Rantau (ANTARA) - Pegiat literasi di Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan, mendokumentasikan praktik dan gagasan literasi berbasis lokal melalui penerbitan buku antologi yang melibatkan 31 penulis dari berbagai komunitas.
Bunda Literasi Kabupaten Tapin Hj Faridah mengatakan, buku antologi tersebut menjadi bukti bahwa gerakan literasi di Tapin tidak hanya berjalan, tetapi menghasilkan karya yang dapat dijadikan rujukan bagi pengembangan literasi ke depan.
Baca juga: Wabup HSS hadiri peluncuran buku budidaya Lumbuk Pangrawit
“Ini bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan hasil kerja kolektif pegiat literasi yang aktif di lapangan dan layak didokumentasikan serta dipublikasikan,” ujar Faridah di Rantau, Kabupaten Tapin, Senin.
Menurut Faridah, keterlibatan puluhan penulis menunjukkan potensi literasi di Tapin terus tumbuh dan membutuhkan ruang fasilitasi yang berkelanjutan agar tidak berhenti pada aktivitas sesaat.
"Peran pegiat literasi saat ini telah bergeser, tidak hanya mendampingi masyarakat membaca dan menulis, tapi juga membangun budaya belajar serta kesadaran kritis di lingkungan masing-masing," ucapnya.
Pemerintah daerah, kata dia, mendukung penguatan literasi melalui Dinas Perpustakaan dengan pembinaan, penyediaan koleksi, serta kemitraan bersama komunitas.
"Namun penggerak utama literasi tetap berada pada pegiat yang bersentuhan langsung dengan masyarakat," ujar Faridah.
Baca juga: Polairud Banjarmasin tingkatkan literasi anak di bantaran sungai
Faridah berharap, penerbitan buku antologi ini menjadi titik awal penguatan jejaring, perluasan partisipasi, serta mendorong gerakan literasi di Kabupaten Tapin agar lebih konsisten dan berkesinambungan.
Pegiat literasi Tapin himpun gagasan lokal dalam buku antologi
Senin, 5 Januari 2026 13:45 WIB
Bunda Literasi Tapin Hj. Faridah Yamani memberikan sambutan sekaligus membuka bimbingan teknis pemberdayaan pegiat literasi dan launching antologi berbasis budaya Tapin di Rantau, Kabupaten Tapin, Senin (5/12/2026). (ANTARA/HO-Pemkab Tapin)
