Warga Papua diseru PGGP hidup rukun dan damai

Warga Papua diseru PGGP hidup rukun dan damai

Sekretaris Umum PGGP Pendeta Mathan Ayorbaba M.Th. (FOTO ANTARA/ Alfian Rumagit)

Jayapura (ANTARA) - Persatuan Gereja-Gereja di Papua (PGGP) mengajak segenap warga yang ada di provinsi itu untuk hidup rukun dan damai, tidak cepat terprovokasi dengan isu memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

"Saya mengajak dan mengimbau kepada umat Tuhan dan gereja serta warga Papua pada umumnya agar kita semua bersama-sama menjaga keamanan di lingkungan masing-masing, menjaga hubungan baik agar tetap hidup rukun dan damai di atas tanah Papua," kata Sekretaris Umum PGGP Pendeta Mathan Ayorbaba M.Th di Jayapura, Senin.

Ia menjelaskan pesan itu juga disampaikannya pada kegiatan dialog lintas agama Provinsi Papua di Kota Jayapura, Minggu (22/9).

Ia berharap para pemimpin gereja dan pemimpin umat agar dapat memberikan pencerahan dan pemahaman berdasarkan kepercayaan masing-masing sehingga para warga tetap saling mengasihi, mendukung, menghargai dan mencintai satu sama lainnya sebagai umat ciptaan Tuhan, sehingga terhindar dari sikap intoleransi.

"Dari gereja juga, kami harapkan ada kerja sama dan komunikasi yang baik antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota yang ada di Papua dengan aparat keamanan TNI Polri agar kedamaian dan keamanan di tanah Papua yang sudah ada, tetap terjaga dan terpelihara dengan baik, sehingga kita semua bisa tetap berkarya bagi pribadi, keluarga, anak cucu, bangsa dan negara," katanya.

Selain itu, Mathan juga mengajak kepada para mahasiswa asal Papua yang kuliah di luar daerah dan telah kembali dari bangku studi -- karena merasa terancam atau terintimidasi -- agar bisa berpikir jernih dan bijak, dengan harapan bisa segera kembali ke kota studi masing-masing untuk menyelesaikan kuliah demi masa depan sebagai generasi penerus bangsa dan negara.

"Kepada anak-anakku, saudara-saudaraku para mahasiswa dan mahasiswi yang kuliah di luar Papua namun saat ini sedang eksudus dan pulang ke tanah Papua, kalian adalah anak-anak yang cerdas dan berintelektual, berpikir yang bijak dan dewasa, agar supaya bisa kembali ke tempat perkuliahannya untuk menempuh studinya hingga selesai, karena mahasiswa adalah generasi penerus Papua dan Indoensia," katanya.

Mengenai perasaan kurang nyaman atau takut karena terintimidasi, ia menyarankan agar hal itu bisa disampaikan kepada pihak yang berwajib ataupun kepada pemerintah daerah setempat.

"Jika ada hal yang dirasa kurang nyaman, segera lapor kepada pihak yang berwajib. Jika ada yang merasa terancam, mohon untuk membuka diri dan mari kita sama-sama selesaikan masalah yang ada agar ada jalan keluar dan bisa bisa kembali berkuliah," demikian Mathan Ayorbaba.

Baca juga: Pendeta-pendeta Papua berharap mahasiswa kembali menuntut ilmu

Baca juga: Pemkab Mimika bentuk empat tim kunjungi mahasiswa di luar Papua

Baca juga: Papua Terkini - Pemerintah bisa gunakan gereja berdialog
Pewarta : Alfian Rumagit
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019