Barabai (ANTARA) - Puluhan sopir truk di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan (Kalsel), menyampaikan keluhan ke DPRD HST saat rapat dengar pendapat (RDP) terkait kelangkaan BBM bersubsidi jenis biosolar. 

"Kami para sopir truk yang tergabung dalam Persatuan Sopir Truk Kabupaten Barabai (PSTKB) menyampaikan beberapa aspirasi terkait sulitnya mendapatkan biosolar subsidi," kata koordinator sopir truk Yayan di Gedung DPRD HST, Barabai, Kamis. 

RDP itu dipimipin Wakil Ketua DPRD HST Tajudin didampingi para Ketua Komisi, dihadiri para anggota dewan, TNI-Polri, Dinas Perdagangan HST, para sopir truk, pengelola SPBU, serta undangan para pemangku kepentingan lainnya. 

Yayan menerangkan, pihaknya meminta soal transparansi dan alokasi, serta meminta DPRD memastikan setiap SPBU di HST menyalurkan jatah biosolar secara rutin minimal setiap 1 bulan sekali.

Baca juga: Komisi II DPRD HST sidak SPBU tindak lanjuti kelangkaan BBM dan motor brebet

Kemudian, para supir meminta standarisasi harga, yakni jaminan mendapatkan harga sesuai ketetapan pemerintah tanpa biaya tambahan atau pungutan liar di seluruh SPBU HST.

Berikutnya, sopir memohon koordinasi dengan Polres HST untuk melakukan pengamanan di area SPBU guna menciptakan situasi yang aman dan kondusif bagi semua pihak.

Pihaknya menekankan terkait aspirasi soal stok BBM biosolar yang langka dan harga jualnya saat tersedia juga tinggi hingga Rp8.000 per liter, padahal jika sesuai HET (harga eceran tertinggi) hanya Rp6.800.

"Para sopir meminta agar harga jual biosolar kembali ke harga normal dan keperluan BBM mereka terpenuhi minimal satu bulan sekali pengisian," jelas Yayan.

Baca juga: Polda Kalsel tangkap operator SPBU terlibat pelangsiran biosolar
 

Para supir truk saat menyampaikan aspirasi ke DPRD HST di Gedung DPRD, Barabai, Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, Kamis (30/4/2026). (ANTARA/Muhammad Hidayatullah)


Menyambung aspirasi para sopir, Ketua Komisi I DPRD HST Yajid Fahmi juga memperkuat dengan temuannya di lapangan saat mencoba dengan langsung mengisi BBM biosolar ke salah satu SPBU.

"Realisasi di lapangan tidak sesuai dengan fakta. Saya sendiri membawa truk untuk mengisi BBM dan membayar di atas harga HET," ujarnya.

Anggota DPRD lain Salpia Riduan juga menyuarakan bahwa beberapa pengusaha SPBU di HST tidak terbuka, sebab temuannya di lapangan SPBU memprioritaskan para pelangsir ketimbang sopir angkutan.

Baca juga: Tiga operator SPBU Astambul terlibat pelangsiran biosolar ditangkap

Sementara itu, salah satu perwakilan SPBU Mandingin Selamet mangatakan pihaknya terakhir menjual BBM biosolar pada bulan lalu. 

Menurutnya, beberapa alasannya karena akan menimbulkan antrean yang cukup panjang, sehingga dikhawatirkan bisa mengganggu lalu lintas, karena letak SPBU ini berada di kota.

"Gara-gara itu kami tidak membeli minyak. Tapi intinya kami siap memenuhi tuntutan para sopir," tegasnya.

Wakapolres HST Kompol Maturidi mengatakan, pihaknya siap mengawal pendistribusian biosolar ini agar lancar

"Kami siap untuk menjaga kamtibmas nanti saat pendistribusiannya," pungkasnya.

Suasana dialog RDP itu berjalan cukup alot, namun tetap kondusif hingga akhirnya beberapa SPBU di HST menerima aspirasi yang diminta oleh para sopir dan akan ditindaklanjuti dengan pengawasan bersama. 



Pewarta: Muhammad Hidayatullah
Editor : Mahdani

COPYRIGHT © ANTARA 2026