Banjarmasin (ANTARA) - Sebanyak 129 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel), mengikuti Program Pendidikan Kesetaraan Paket A, B, dan C.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Provinsi Kalsel Mulyadi di Banjarmasin, Senin, membuka program pendidikan tersebut dengan rincian sebanyak 45 orang mengikuti program Paket A, 43 orang Paket B, dan 41 orang Paket C.
“Kegiatan ini melalui kerja sama Lapas Kelas IIA Banjarmasin dengan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Azzahra. Pendidikan di Lapas adalah bagian penting dari proses pembinaan moral dan karakter,” ujar dia.
Baca juga: Lapas Banjarmasin perkuat pendidikan kesetaraan bagi WBP
Mulyadi menegaskan bahwa pendidikan di Lapas bukan hanya tentang ilmu pengetahuan, tetapi juga bagian penting dari pembentukan karakter dan kesadaran moral.
“Melalui pendidikan, kita menanamkan nilai tanggung jawab, disiplin, dan kepercayaan diri. Inilah bekal yang dibutuhkan WBP untuk kembali berperan positif di masyarakat,” tuturnya.
Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin Akhmad Herriansyah menegaskan bahwa program pendidikan kesetaraan ini merupakan bentuk nyata perhatian terhadap masa depan Warga Binaan.
“Program ini akan menjadi bekal bagi mereka di masa depan. Ada WBP yang bahkan belum lulus sekolah dasar, dan ini menjadi atensi kami agar mereka memiliki pendidikan yang baik serta kesempatan untuk memperbaiki diri,” katanya.
Baca juga: Kakanwil Ditjenpas Kalsel dan Kalapas Banjarmasin panen 180 pot selada
Sementara itu, Kepala PKBM Azzahra Rachmi Utari mengaku bangga dapat berkolaborasi dalam pembinaan di lingkungan pemasyarakatan khususnya di bidang pendidikan.
“Kami bangga dapat berkontribusi dalam proses pembinaan ini. Setiap manusia berhak mendapatkan kesempatan untuk berubah dan pendidikan adalah jalan terbaik untuk membuka masa depan yang baru,” ujar Rachmi.
Melalui program pendidikan ini, Lapas Banjarmasin berkomitmen membuka jalan hidup bagi WBP untuk menulis ulang masa depan dengan ilmu pengetahuan, kedisiplinan, dan harapan.
Di balik dinding sel, Lapas Banjarmasin berupaya memberikan semangat belajar bagi WBP agar terus bertumbuh, karena pendidikan memang tidak mengenal ruang dan waktu.
