Banjarmasin (ANTARA) - Ustadz Luthfi Syarkawi Thayib dalam tausyiah di Masjid Assa'adah Komplek Beruntung Jaya Banjarmasin mengungkap rahasia keshalehan seseorang.
"Seorang shaleh bukan hanya rajin beramal ibadah, tapi juga punya hati yang bersih serta betul-betul ta'at kepada Allah SWT," ujar Ustadz Luthfi dalam tausyiahnya di hadapan jamaah Masjid Assa'adah tersebut sesudah shalat Subuh,. Ahad.
Dalam kajian Kitab Al Hikam karya Syekh Ahmad ibn Muhammad ibn Atha’illah as-Sakandari itu, Ustadz Luthfi menceriakan seorang shaleh (bukan wali Allah).
Diceritakan, seorang nelayan bernama "Sipulan" sedang mengolah "lunta" (jala) sambil membacs salawat, tapi bulan salawat seperti biasa pada umumnya.
Salawat si nelayan itu hanya penggalan ayat suci Al Qur'an yaitu "salu alaihi" yang dia amalkan sejak lama.
Namun suatu ketika datang serombongan ulama, dan pendek cerita salah seorang Syekh menegur bahwa salawat si nelayan tersebut salah, karena yang diucapkannya itu, kalimat perintah Allah agar bersalawat.
"Yang betul ujar Syekh tersebut 'sali..." bagi hamba Nya. Rombongan ulama itu berlalu/pergi kembali mengarungi samudra. Sementara si nelayan lupa pesan Syekh, apakah salu atau sali. Si nelayan pun langsung lari mengejar rombongan ulama yang sudah berada di tengah laut. Setelah ketemu Syekh itu pun berkata kepada nelayan tersebut, bahwa terserah si nelayan. Karena sang nelayan memiliki maqam yang tinggi," kutip Udtadz Luthfi.
Baca juga: Ustadz Walad ingatkan kaum Muslim hinakan diri hanya kepada Allah
Terkait kebersihan hati, ustadz muda itu menceritakan lagi seorang wali yaitu Abul Hasan Al Khaitami, seorang pencari kayu dengan pengawal beberapa ekor singa dari Negeri Persia (kini Iran).
Diceritakan, Abul Hasan punya "bini pamamaian" (istri pemarah). Hampir tiap hari Abul Hasan kena marah istri, namun tak melakukan perlawanan.
Suatu saat datang seseorang ke rumah Abul Hasan mau bertemu/mengetahui "tabi'at" (sifat/sikap perilaku) yang disebut-sebut wali Allah tersebut. Namun disakapi istri Abul Hasan dengan cara kurang simpatik.
Istri Abul Hasan : Cari siapa?
Tamu : Mencari Abu Hasan
Istri AH : "Bulik haja, urangnya kada ada (pulang saja, orangnya tidak ada)
Tamu pun pulang, tapi di perjalanan bertemu dengan Abu Hasan dengan diiringi beberapa ekor singa pulang dari mencari kayu. Terjadilah dialog.
Tamu : " Kenapa bini pamamaian kada disarak haja. Kalau sarak banyak bibinian nang hakun lawan Abu Hasan" (kenapa istri pemarah tidak diceraikan saja. Kalau cerai banyak perempuan yang mau dengan Abu Hasan).
Baca juga: Ustadz Mahfudz nyatakan perbedaan tanda Kemahabesaran Allah
AHasan: Kalau ku ceraikan kasihan dia. Laki-laki mana yang mau dan setahan aku "dimaimai" (dimarahi) kalau kawin dengan dia.
"Kedua orang (nelayan dan Abul Hasan) tersebut menunjukkan kebersihan hati yang mungkin jarang dimiliki semua orang," demikian Ustadz Luthfi Syarkawi Thayib seraya mengungkap keutamaan salawat.

