presdir Djarum Foundation Victor R Hartono menyatakan fungsi pohon menyerap karbondioksida (CO2) di udara, di mana hal itu penting untuk penanganan perubahan iklim global saat ini akibat naiknya gas rumah kaca (GRK) di atmosfer.

Khusus untuk Program Candi Darling, kata dia, sekurangnya telah ditanam 10 ribu pohon dalam program penghijauan, yakni yang telah dilakukan di Kompleks Candi Prambanan, Kompleks Candi Ratu Boko dan Candi Ijo di perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah, Benteng Van Den Bosch di Kabupaten Ngawi, Jatim dan di Taman Wisata Alam Kawah Ijen, Jatim.

"Namun, dengan program lingkungan yang lain, pohon yang sudah ditanam sudah dua juta pohon," katanya.

                                                                                                            Akar wangi
Dalam kegiatan di Candi Gedongsongo itu, 250 orang dari kalangan milenial yang terdiri atas ratusan mahasiswa berbagai perguruan tinggi tersebut, menanam akar wangi (vertiver).

Mahasiswa itu juga menanam 868 pohon dari berbagai jenis di kompleks candi di Kecamatan Bandungan itu, di antaranya pucuk merah, pinus, puspa, hujan mas, bambu jepang, tabebuia rosea, serta semak berbunga.

Dalam berbagai rujukan vetiver atau akar wangi dengan nama ilmiah "Vetiveira zizanioides L" atau "Andropogon murica" ini memiliki bentuk rumpun dengan akar yang rimbun.

Vetiver adalah tanaman dari golongan rumput dengan ketinggian 0,5 hingga 1,5 meter dan mampu tumbuh lurus ke dalam tanah.

Sistem akarnya yang rimbun adalah senjata yang sangat diandalkan untuk menahan erosi dan longsor.
 
Penyanyi "jebolan" Indonesian Idol 2028 Ahmad Abdul atau Abdul Idol menanam pohon melalui Program Siap Sadar Lingkungan (Siap Darling) di Kompleks Percandian Gedongsongo, Lereng Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah pada Kamis (5/3/2020). ANTARA/Andi J/HO-Humas DTFL


Menurut Asdep Pengurangan Risiko Bencana Kemenko PMK Iwan Eka, penanaman pohon akar wangi dan sereh wangi membutuhkan keahlian, karena ditanam di lereng-lereng pegunungan yang kondisinya curam dan terjal.

Pertumbuhan pohon akar wangi dan sereh wangi itu jika usia tanamnya di atas satu tahun maka akan tumbuh sekitar 1,5 meter.

Pohon akar wangi itu bisa digunakan bahan baku parfum, namun pemerintah melarang untuk dijadikan bahan baku parfum tersebut.

Sebab, penanaman pohon akar wangi dan buah-buahan di kawasan rawan bencana untuk mencegah erosi agar tidak menimbulkan bencana alam.

Peneliti dari Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Titut Yulistyarini memperkuat bahwa tanaman akar wangi mampu mencegah longsor dan erosi karena dapat menahan gempuran aliran hujan deras dan menjaga kestabilan tanah.

"Akar serabut vetiver yang mempunyai nama latin Chrysopogon zizanioides dan nama lokal akar wangi mampu menembus ke dalam tanah hingga 2-4 meter dan mengikat partikel-partikel tanah," kata Titut.

Baca juga: Didapuk duta lingkungan, Abdul "Idol" tanam pohon di Candi Gedongsongo

Namun, menurut peneliti tumbuhan senior di Organisasi Menteri-Menteri Pendidikan se-Asia Tenggara pada Pusat Regional Asia Tenggara untuk Biologi Tropis (Southeast Asian Regional Centre for Tropical Biology/SEAMEO BIOTROP) Dr Ir Supriyanto, rumput vetiver atau akar wangi memang bisa dimanfaatkan menahan longsor, tetapi hanya dalam jangka pendek.

"Ya mungkin untuk jangka pendek bisa. Tetapi tetap untuk pencegah longsor yang bagus untuk jangka panjang ya pohon," katanya.

Akar tumbuhan itu bisa menembus bebatuan dan punya kekuatan menahan erosi atau tanah longsor sekuat seperenam kawat baja.

"Satu-satunya tanaman yang akarnya serabut namun berkekuatan 1/6 kawat baja adalah vetiver sistem," katanya.

Namun, tanaman itu hanya bisa bertahan hidup selama sekitar sembilan bulan.

"Setelah itu mati," katanya.

Karena itu, Supriyanto menyarankan pemerintah menanam jenis pepohonan yang memiliki akar lebih kuat dan lebih dalam untuk mencegah longsor.

"Sebenarnya kalau untuk penahan erosi itu rumput-rumputan saja cukup. Erosi kan erosi permukaan saja. Tapi yang kemarin itu banjir ditambah longsor," katanya.

Meski ada pendapat ahli yang berbeda mengenai akar wangi, sejatinya menanam pohon untuk mencegah longsor adalah ikhtiar untuk penyelamatan alam dan lingkungan.

Baca juga: Kabupaten Gowa tanam puluhan ribu bibit vetiver untuk cegah longsor
Baca juga: Vetiver hanya dapat menahan longsor dalam jangka pendek
Baca juga: Bupati-Presiden akan tanam akar wangi di lokasi bencana Sukajaya
Pewarta : Andi Jauhary
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2020