Kandangan (ANTARA) - PT Antang Gunung Meratus (AGM) melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) menggelar pelatihan pembuatan pakan alternatif untuk budidaya ikan tawar menyasar warga binaan yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama (Kube) "Berkah Bersama", Desa Hariti, Kecamatan Sungai Raya, Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan, Rabu.
Kepala Bidang (Kabid) Perikanan Budidaya Dinas Perikanan HSS Khalid Darda mengapresiasi pelatihan pembuatan pakan alternatif tersebut, alasannya akan memudahkan para pembudidaya ikan tawar mendapatkan pakan yang lebih murah dan berkualitas, dan pakan dibuat dari bahan alami dan lokal.
"Kami berterima kasih kepada PT AGM atas pelatihan ini, para pembudidaya ikan kita dapat memangkas biaya produksi, dan tentunya dapat meningkatkan penghasilan kelompok. Kami pun berharap kegiatan seperti ini bisa berlanjut dengan kelompok-kelompok lainnya, sehingga usaha budidaya ikan tawar di wilayah kita terus berkembang," katanya dalam keterangan.
Harapan yang sama juga disampaikan Kepala Desa Hariti Syafrudin bahwa pelatihan yang digelar dapat memberikan bekal pengetahuan bagi para pembudidaya ikan tawar dalam pengolahan pakan alternatif ikan, sehingga memberikan kemanfaatan dalam pengembangan usaha kelompok binaan.
"Alhamdulilah kita sudah dibantu program CSR PT AGM, pengolahan pakan alternatif ini tentu dapat mengurangi biaya pakan yang harus dikeluarkan pembudidaya, serta menghasilkan kualitas produksi ikan lebih memuaskan," ucapnya.

Sementara itu, Ketua Kube Berkah Bersama Bahrani, mengatakan kube telah terbentuk sejak 2019 dengan budidaya ikan tawar menggunakan kolam bioflok ikan nila dan gurami, pihaknya sangat terbantu program CSR PT AGM yang telah memberikan pendampingan, pembinaan, serta sarana yang dibutuhkan.
Diterangkan dia, sebelum pelatihan pembuatan pakan alternatif, kelompoknya juga mendapatkan bimbingan pelatihan budidaya maggot sehingga pakan yang dimiliki saat ini lebih dari cukup, bahkan bisa membantu kelompok pembudidaya lainnya.
"Adanya inovasi pakan ikan berkualitas dengan budidaya maggot memberikan alternatif pakan bagi kita sebagai sumber protein kaya nutrisi untuk tumbuh besar ikan hingga panen. Gurami yang biasanya baru bisa dipanen setahun, sekarang kita bisa panen di umur delapan bulan," ungkapnya.
Pihaknya pun sangat bersyukur penerapan inovasi pakan ikan yang telah dikenalkan PT AGM kepada kelompok pembudidaya, menghemat waktu dan biaya, jadi tidak harus terus mengandalkan pakan dari pabrikan karena bisa dibuat kelompok dengan bantuan sarana dan pelatihan dari PT AGM.
Adapun CSR Section Head PT AGM Widharto Ali, menyampaikan pelatihan yang dilaksanakan kali ini merupakan lanjutan dari sebelumnya, tepatnya pelatihan di bulan lalu terkait pengolahan pakan ikan dengan bio maggot sebagai pakan alternatif bagi kelompok pembudidaya.
"Hari ini kita kembali melaksanakan pelatihan dengan pembuatan pakan alternatif menggunakan bahan alami dan lokal, salah satunya berbahan maggot yang telah sebelumnya berhasil dibudidayakan dicampur bahan lainnya, dan dengan dipandu narasumber penyuluh perikanan Slamet Budiyanto," terangnya.

Menurut dia, pelatihan ini merupakan upaya dari PT AGM di bidang CSR membentuk kemandirian ekonomi masyarakat di bidang perikanan, khususnya kelompok pembudidaya binaan di Desa Hariti, dan diharapkan berdampak positif bagi kelompok lainnya terkait penyediaan pakan.
"Tentu kita menyadari hal ini berangkat dari kendala para pembudidaya karena harga pakan pabrikan, kami melihat ada potensi memanfaatkan bahan-bahan alami yang ada di sekitar desa, lalu melahirkan inovasi dimulai pengolahan bio maggot yang berasal dari larva (ulat) lalat Black Soldier Fly (BSF) dengan kandungan tinggi proteinnya," jelasnya.
Dengan pemberian pakan alternatif berkualitas bagus, tentu ikan dapat tumbuh cepat, cepat panen, menekan angka biaya produksi. Dan selain percepatan ikan gurami, bahkan untuk ikan nila juga bisa dipanen di umur empat bulan atau lebih cepat dari panen biasa yang membutuhkan waktu hingga enam bulan.
Dan untuk Kube Berkah Bersama yang diketuai Bahrani, Desa Hariti pun telah menjadi percontohan budidaya bioflok dengan memanfaatkan bio maggot, sehingga para pembudidaya ikan dari desa-desa lainnya sekitarnya dapat belajar membudidayakan juga.
"Selama ini dalam memberikan dukungan pengembangan usaha kelompok, kita dari PT AGM selain pelatihan, kita bantu bibit, sarana prasarana budidaya, termasuk mengolah pakan alternatif ini bagi Kube Berkah Bersama," tambahnya.
