ACT beri bantuan air bersih-pangan-medis untuk wilayah kekeringan

ACT beri bantuan air bersih-pangan-medis untuk wilayah kekeringan

Presiden ACT Ibnu Khajar di kantor ACT Jakarta, Selasa (20/8/2019), memaparkan aksi yang dilakukan untuk membantu wilayah kekeringan di Indonesia. (ANTARA/Aditya Ramadhan)

Jakarta (ANTARA) - Organisasi kemanusiaan nirlaba Aksi Cepat Tanggap memberikan bantuan air bersih, pangan, dan layanan medis untuk masyarakat di wilayah kekeringan di seluruh Indonesia.

Presiden ACT Ibnu Khajar di Jakarta, Selasa, mengatakan pihaknya mengirim mobil tangki untuk mendistribusikan air bersih melalui 28 kantor cabang ACT di seluruh Indonesia. Sebanyak 2,1 juta liter air per hari dikirim dengan target diterima oleh 500 ribu penerima manfaat.

"Di 28 kantor cabang kita buka 28 Posko Jelajah Kekeringan untuk temukan titik-titik kekeringan. Di semua Kantor Cabang ACT, 15 tangki air bergerak untuk mendistribusikan 2,1 juta liter air bersih per hari," kata Ibnu. Targetnya pendistribusian air bersih kepada wilayah terdampak kekeringan mencapai 60 juta liter air bersih per bulan.

Selain pendistribusian air bersih, ACT juga mengirimkan 100 ribu paket makanan per hari dan menargetkan pemberian layanan kesehatan pada 15 ribu hingga 30 ribu orang setiap harinya.

"Tim bergerak ke lokasi, memastikan air cukup, makanan cukup, dan sehat. Jangan sampai masyarakat turun naik gunung hanya untuk mendapatkan air yang keruh," kata Ibnu.

Baca juga: Akibat kekeringan warga tujuh desa di Sigi butuhkan bantuan air

Baca juga: ACT galang donasi atasi kekeringan

 

 



ACT juga membuatkan sumur air bersih untuk keberlangsungan pasokan air. Ke depan akan dibuat sumur keluarga, sumur komunitas, dan sumur pertanian.

Sumur keluarga dibuat untuk kebutuhan air keluarga dengan kedalaman 20-30 meter dan biaya pengeboran hingga Rp10 juta. Sumur komunitas targetnya untuk memenuhi kebutuhan tempat ibadah dan pesantren diaktivasi dengan pengeboran hingga 40-60 meter dan biaya Rp50 juta.

Sementara pengeboran sumur untuk pertanian dilakukan dengan kedalaman hingga 120 meter dan memakan biaya sampai Rp120 juta. Sumur pertanian tersebut bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan lahan seluas 20 hektar per satu sumur.

ACT bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) menggunakan teknologi yang dapat menemukan sumber air sekalipun di wilayah kekeringan. Teknologi tersebut bisa mengetahui sumber air yang berkedalaman 50 meter di bawah tanah.

Untuk empat bulan terakhir ini ACT telah mengaktifkan 1.400 sumur wakaf di seluruh Indonesia untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat di berbagai daerah.

”Kami mengajak semua masyarakat untuk bahu-membahu mengirimkan bantuannya melalui aksi nyata untuk saudara-saudara kita melalui program Dermawan Atasi Kekeringan. Satu hal penting bahwa sesungguhnya apa yang kita keluarkan sebenarnya untuk diri kita senderi. Apabila kita memberikan kebaikan, maka sebuah kebaikan itu akan kembali ke diri. Mari kita atasi kekeringan yang mematikan ini dengan menjadi dermawan," kata Ibnu.

Kepala Sub Bidang Analisa dan Informasi lklim BMKG Adi Ripaldi mengatakan prediksi puncak musim kemarau di Indonesia jatuh pada bulan Agustus dan September. Namun, puncak kekeringan tersebut masih akan berlanjut diperkirakan hingga Oktober dan November. BMKG memprediksi hujan akan mulai turun pada akhir November atau awal Desember 2019.*

Baca juga: ACT penuhi kebutuhan air warga Sulteng

Baca juga: ACT DIY terjunkan 12 truk tangki air bersih ke Gunung Kidul
Pewarta : Aditya Ramadhan
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019