Sampai saat ini adik saya belum juga ditemukan oleh Tim SAR yang terus melakukan pencarian,
Banjarmasin (ANTARA) - Suara mesin kapal yang perlahan mendekati Pelabuhan Trisakti Banjarmasin kembali membuat Mira Maulida menoleh, matanya tertuju ke arah dermaga, seolah berharap kapal yang baru tiba itu membawa kabar yang selama empat hari terakhir dinantikannya, sang adik, Isna Aulia (28) pulang.
Harapan itu kembali harus disimpan. Isna belum ditemukan. Mira masih bertahan di Pelabuhan Trisakti, mengikuti setiap perkembangan pencarian korban kecelakaan KM Virgo Transport 8 di Laut Jawa.
Di tempat itu, antara kedatangan kapal, aktivitas petugas, dan keluarga korban yang menunggu, perempuan warga Pelambuan, Banjarmasin Barat, tersebut menggantungkan harapan yang belum padam.
Empat hari berada di pelabuhan membuat penantian itu terasa panjang. Setiap kabar mengenai korban yang ditemukan selalu membuat Mira berharap, sekaligus cemas. Ia berharap muncul nama Isna disebut, tetapi juga takut mendengar kabar yang tidak diinginkan.
“Sampai saat ini adik saya belum juga ditemukan oleh Tim SAR yang terus melakukan pencarian terhadap para korban,” kata Mira, dengan mata berkaca-kaca.
Isna merupakan adik bungsu Mira. Kepergiannya bersama KM Virgo Transport 8 yang berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin meninggalkan ruang kosong bagi keluarga yang hingga kini belum mengetahui keberadaannya.
Mira memilih menunggu di tempat yang menjadi titik kedatangan para korban. Baginya, Pelabuhan Trisakti bukan lagi sekadar tempat kapal bersandar, melainkan tempat untuk mempertahankan keyakinan bahwa Isna masih memiliki kesempatan untuk pulang.
Setiap kapal yang muncul di kejauhan menjadi pemantik harapan. Mira memperhatikan kapal itu hingga mendekati dermaga, berharap ada kabar baik yang ikut tiba bersama para korban yang dievakuasi.
“Isna, kamu sudah janji untuk pulang, janjimu harus kamu tepati, dan kakak yakin Isna bisa melewati semua ini. Kakak tetap menunggu kamu di pelabuhan ini,” ujarnya, dengan suara terbata-bata.
Di sisi lain, laut tempat Isna dan puluhan penumpang lainnya masih dicari terus disisir oleh tim SAR. Memasuki hari keempat operasi, pencarian tidak hanya mengandalkan pandangan dari atas permukaan laut.
KRI Canopus dikerahkan menyisir sektor lima dari enam sektor pencarian. Kapal tersebut membawa kemampuan teknologi yang memungkinkan tim SAR memperluas pencarian hingga ke bawah permukaan laut.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Kelas A Banjarmasin I Putu Sudayana selaku SAR Mission Coordinator mengatakan KRI Canopus telah bergerak sejak pagi menuju sektor yang telah ditentukan dalam peta pencarian.
“Sudah. KRI Canopus pagi berangkat, sudah diturunkan di sektor lima peta pencarian,” ujar Putu di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin.
Kepala Basarnas Mohammad Syafii, sebelumnya menjelaskan KRI Canopus dilengkapi drone bawah air, multibeam echo sounder, dan remotely operated vehicle (ROV) untuk membantu mendeteksi serta memetakan kondisi bawah laut.
Teknologi tersebut memberi tambahan kemampuan bagi tim SAR untuk mencari korban maupun bagian kapal yang mungkin berada di bawah permukaan laut, terutama ketika pencarian dari permukaan belum memberikan kepastian.
Sebanyak 22 armada yang terdiri atas 17 unsur laut dan lima unsur udara turut dikerahkan dalam operasi pencarian. Armada tersebut berasal dari Basarnas, TNI AL, Kepolisian, BNPB dan unsur terkait lainnya yang menyisir wilayah pencarian yang telah dibagi menjadi enam sektor.
Hingga Selasa sekitar pukul 09.00 WITA, Basarnas mengonfirmasi 114 korban telah ditemukan. Sebanyak 108 orang ditemukan dalam keadaan selamat dan enam orang meninggal dunia, sementara 129 orang lainnya masih dalam pencarian dari total 243 penumpang.
Sebanyak 110 korban telah tiba di Banjarmasin, terdiri atas 108 korban selamat dan dua korban meninggal dunia. Empat korban meninggal lainnya masih dalam proses evakuasi menggunakan armada udara.
Angka-angka tersebut menjadi bagian penting dalam operasi SAR. Hanya saja, bagi Mira dan keluarga lain yang masih menunggu, satu angka memiliki makna yang jauh lebih personal. Mereka menunggu nama, wajah, atau kabar tentang orang yang mereka cintai. Karena itu, setiap kapal yang bersandar kembali menjadi harapan baru.
Mira belum memilih untuk pulang. Ia masih ingin berada di tempat pertama kali kabar tentang para korban tiba. Ia ingin mendengar sendiri jika suatu saat petugas menyebut nama Isna.
“Setiap ada kapal yang mengevakuasi sandar di pelabuhan, saya selalu berdoa Isna ada di dalam rombongan para korban yang selamat itu, tapi sampai saat ini belum ada kabar itu,” tuturnya.
KM Virgo Transport 8 dilaporkan hilang kontak di perairan Masalembo, Laut Jawa, pada Minggu (13/9) sekitar pukul 02.00 WITA saat berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin sejak Sabtu (12/9).
Di laut, pencarian terus bergerak dari satu sektor ke sektor lainnya. Di Pelabuhan Trisakti, Mira masih menunggu dan selama belum ada kepastian tentang Isna, harapan itu belum selesai.
Peristiwa tersebut menyisakan penantian panjang bagi keluarga korban. Di Pelabuhan Trisakti, harapan itu masih terlihat dari sosok Mira dan keluarga lain yang terus menunggu.
Sementara jauh di laut, tim SAR melanjutkan pencarian dengan memperluas wilayah dan menggunakan berbagai kemampuan untuk menemukan para korban yang belum diketahui keberadaannya.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Tragedi KM Virgo Transport 8 dan asa yang tak putus
Pewarta: Gunawan WibisonoEditor : Firman
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.