Banjarmasin (ANTARA) - Pemerintah Kota Banjarmasin, Kalimatan Selatan melirik teknologi mesin pirolisis olah sampah plastik yang diterapkan di wilayah Provinsi Bali.

Wali Kota H Muhammad Yamin HR di Banjarmasin, Minggu, menyampaikan, daerahnya memerlukan berbagai teknologi untuk mengatasi masalah sampah, utamanya sampah plastik yang sulit terurai.

Menurut Yamin, kunjungan kerjanya ke yayasan "Get Plastic Foundation Jalan Raya Gering, Sibang Kaja, Bali, mendapatkan gambaran langsung sebuah mesin berteknologi dengan inovasi lokal yang mampu mengubah limbah plastik menjadi produk bernilai guna tinggi, mulai dari bahan bakar minyak (BBM) hingga barang kerajinan.

"Teknologi pirolisis kami pandang sebagai salah satu alternatif yang mampu mengubah sampah plastik menjadi energi, sambil mengurangi volume sampah secara signifikan. Kita ingin setiap kebijakan membawa manfaat nyata, memberikan peluang usaha, serta mengurangi tekanan lingkungan terhadap tempat pembuangan akhir (TPA)," ujarnya.

Baca juga: Banjarmasin resmikan pusat daur ulang sampah

Yamin pun menyampaikan, pihaknya melirik teknologi ini sebagai salah satu solusi alternatif mengatasi krisis sampah di kotanya yang sempat berstatus darurat sampah, karena ditutupnya Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) Basirih oleh Kementerian Lingkungan Hidup RI sejak awal Februari 2025.

Yamin menyatakan, pihaknya sudah melakukan berbagai cara untuk mengatasi sampah yang setiap harinya mencapai 600 ton, utamanya menggalakkan pilah sampah dari sumbernya, mendirikan rumah pilah sampah di setiap kelurahan dan mengaktifkan maksimal 300 bank sampah di lingkungan masyarakat.

Yamin mengungkapkan, teknologi mesin pirolisis olah sampah plastik tersebut mampu memproses 10 kg hingga 200 kg sampah plastik dalam durasi 3 hingga 5 jam melalui proses pembakaran tanpa oksigen.

Baca juga: Pemkot Banjarmasin dan Poliban rancangan inovasi atasi sampah

Teknologi ini menghasilkan beragam manfaat, yakni energi, seperti menghasilkan solar, bensin dan minyak tanah.

Kemudian produk sampingan seperti menghasilkan black carbon (residu). Ada pula menghasilkan barang kreatif seperti black carbon (residu) diolah menjadi asbak, plakat, kulit sintetis, briket, hingga paving block.

Pemerintah Kota berencana mengintegrasikan teknologi ini di setiap kelurahan melalui kerja sama dengan TPS 3R (Reuse, Reduce, Recycle). Pendekatan ini diharapkan tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga memberdayakan masyarakat lokal melalui ekonomi sirkular.

"Keberhasilan pengelolaan sampah adalah ketika masyarakat dan pemerintah berjalan bersama demi masa depan anak cucu kita. Insya Allah, bismillah, kita wujudkan Banjarmasin yang lebih bersih, sehat dan maju sejahtera," demikian kata Yamin.
 



Pewarta: Sukarli
Editor : Mahdani

COPYRIGHT © ANTARA 2026