Kebun Raya Liwa, etalase hutan hujan tropis TNBBS di Lampung

Kebun Raya Liwa, etalase hutan hujan tropis TNBBS di Lampung

Kebun Raya Liwa di Kabupaten Lampung Barat yang dicanangkan mengembangkan koleksi tanaman hias dan konservasi di Sumatera. (ANTARA/Budisantoso Budiman)

Lampung Barat (ANTARA) - Jangan dulu kita membayangkan keberadaan Kebun Raya Liwa (KRL) di Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung, seperti wujud Kebun Raya Bogor di Bogor, Jawa Barat, yang sudah lama tersohor itu.

Dalam banyak hal masih banyak perbedaannya. Namun, setidaknya Provinsi Lampung kini telah memiliki kebun raya tersendiri, sehingga tidak perlu lagi jauh-jauh harus pergi ke Bogor untuk berwisata ke kebun raya.

Setidaknya di Pulau Sumatera ini, selain KRL di Lampung Barat, masih ada sedikitnya sembilan kebun raya telah dikembangkan di berbagai daerah di Pulau Percha, Andalas, atau Suwarnadwipa ini.

Ayo, kita bandingkan Kebun Raya Bogor yang luasnya hanya mencapai 87 hektare, namun telah memiliki 15.000 jenis koleksi pohon dan tumbuhan, termasuk jenis langka di dunia.

Kebun Raya Bogor juga sudah lama eksis, didirikan pada 18 Mei 1817, Gubernur Jenderal Belanda saat itu Godert Alexander Gerard Philip van der Capellen resmi mendirikan Kebun Raya Bogor dengan nama ’s Lands Plantentuin te Buitenzorg.

Kebun Raya Bogor sudah berusia ribuan tahun, sementara Kebun Raya Liwa baru berusia beberapa tahun ini.

Kebun Raya Liwa terletak di Desa (Pekon) Kubu Perahu, Kecamatan Balik Bukit, Liwa, Kabupaten Lampung Barat, berluas 86,68 ha dengan tema utama koleksi dan konservasi tanaman hias Indonesia.

Kepala Unit Pelaksana Teknis KRL, Sukimin menjelaskan pendirian KRL diinisiasi sejak tahun 2005, dengan kesepahaman (MoU) antara Bupati Lampung Barat dan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tanggal 23 Agustus 2005.

Pada 2007, masterplan KRL disusun oleh Kementerian PUPR dan direview bersama LIPI serta disusun pula Detail Engineering Design (DED)-nya.

KRL pun diresmikan pada Selasa, 5 Desember 2017 oleh Bupati Lampung Barat Mukhlis Basri dan Plt Kepala LIPI Prof Dr Bambang Subiyanto MSc.

Peresmian ini menandai peluncuran serta dibuka untuk umum KRL yang berada pada wilayah dengan ketinggian 830-945 meter dari permukaan laut (mdpl).

Kondisinya berbukit-bukit dan dikelilingi kawasan hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) memberikan pemandangan yang indah.

Keberadaan kebun raya ini dikembangkan untuk menjadi etalase TNBBS yang berada di kawasan sekitarnya.

Baca juga: KOBI rancang alat pengukur Indeks Biodiversitas Indonesia

Baca juga: Selain wisata, Kebun Raya Kendari difungsikan jadi lokasi penelitian

Sukimin, Kepala UPT Kebun Raya Liwa di Kabupaten Lampung Barat yang dicanangkan mengembangkan koleksi tanaman hias dan konservasi di Sumatera. (ANTARA/Budisantoso Budiman)


Dekat Monumen Gempa Liwa

Pada bagian depan pintu masuk KRL ini, bersebelahan dengan rumah dinas bupati Lampung Barat yang berada pada kawasan perbukitan.

Lokasi kebun raya ini tak jauh dari monumen tempat pemakaman massal ratusan korban gempa di Liwa, Lampung Barat, yang terjadi pada 15 Februari 1994 mengakibatkan kerusakan parah di ibu kota Lampung Barat, Kota Liwa saat itu.

Akibat gempa itu, hampir semua bangunan permanen di Liwa rata dengan tanah. Tak kurang dari 196 jiwa dari beberapa desa dan kecamatan di Lampung Barat tewas, sementara jumlah korban yang terluka hampir mencapai 2.000 orang. Rata-rata mereka tewas dan terluka karena tertimpa reruntuhan bangunan.

Berdasarkan informasi, jumlah penduduk yang kehilangan tempat tinggal hampir mencapai 75 ribu orang. Dampak gempa pun masih terasa sampai 40 kilometer dari ibu kota Kabupaten Lampung Barat tersebut.

Bila berkunjung ke KRL, jangan lupa sempatkan mampir menjenguk monumen korban gempa itu, sekaligus mendoakan mereka semua.

Sejak tahun 2007, pengelolaan Kebun Raya Liwa diserahkan kepada Dinas Kehutanan sampai dengan tahun 2016.

Pada 3 Januari 2017, UPT Pengelola Kebun Raya Liwa diserahkan kepada Badan Litbang Kabupaten Lampung Barat.

Kebun Raya Liwa terletak pada ketinggian 800-900 mdpl dengan tapak bergelombang serta kemiringan lereng cukup terjal.

Hingga saat ini pengunjung ke KRL masih digratiskan, karena pengelolanya bersama Pemkab dan DPRD Lampung Barat sedang menyiapkan aturan hukum untuk menetapkan retribusi masuk bagi pengunjung ke kebun raya ini. "Masih digratiskan sampai sekarang, padahal pengunjung lumayan banyak, terutama pada hari libur dan akhir pekan," kata Sukimin pula.

Saat ini Kebun Raya Liwa telah memiliki area koleksi tanaman yang ditanam di Vak I, Vak II, Vak III, dan Vak IV ditambah area baru yaitu Vak V dan Vak VI yang baru saja dibuka. Selain itu, Kebun Raya Liwa juga memiliki taman seperti Taman Araceae, Taman Obat Mini, Taman Rumput Bali, dan Taman Hias.

Kebun Raya Liwa juga memiliki koleksi anggrek dan pembibitan yang terdapat di dalam Rumah Paranet serta memiliki fasilitas penunjang berupa kantor UPT

Sukimin merincikan koleksi tumbuhan di KRL ini, yaitu pembibitan 98 jenis (2.118 spesimen), anggrek 96 jenis (945 spesies), araceae 25 jenis (378 spesimen), piperaceae 11 jenis (69 spesimen), begoniaceae 17 jenis (165 spesimen), aeschinantus dua jenis (18 spesimen), nepenthaceae 8 spesimen, hoya satu jenis (11 spesimen), dan kebun koleksi 170 jenis (1.146 spesimen) serta kebun obat 106 jenis (819 spesimen).

"Tugas pokok kebun raya ini adalah sebagai sarana wisata, jasa lingkungan, konservasi, pendidikan dan penelitian," kata Sukimin lagi.

KRL ini menjadi sarana untuk konservasi tumbuhan, termasuk jenis langka di Sumatera Selatan dan konservasi tanaman hias Sumatera.

Baca juga: Wisatawan asing ke Kebun Raya Cibodas turun drastis, ini penyebabnya

Baca juga: Dua tanaman langka tumbuh mekar di Kebun Raya Bogor


Dukung Kabupaten Konservasi

Keberadaan kebun raya ini juga mendukung Lampung Barat yang telah dicanangkan sebagai Kabupaten Konservasi, dengan wilayahnya sebagian besar merupakan areal lindung dan konservasi yang musti dilindungi dan dijaga dari perusakan guna mendukung fungsi ekologisnya.

Kabupaten ini merupakan hulu sungai dan sumber air bagi daerah lain di Provinsi Lampung pada bagian bawah (hilirnya). Bila kawasan hulu di Lampung Barat mengalami kerusakan atau degradasi, hampir pasti akan berdampak bencana bagi daerah lain di bawahnya.

Semula lahan untuk KRL ini mencapai 116 ha, namun sejumlah kawasan telah dibangun fasilitas milik pemda, berupa rumah dinas bupati dan mess pemda, sehingga dikeluarkan dari areal ini.

KRL memiliki tiga zonasi, yaitu Zone Intensif, Zone Semi Intensif, dan Zone Kurang Intensif. Fungsi konservasi dan penelitian maupun kebun koleksi di KRL ini, kata Sukimin lagi, secara bertahap berada pada areal tanaman hias dalam Zone Intensif.

Pembangunan berbagai fasilitas infrastruktur dasar pendukung di KRL ini dilakukan secara bertahap mulai 2016, 2017, 2018, dan 2019, menyusul peresmiannya pada tahun 2017.

Dia menyebutkan sejumlah peneliti dari luar dan daerah Lampung termasuk peneliti dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Lampung dan luar Lampung, bahkan luar negeri, telah, sedang dan akan melakukan penelitian di KRL ini. "Mereka kami berikan ruang untuk melakukan riset dan penelitian sesuai ketentuan yang berlaku di sini," katanya pula.

Sebagai sebuah kebun raya yang baru berkembang, KRL ini masih menghadapi sejumlah tantangan dan kendala, antara lain menurut Sukimin adalah kondisi tanah areal ini berupa laterit atau tanah merah, yaitu jenis tanah yang tidak subur, mengingat unsur haranya telah hilang karena larut dibawa oleh air hujan yang tinggi.

Laterit merupakan jenis tanah yang kaya akan seskuioksida dan telah mengalami pelapukan yang lanjut, berupa tanah tua dengan tingkat kesuburan yang rendah dan keasaman tinggi.

"Ini menjadi tantangan tersendiri bagi kami, mengingat areal di kebun raya ini perlu ditanami berbagai tanaman yang diperlukan," katanya pula.

Pengelola KRL akan mengupayakan menggunakan pupuk organik untuk mengatasi masalah kesuburan tanah yang rendah itu, namun dengan kebutuhan pupuk organik mencapai sedikitnya 10 ton per hektare per tahun.

Kondisi sumber daya manusia (SDM) pengelola KRL juga masih relatif kurang. Semula hanya sebanyak tujuh orang pengelolanya. Namun kini telah bertambah menjadi 49 personel.

"Di sini kami memiliki koleksi unggulan anggrek langka yang hanya hidup di hutan sekitar kawasan kebun raya ini," ujarnya lagi.

Begitu pula untuk koleksi talas-talasan (araceae) di antaranya bermanfaat sebagai tanaman obat tradisional, penyerap racun/polusi, selain sebagai tanaman hias, maupun sejumlah jenis tanaman kayu yang tergolong sudah langka dan sulit ditemukan lagi.

"Keberadaan Kebun Raya Liwa ini menjadi etalase penting hutan TNBBS sekaligus laboratorium alam di dekat kawasan hutan hujan tropis masih tersisa di dunia ini," katanya lagi.

Baca juga: Kebun Raya Cibodas makin diminati, jumlah pengunjungi lampaui target

Baca juga: Kerusakan habitat ancaman terbesar Rafflesia patma

 

Bunga bangkai raksasa (Amorpophalus titanum), salah satu bunga langka dikembangkan di Kebun Raya Liwa di Kabupaten Lampung Barat yang dicanangkan mengembangkan koleksi tanaman hias dan konservasi di Sumatera. (ANTARA/Budisantoso Budiman)


Potensi Kebun Raya Liwa menjadi salah satu kebun raya tersohor dan terbaik di Indonesia masih terbuka, selain menjadi etalase hutan TNBBS sehingga pengunjung bisa menyaksikan dari jarak dekat kawasan hutan TNBBS relatif masih terjaga kelestarian flora dan faunanya.

Kebun ini juga berpeluang mengedepankan keunggulan dimilikinya, seperti koleksi anggrek jenis langka di dunia hanya terdapat di sini dan bunga bangkai (Amorpophalus sp) yaitu kibut atau bunga bangkai raksasa atau suweg raksasa (Amorphophallus titanum Becc).

Udara sejuk Kota Liwa ditingkahi suara satwa liar dari hutan TNBBS di sekitar KRL akan kita rasakan saat berada di sini.

Sebuah sensasi berbeda, saat berada di kebun raya yang dicanangkan sebagai etalase hutan TNBBS yang masih tersisa dan harus dilindungi di Lampung, Sumatera, Indonesia, bahkan di dunia ini.*

Baca juga: Rafflesia patma mekar keempat belas kalinya di Kebun Raya Bogor

Baca juga: 45 pelukis adu kemampuan di Festival Merah Putih Kebun Raya Bogor

Pewarta : Budisantoso Budiman
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019