Buku nilai moral masyarakat Buton "Polima" dibedah pada HPN 2020

Buku nilai moral masyarakat Buton

Perwakilan tokoh masyarakat Sultra di Banjarmasin (dari kiri) AKP Abdul Rahman, Ir La Alihi, Aminuddin, Makmun, S.Sos, Gafar (PWI Sultra), Ketua PWI Baubau La Ode Aswarlin, Sekretaris PWI Baubau Yuhandri Hardiman. (FOTO ANTARA/Sarjono)

Kendari (ANTARA) - Buku yang mengulas tentang nilai-nilai moral dan etika yang dianut orang Buton dalam tatanan kehidupan masyarakat sejak masa Kesultanan Buton, yakni "Polima" bakal dibedah pada Hari Pers Nasional (HPN) 2020 yang berlangsung di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

"Jadwal bedah buku adalah pada 7 Februari 2020 dalam rangkaian HPN di Banjarmasin pada 5-9 Februari 2020," kata utusan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Tenggara (Sultra) Gafar di saat dihubungi dari Kendari, Sabtu.

Gafar bersama Ketua PWI Kota Baubau Laode Azwarlin, Sekretaris PWI Baubau Yuhandri Hardiman serta pejabat Dinas Kominfo Baubau Dr Hamzah pada Jumat (24/1) bertemu dan melakukan dialog dengan sejumlah tokoh masyarakat Sultra di Kota Banjarmasin, Kalsel.

Perwakilan tokoh masyarakat Sultra di Banjarmasin yang ditemui adalah Makmun, S. Sos, Ir La Alihi, AKP Abdul Rahman, dan Aminuddin.

Buku "Polima" (PO5) adalah intisari dari penelitian disertasi S-3 Wali Kota Baubau Dr AS Tamrin di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) di Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat (2016). 

"Polima" adalah bentuk kearifan lokal falsafah Buton yang terdiri atas "pomaamaasiaka" (saling menyayangi), "pomaemaeka" (selalu merasa malu untuk berbuat negatif/tabu) , "popiapiara" (saling peduli), "poangkaangkataka" (saling menghargai), dan "pobincibinciki kuli" (tidak saling mencubit jika akan sama-sama merasakan sakit).

AS Tamrin mengusung "Polima" -- yang mengantarkannya meraih gelar doktor di Jurusan Ilmu Pemerintahan IPDN -- sebagai upaya membumikan filsafat "Sara Pataanguna", yang diimplementasikannya dalam pemerintahan di Kota Baubau, Sultra.

Gafar juga menjelaskan bahwa nilai-nilai tersebut dipandang relevan dengan Pancasila dan dipraktikkan oleh Wali Kota Baubau AS Tamrin sebagai instrumen revolusi mental.

Kepada tokoh masyarakat Sultra di Kota Banjarmasin, mereka juga menjelaskan bahwa pada HPN nanti, juga akan ada penyerahan surat keputusan (SK) tuan rumah HPN 2021 sekaligus ajang penyerahan penghargaan indeks kemerdekaan pers 2019 yang menempatkan Sultra pada posisi tertinggi nasional kepada Gubernur Sultra H Ali Mazi, SH.

Sementara itu, Pengurus Paguyuban Warga Sulawesi Tenggara di Banjarmasin, Iwan melalui saluran telepon dari Banjarmasin mengatakan HPN bagi mereka menjadi sarana silaturahmi dengan peserta wartawan maupun Gubernur Ali Mazi serta Wali Kota Baubau AS Tamrin.

Paguyuban Sultra juga menyampaikan kesiapannya untuk mendukung kegiatan HPN di Banjarmasin, termasuk menghadiri malam gala dinner dalam rangka menerima SK PWI Pusat yang menunjuk Sultra sebagai tuan rumah HPN 2021.

Warga Sultra di Banjarmasin juga akan menghadiri kegiatan peluncuran buku Wali Kota Baubau AS Tamrin dalam kegiatan Bedah Buku "Polima: Gema Pancasila dari Baubau".

"Sebagai bentuk dukungan, kita akan hadir dan memakai pakaian dengan sentuhan budaya Buton," kata Rahman mewakili masyarakat Sultra di Banjarmasin.

Sementara itu, Wali Kota Baubau H AS Tamrin menawarkan kerja sama "sister city" antara Kota Baubau dengan Banjarmasin, Kalsel.

Tawaran itu, menurut pernyataan Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Baubau, disampaikan AS Tamrin saat menjadi penanggap pada Focus Group Discussion (FGD) Forum Investasi yang dilaksanakan oleh PWI Pusat dalam rangkaian HPN di Jakarta Kamis (23/1).

FGD yang dilaksanakan oleh PWI itu dihadiri oleh perwakilan dari beberapa kementerian di antaranya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Perhubungan, Kementerian Perindustrian, Kemengterian PUPR, BKPM, BUMN serta perwakilan dari Pemprov Kalsel dan jajaran PWI pusat

Wali Kota Baubau menawarkan kerja sama ini karena Kota Baubau dan Kota Banjarmasin memiliki kemiripan dalam menyimpan situs-situs budaya dan cagar budaya yang memiki kesesuaian.

Kerja sama dimaksudkan untuk meningkatkan arus wisata yang masuk ke daerah masing-masing.

Apalagi, kata AS Tamrin, antara Kota Baubau dengan Kota Banjarmasin sama sama anggota Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI).

"Sebenarnya saat pertemuan dengan anggota JKPI beberapa waktu yang lalu kerja sama 'sister city' dengan Banjarmasin ingin saya ungkapkan tapi belum ada kesempatan sehingga di forum FGD yang diadakan PWI inilah baru bisa terealisasi," katanya.

AS Tamrin menambahkan, kerja sama dimaksudkan pula untuk saling mendukung potensi daerah sehingga dapat dikembangkan menjadi lebih baik lagi.

Menanggapi tawaran Wali Kota Baubau, Kepala Bappeda Kalsel yang mewakili Wali Kota Banjarmasin Zardi Sira sangat menyambut baik tawaran tersebut dan siap bekerja sama dengan Kota Baubau.

Sementara itu staf ahli Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Guntur Sakti akan mendukung kerja sama "sister city" antara Kota Baubau dengan Banjarmasin.

Baca juga: Tiga tarian khas Kerajaan Buton jadi penutup Hari Pangan Sedunia

Baca juga: Provinsi Kepulauan Buton siap dibentuk

Baca juga: Guru Besar UI: Jangan berhenti mencintai sejarah

Baca juga: Pemerintah siapkan standarisasi dan sertifikasi aspal Buton

Pewarta : Sarjono
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2020