Barabai (ANTARA) - Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan (Kalael) Dr. Ir. H. Sa’dianoor mencatat prestasi internasional setelah menerima Indroyono Soesilo Award 2025 atas penelitiannya terkait sengketa tapal batas HST-Kotabaru dalam ajang The 46th Asian Conference on Remote Sensing (ACRS) 2025 yang digelar di Makassar.
"Penelitian yang saya dan tim bawakan berjudul Analisis Survei dan Wawancara Lapangan Terkait Penolakan Masyarakat Balai Adat Manggajaya Terhadap Kesepakatan Batas Administrasi Antara Kabupaten Hulu Sungai Tengah dan Kabupaten Kotabaru yang disajikan berbahasa Inggris," kata Dr Sa'dianoor di Barabai, Jumat.
Baca juga: Dinas PUPR Tabalong luncurkan mobil reaksi cepat
Penghargaan ini menjadi sangat spesial karena untuk pertama kalinya sejak ACRS berlangsung pada tahun 1980, Asian Association on Remote Sensing (AARS) memperkenalkan kategori penghargaan baru yang mengapresiasi kolaborasi akademik–pemerintah–industri. Inisiatif ini merupakan kerja sama AARS dengan MAPIN / Indonesian Society for Remote Sensing (ISRS).
Dalam penelitian ini, kata Sa'dianoor, menggabungkan survei lapangan GPS, wawancara dengan tetua adat Meratus, analisis citra satelit multisumber (SPOT, Google Maps, DEM), serta kajian sosial mengenai hak ulayat dan akses masyarakat adat.
Pendekatan ini dipuji karena menyatukan teknologi geospasial modern dengan kearifan lokal, sekaligus menawarkan model resolusi konflik batas wilayah yang adil, inklusif, dan berbasis bukti, bahkan dianugerahi Honorable Mention oleh juri.
Prestasi Sa’dianoor juga didukung oleh penugasan resmi melalui surat tugas Sekretariat Daerah Hulu Sungai Tengah yang mengutusnya untuk mempresentasikan hasil penelitian pada ACRS 2025 di Makassar.
"Saya diamanahkan untuk mewakili Pemerintah Daerah dalam diskusi ilmiah internasional, menyampaikan hasil analisis batas wilayah Hulu Sungai Tengah–Kotabaru, serta memperkuat posisi ilmiah dan advokasi berbasis geospasial terkait hak masyarakat adat," jelasnya.
Prestasi ini menjadi pembuktian bahwa riset dari daerah, termasuk Kabupaten Hulu Sungai Tengah, dapat bersaing dan diakui pada panggung ilmiah internasional.
Sa’dianoor juga dikenal sebagai pejabat daerah yang aktif menulis, melakukan penelitian lapangan, dan menerbitkan buku ajar di bidang Sistem Informasi Geografis dan metode penelitian.
Adapun penghargaan ini diberi nama Indroyono Soesilo Award untuk menghormati kontribusi besar Prof. Dr. Ir. Indroyono Soesilo, M.Sc., sosok pendiri MAPIN dan tokoh sentral dalam pengembangan ilmu penginderaan jauh Indonesia sejak 1980-an.
Saat ini beliau menjabat sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, dan tetap dikenal sebagai seorang diplomat sains yang perannya menghubungkan riset, kebijakan, dan kerja sama internasional di kawasan Asia-Pasifik.
Ketua Dewan Juri Dr. Agustan, menyampaikan bahwa karya Sa’dianoor memiliki kualitas akademik, nilai sosial, dan dampak kebijakan yang kuat.
“Inilah contoh bagaimana teknologi, empati sosial, dan kearifan adat bisa saling menguatkan. Paper ini memberi kontribusi nyata bagi penyelesaian batas wilayah secara partisipatif dan berbasis data,” ujarnya.
Baca juga: Kalsel kemarin dari rehabilitasi ekosistem pesisir hingga peningkatan gizi
Sekretaris Jenderal AARS, Prof. Kohei Cho, menyampaikan selamat kepada para penerima penghargaan dan secara khusus mengapresiasi komitmen MAPIN/ISRS Indonesia dalam memperkuat peran Asia di bidang penginderaan jauh.
“Indroyono Soesilo Award adalah tonggak baru dalam sejarah ACRS. Untuk pertama kalinya sejak 1980, konferensi ini menghadirkan penghargaan yang menekankan kolaborasi lintas sektor dan dampak nyata bagi masyarakat. Kami berterima kasih kepada MAPIN dan Indonesia atas inisiatif visioner ini.” kata Prof. Kohei Cho.
