Banjarbaru (ANTARA) - Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Hanif Faisol Nurofiq menyatakan telah menerjunkan tim untuk melakukan kajian terkait bencana banjir bandang di wilayah Sumatera yang menerjang tiga provinsi di bagian utara pulau paling barat Indonesia itu.
"Kami tentu mendalami detilnya, mengambil langkah-langkah yang diperlukan," kata Hanif di Banjarbaru, Sabtu.
Hanif mengatakan siklon tropis sebagaimana yang telah disampaikan BMKG memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan intensitas curah hujan di wilayah sekitarnya, termasuk Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, sebelumnya tidak pernah sampai dampaknya ke Sumatera.
Baca juga: Respons desakan darurat bencana nasional, Prabowo: Kita terus monitor
Namun faktanya kini terjadi hingga mengalami hujan dengan intensitas mencapai kategori ekstrem yang mengakibatkan terjadinya bencana banjir bandang.
"Artinya iklim tidak bisa lagi diprediksi, sehingga menuntut ketahanan kita menjaga alam," jelasnya di sela kunjungan ke Universitas Lambung Mangkurat (ULM).
Hanif menegaskan jika Presiden Prabowo Subianto telah mengingatkan untuk menghentikan kerusakan alam, terutama hutan, yang kemudian secara nyata menimbulkan dampak buruk bencana luar biasa pada saat krisis iklim.
Dia menekankan pentingnya pengetatan penataan tata lingkungan yang harus terus ditingkatkan sembari upaya konservasi untuk melindungi, memulihkan, dan meningkatkan kualitas lingkungan salah satunya melalui vegetasi (penghijauan).
Baca juga: BP BUMN minta 3 Polda di Sumatera usut pembalakan liar pemicu banjir
"Kita terus dorong kementerian, lembaga serta pemerintah daerah melakukan ini," tegasnya.
Diketahui bencana banjir bandang dan tanah longsor menerjang Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat akibat hujan deras dengan intensitas tinggi sejak beberapa hari terakhir.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat korban meninggal dunia mencapai 303 orang sampai Sabtu (29/11) sore.
