Selasa, 24 Oktober 2017

Nenek Lana Korban Luka Tebasan Di Leher Dirawat Intensif

id Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, Polres Balangan, Polsek, Polisi, Polri, Hukum, Kriminal, Nenek Lana, Ma Ibah, Desa Lajar, Penganiayaan, Polsek
Nenek Lana Korban Luka Tebasan Di Leher Dirawat Intensif
Rusmini (44) saat olah TKP di kediaman Nenek Lana alias Ma Ibah (55) di rumah korban. (Antaranews Kalsel/Roly Supriadi ) (Antaranews Kalsel/Roly Supriadi )
Saat ini kami masih belum bisa memastikan siapa pelaku dan apa motif pelaku, namun penyelidikan terus dilanjutkan dengan mengambil keterangan dari para saksi,
Paringin, (Antaranews Kalsel) - Nenek Lana alias Ma Ibah (55), yang ditemukan warga tergeletak di rumahnya karena luka di leher yang diduga akibat ditebas oleh seseorang, hingga kini masih dirawat intensif di Rumah Sakit Umum Daerah Balangan.

Sementara anggota Polres Balangan, telah melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) untuk memastikan kronologis peristiwa yang menggegerkan warga sekitar. Hingga kini polisi belum bisa menemukan tersangka penganiayaan berat tersebut.

Wartawan Antaranews Kalsel Balangan, menelusuri cerita kehidupan sehari-hari korban  dengan menggali informasi dari masyarakat sekitar dan mendatangi rumah korban.

Tinggal bersama di sebuah rumah yang sudah mulai termakan usia, di  antara padatnya pemukiman penduduk di Desa Lajar, RT III No 16 Kecamatan Lampihong, Kabupaten Balangan, Kalsel, Jailani alias Pa Ibah (60) dan Nenek Lana alias Ma Ibah (55), mencukupi kehidupan sehari-harinya  sebagai penyadap la-ang (aren dari pohon enau) dan buka warung kopi.

Menurut beberapa tetangga, rumah tangga nenek dan kakek tersebut, relatif  harmonis, jarang terdengar perselisihan diantara keduanya.

Keduanya juga saling bahu membahu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Rutinitas keduanya dimulai sekitar  pukul 04.00 Wita dini hari.

Pada dini hari tersebut, Ma Ibah, sudah buka warung di depan rumahnya untuk  jualan kue, minuman hangat dan rokok. Pelanggannya para penyadap karet dan penyadap aren.

Sedangkan rutinitas Pa Ibah sendiri, biasanya dini  menyadap aren dari pohon enau. Aktivitas mereka selalu dilakukan jika tidak ada halangan atau kesibukan lainnya.

Hampir setiap hari, sejak dini hari rumah itu selalui ramai didatangi masyarakat yang ingin membeli makanan atau sekedar minum kopi.

Namun kini rumah itu mendadak hening, saat subuh sekitar 06.30 Wita, Yani salah satu tetangga yang mau membali  rokok ke tempat Ma Ibah, herajn sebab ketika sang nenek dipanggil tidak ada sahutan. Yani lalu  menengok ke dalam  rumah lewat  pintu rapuh namun tidak terkunci.

Terlihat Ma Ibah sedang terbaring dengan selimut, Yani pun mengurungkan niatnya untuk berbelanja, karena takut mengganggu Ma Ibah yang sedang tertidur pulas.

Sepuluh menit berselang, Jailani alias Pa Ibah yang baru keluar dari rumah tampak gelisah seraya meminta tolong kepada keluarganya, untuk segera melihat kondisi istrinya.

Adalah Rusmini (44) keluarga korban, yang akhirnya memastikan bahwa Nenek Lana alias Ma Ibah masih bernyawa dan terluka serius di leher kirinya.

Bersama pertolongan warga lainnya, Ma Ibah dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Balangan, untuk dirawat intensif. Sempat sadar dan merintih kesakitan, Ma Ibah pun tidak mengetahui siapa yang melakukan hal tersebut terhadap dirinya.

Saat Ma Ibah ditemukan tergeletak di ruang depan rumah dengan tebasan luka menganga di leher kirinya, Selasa (10/10) dini hari. Darah dimana-mana, sebilah parang yang sejatinya ada di kamar mereka, kini terpisah dengan sarungnya ditemukan di sisi Ma Ibah yang tak sadarkan diri.

Sedangkan sarung parang tersebut tetap berada di kamar. Entah siapa pelakunya, Jailani alias Pa Ibah pun yang tidur di kamar, mengaku mengetahui  korban terluka  sekitar pukul 06.40 Wita, ketika ada warga yang mengetok pintu dan memanggil karena ingin berbelanja rokok.

Memang menurut keterangan warga,  Selasa (10/10), sejak dini hari, rutinitas kedua suami istri ini pun tak terlihat seperti biasanya, aktivitas buka warung sejak pukul 04.00 Wita serta aktivitas untuk menyadap aren pun tidak ada.

Rabu (11/10) sekitar pukul 05.00 Wita hingga 08.00 Wita, pihak kepolisian sektor setempat kembali melakukan olah TKP untuk menyesuaikan dengan kejadian sesuai keterangan para saksi. Isak tangis keluarga dan tetangga seketika memecah keheningan.

Jajaran Kepolisian Sektor (Polsek) Kecamatan Lampihong, masih  melakukan penyelidikan dengan meminta keterangan tujuh orang saksi, di antaranya tetangga,  keluarga dan suami korban.

Sedangkan bukti lain yakni parang berlumur darah yang sudah dibersihkan Pa Ibah dan sarungnya, satu buah tikar, dan piring yang terdapat  bercak darah disita.

Kapolsek Lampihong, Iptu Krismianto mengungkapkan, terus melakukan penyelidikan lebih lanjut, hingga menguatkan bukti-bukti yang ada, sehingga dapat di temukan pelaku dan motif kejadian.

"Saat ini kami masih belum bisa memastikan siapa pelaku dan apa motif pelaku, namun penyelidikan terus dilanjutkan dengan mengambil keterangan dari para saksi, dan suami korban yang berada serumah saat kejadian," tegasnya.

Editor: Roly Supriadi

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga