Banjarbaru (ANTARA) - Himpunan Mahasiswa Program Studi Rekayasa Geologi (HMRG) Meratus Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat (ULM) membahas perkembangan dan masa depan wilayah Kalimantan Selatan melalui seminar Nasional.

"Kondisi geologi menjadi salah satu kunci penting dalam mendukung perencanaan dan pengembangan wilayah secara berkelanjutan. Ini difokuskan dalam Seminar Nasional Kebumian dengan mengusung tema "Filosofi Atlas Geologi Kalimantan dan Perkembangan Wilayahnya," kata Ketua Pelaksana, Gusti Muhammad Fariz Zihni, melalui siaran tertulis di Banjarbaru, Senin.

Dalam seminar ini, HMRG Meratus menghadirkan empat narasumber dengan perspektif yang saling melengkapi, mulai dari pengembangan sumber daya manusia, pemetaan geologi, geopark, hingga pemanfaatan teknologi geospasial.

Pada sesi pertama, Ir. Rudy Hendrawan Noor, yang juga selaku Kajur Rekayasa Geologi ULM  menyampaikan materi terkait penyiapan sumber daya manusia untuk mendukung pemetaan regional Kalimantan.

Materi tersebut menyoroti pentingnya kesiapan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dalam mendukung kegiatan pemetaan dan pengembangan informasi geologi di wilayah Kalimantan.

Materi kedua tema dari pemahaman geologi ke informasi geospasial nasional pemetaan geologi Indonesia skala 1:50.000 yang disampaikan oleh Dian Novita dari Penyelidik Bumi Madya Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia.

Materi itu menggambarkan pentingnya pemetaan geologi sebagai dasar dalam menghasilkan informasi geospasial yang dapat mendukung berbagai kebutuhan pembangunan dan pengelolaan wilayah.

Pada sesi kedua HMRG Meratus Fakultas Teknik ULM juga menghadirkan Prof. Ir. Mega Fatimah Rosana, Ketua Dewan Pakar Komite Nasional Geopark Indonesia sekaligus Guru Besar Bidang Ilmu Geologi Ekonomi Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran, beliau menyampaikan materi mengenai perkembangan geopark di Indonesia.

Menurut Gusti, pembahasan geopark menjadi semakin relevan bagi Kalimantan Selatan seiring dengan pengembangan Geopark Meratus yang memiliki keterkaitan dengan konservasi, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, serta pengembangan pariwisata berkelanjutan dan geologi.

"Kami juga menghadirkan G.S. T.S. Dr. Shaparas dari Universiti Malaysia Kelantan (UMK) sebagai narasumber," katanya.

Akademisi dari Fakulti Sains Bumi UMK tersebut yang memiliki kepakaran dalam bidang Sains Geospatial, penginderaan jauh, sistem informasi geografis (SIG).

Salah satu hal yang paling menarik dalam seminar tersebut adalah adanya peluang penjajakan kerja sama antara Universiti Malaysia Kelantan (UMK) dengan Program Studi Rekayasa Geologi Fakultas Teknik ULM.

Dr. Shaparas menyampaikan peluang kolaborasi dalam bidang pendidikan, salah satunya melalui penyelenggaraan program double degree. Gagasan tersebut membuka peluang bagi penguatan kerja sama internasional sekaligus memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman akademik di lingkungan perguruan tinggi luar negeri.

"Kolaborasi semacam ini diharapkan dapat memperluas jejaring akademik dan meningkatkan kesempatan mahasiswa dalam mengembangkan kompetensi dibidang geologi dan teknologi kebumian," ungkap Gusti.

Seminar Nasional Kebumian juga dirangkaikan dengan pengumuman pemenang Indonesian Student Geological Competition (ISGC) I Tahun 2026 tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Program Studi Rekayasa Geologi FT ULM.

Kompetisi tersebut terdiri atas tiga kategori, yaitu Geopaper Karya Tulis Ilmiah tingkat mahasiswa, Geopaper tingkat pelajar, dan Geophoto.

Ajang tersebut menjadi wadah bagi mahasiswa dan pelajar untuk menuangkan gagasan, kreativitas, serta kemampuan mereka dalam mengangkat berbagai isu dan fenomena kebumian melalui karya ilmiah maupun visual untuk mendorong generasi muda mengenali potensi kebumian di Kalimantan.

Pelaksanaan Seminar Nasional Kebumian menunjukkan bahwa pembahasan mengenai geologi tidak hanya relevan bagi kalangan akademisi dan profesional, tetapi juga bagi pemerintah, dunia pendidikan, masyarakat, serta generasi muda.

Dalam seminar ini juga diikuti oleh program studi teknik geologi dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia yang tergabung dalam Asosiasi Program Studi Teknik Geologi Indonesia (Asproditegi), pemerintah daerah, Badan Pengelola Geopark Meratus, guru, pelajar tingkat SMA sederajad se-Kalimantan Selatan.

"Asproditegi merupakan wadah komunikasi dan kerja sama antar program studi teknik geologi maupun program studi geologi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Organisasi tersebut juga berada di bawah naungan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)," tutupnya.

(ANTARA/Sujud Mariono)


Pewarta: Sujud Mariono
Editor : Sukarli

COPYRIGHT © ANTARA 2026