Tanjung (ANTARA) - Sumur minyak di Lapangan Tanjung, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, yang dikelola PT Pertamina EP Tanjung kini masuk fase akhir atau manula sehingga diperlukan treatment tambahan untuk mendongkrak produksi minyaknya.
Walau tua, sumur minyak Lapangan Tanjung mampu memproduksi 2.000 barel minyak per hari, sehingga peran dan kontribusinya sangat vital bagi ketahanan energi nasional.
"Meski berstatus “manula” produksi 2.000 barel minyak per hari memberikan kontribusi sangat vital bagi kebutuhan energi nasional," jelas Manager Communication Relation & CID PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) Regional 3, Donny Indrawan saat silaturahmi dengan kalangan jurnalis Tabalong, Kamis (11/6/2026).
Melalui Bincang Asyik Soal Migas ala Pertamina Hulu Indonesia "Baso Iga PHI" Dony memaparkan di fase ini Pertamina membutuhkan biaya operasional lebih tinggi untuk kebutuhan listrik pompa yang raksasa dan penggantian pipa khusus.
Baca juga: PT Pertamina EP Tanjung rampungkan perbaikan pipa penyalur minyak
Faktanya, volume minyak yang dihasilkan sumur minyak di Lapangan Tanjung justru semakin mengecil dan jika operasional terganggu maka negara harus mengeluarkan tambahan dana Rp3,6 miliar per hari untuk membeli minyak dari luar negeri.
"Karena itu, keberlanjutan operasi ini harus kita jaga bersama,” tambah Donny.
Mengingat kondisi energi nasional yang mengalami defisit dengan kebutuhan nasional 1,6 juta bph, namun produksi dalam negeri hanya 600-an ribu bph.
"Kita perlu impor 1 juta barel minyak setiap hari untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri,” jelas Donny.
Baca juga: Pertamina Perluas Eksplorasi Migas Ke Wilayah Selatan
Di bincang asyik ini alumnus Universitas Padjajaran Bandung ini juga memberikan wawasan kepada para jurnalis tentang siklus kontrak kerja sama migas di Indonesia dari komitmen jangka panjang selama 30 tahun untuk kontrak pertama, dan opsi perpanjangan per 20 tahun.
Kontrak 10 tahun pertama habis hanya untuk fase eksplorasi alias berburu mencari sumber baru.
Dalam perburuan minyak ini semuanya murni mengandalkan sains, teknologi tinggi, dan keahlian manusia.
“Untuk satu kali pengeboran eksplorasi telan biaya 7 hingga 10 juta dolar AS atau sekitar Rp170 miliar," cerita Donny.
Uang ratusan miliar tersebut, lanjut Donny, bisa lenyap begitu saja jika sumur yang dibor ternyata kering atau tidak ekonomis untuk diproduksi.
Pewarta: Herlina LasmiantiEditor : Mahdani
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.