Dari hasil operasi tahun 2026 mengalami peningkatan 100, persen dibanding tahun 2025,

Kandangan (ANTARA) - Polres Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan (Kalsel) menggelar konferensi pers hasil Operasi Antik Intan 2026, dengan mengungkap 20 kasus, serta total menjerat 24 tersangka.

Kapolres HSS AKBP Awaludin Syam, di Kandangan, Selasa, mengatakan Operasi Antik Intan dilaksanakan dari tanggal 12 sampai 25 Mei 2026 lalu, dengan fokus operasi pada tindak pidana penyalahgunaan narkotika dan psikotropika. 

"Dari hasil operasi tahun 2026 mengalami peningkatan 100, persen dibanding tahun 2025," kata kapolres dalam keterangan, didampingi Kasatres Narkoba AKP Syarifudin, Kabag Ops Kompol Jarkasi, dan Kasi Humas AKP Purwadi.

Diterangkan dia, tahun ini hasil operasi meningkat 100 persen dibanding tahun 2025, dengan 20 kasus dengan 24 tersangka berhasil diamankan, sementara tahun 2025 hanya sembilan laporan polisi.

Dari 24 tersangka, tiga di antaranya adalah Target Operasi (TO), sementara itu hasil barang bukti yang berhasil diamankan total seberat 6,01 gram sabu.

Baca juga: Polres HSS gelar upacara serah terima jabatan sejumlah perwira

Tidak hanya itu, juga terdapat dua kasus yang diselesaikan dengan cara Restorative Justice (RJ) atau rehabilitasi.

"Terdapat dua LP yang bisa kita lakukan rehabilitasi setelah koordinasi dengan BNN yaitu tersangka yang merupakan seorang pengguna. Pengguna ini kita anggap sebagai korban, dan yang dikasuskan sampai ke pengadilan adalah para pengedar," ucap kapolres. 

Dalam operasinya, menurut kapolres pihaknya juga memerintahkan semua polsek yang ada di lingkungan hukum Polres HSS untuk melakukan operasi. 

Di tingkat polsek, kasus terbanyak di temukan di wilayah Polsek Kandangan Kota dengan empat kasus, sementara barang bukti terbanyak ada dari Polsek Daha Selatan dengan 2,45 gram sabu.

Untuk para tersangka yang diamankan tidak hanya berasal dari Kabupaten HSS, tetapi juga ada dari kabupaten lain. 

"Tersangka tidak semua dari HSS, juga ada dari Kabupaten tetangga setelah kita lakukan penangkapan di HSS dan kita lakukan pengembangan kasus di kabupaten tetangga. Untuk tersangka berasal dari masyarakat biasa, tidak ada dari ASN," ungkap kapolres.

Baca juga: Polres HSS tetapkan empat kepala desa tersangka dan ditahan kasus pungli

Sementara modus para pelaku, dijelaskan adalah dengan membeli paket sabu dari kabupaten tetangga yang menjadi penyedia, kemudian sabu yang dibeli dibagi-bagi lagi menjadi paket-paket kecil dan dijual dengan harga murah. 

"Sasaran penjualan paket sabu ini adalah masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah, seperti dengan paket kecil senilai Rp50 ribu," jelasnya. 

Pihaknya menegaskan saat ini sudah tidak ada lagi wilayah di HSS yang menjadi tempat penyedia narkotika, tempat-tempat tersebut sudah mereka bubarkan saat kegiatan operasi gabungan. 

Diakui dulu memang ada di wilayah Loksado yang menjadi penyedia, namun sudah dibubarkan saat operasi gabungan, maka sekarang sudah tidak ada lagi wilayah penyedia narkotika di HSS.

Kapolres pun mengimbau kepada seluruh masyarakat HSS agar menjauhi narkotika yang tidak memberikan keuntungan malah mendatangkan kerugian, termasuk merusak kesehatan.



Pewarta: Fathurrahman
Editor : Firman

COPYRIGHT © ANTARA 2026