Selain gua utama, Desa Batu Hapu masih menyimpan potensi lain. Terdapat dua goa yang di dalamnya memiliki mata air dan sungai bawah tanah, serta satu goa khusus habitat kelelawar yang direncanakan dibuka terbatas untuk penelitian dan pendidikan.
Ada pula kawasan panjat tebing yang dikenal sebagai goa gunung, yang kerap digunakan para pecinta alam.
Baca juga: Pesona Kain Sasirangan dari Desa Belangian
Situs ke-44 Geopark Meratus
Nilai strategis Goa Batu Hapu semakin menguat setelah ditetapkan sebagai bagian dari Geopark Meratus, sehingga pada 2018, kawasan ini bersama 53 situs lainnya resmi ditetapkan sebagai Geopark Nasional oleh Komite Nasional Geopark Indonesia.
Geopark Meratus memiliki luas sekitar 3.645,01 kilometer persegi dengan 54 situs yang tersebar di empat rute, yakni barat, utara, timur, dan selatan. Goa Batu Hapu tercatat sebagai situs ke-44 dan berada di jalur utara, yang merepresentasikan proses pembentukan Pegunungan Meratus.
Pengakuan dunia internasional datang ketika UNESCO menetapkan Geopark Meratus sebagai anggota UNESCO Global Geopark (UGGp), lalusertifikat pengakuan tersebut diterima Gubernur Kalimantan Selatan Muhidin didampingi Duta Besar Indonesia untuk Prancis Mohamad Oemar di Paris, Prancis pada 3 Juni 2025.
Kepala Desa Batu Hapu, Mardiono, menyebut status geopark membawa dampak sangat positif bagi desa.
“Keberadaan Geopark Meratus memberi banyak manfaat. Goa Batu Hapu semakin dikenal, bukan hanya di tingkat nasional, tetapi juga internasional,” katanya.
Namun, ia mengakui masih ada tantangan dan kendala yang dihadapi aparat desa, utamanya soal permodalan untuk dapat lebih mengembangkan kawasan wisata gua itu.
Meski demikian, ia berharap Geopark Meratus dapat menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat untuk menjaga kawasan wisata.
“Ini bukan hanya soal pariwisata, tetapi juga tentang warisan geologi dan budaya yang harus kita rawat bersama,” kata Mardiono.
Goa Batu Hapu juga menyimpan legenda lokal, karena masyarakat setempat meyakini gua ini terbentuk dari pecahan kapal seorang anak durhaka yang dikutuk ibunya, Nini Kudampi, seorang janda miskin, sehingga sebuah kisah tersebut hidup berdampingan dengan fakta ilmiah tentang proses geologi jutaan tahun silam.
Di perut Pegunungan Meratus, Goa Batu Hapu berdiri sebagai saksi perjalanan bumi, menyatukan alam, sejarah, dan budaya.
Terdapat cahaya putih yang menembus celah-celah batu menjadi simbol harapan bahwa warisan geologi ini akan terus terjaga untuk generasi mendatang.
Baca juga: Menilik Loksado situs Geopark Meratus sebagai KSPN
Editor : Taufik Ridwan
COPYRIGHT © ANTARA 2026