Martapura (ANTARA) - Wakil Bupati Banjar, Kalimantan Selatan, Said Idrus Al Habsyi dorong aparatur desa dan unsur masyarakat lainnya meningkatkan peran dalam upaya pencegahan penyakit HIV/AIDS di kabupaten setempat.
"Aparat desa dan kader pemberdayaan masyarakat merupakan ujung tombak pemerintah yang paling dekat dengan warga sehingga mampu berperan mencegah HIV/AIDS," ujar Said Idrus di Martapura, Jumat.
Menurut wabup, yang juga menjabat Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Banjar, pihaknya sudah menyelenggarakan Pelatihan Aktivis Peduli HIV/AIDS 2025, di Aula Kecamatan Martapura, Rabu (5/11).
Baca juga: Wabup Banjar ajak masyarakat tingkatkan kesadaran terhadap HIV-AIDS
Disebutkan, pelatihan diikuti puluhan peserta baik dari unsur aparatur desa dan kader pemberdayaan masyarakat yang diberikan pemahaman tentang pencegahan HIV/AIDS sehingga tidak bertambah di masyarakat.
"Peran aparatur desa penting karena paling dekat dengan warga melalui peningkatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) yang benar tentang HIV/AIDS sehingga bisa mencegah penularannya," ucap Idrus.
Wabup menekankan, tantangan terbesar bukan penyakitnya, tetapi stigma yang sering menghalangi orang dengan HIV/AIDS (ODHA) untuk mengakses layanan kesehatan dan pengobatan dini serta diskriminasi.
"Kami berharap, melalui pelatihan para peserta mampu menjadi fasilitator informasi sekaligus Duta Anti-Stigma di lingkungan masing-masing agar penularan HIV/AIDS bisa dicegah sedini mungkin," harapnya.
Baca juga: Bupati Banjar bangun sarana kesehatan guna tingkatkan mutu layanan
Dikatakan, Pemkab Banjar melalui KPA komitmen mendukung pencegahan HIV/AIDS dan keberhasilannya sangat bergantung partisipasi aktif peserta menyebarluaskan pengetahuan dan menghapus stigma di masyarakat.
Sekretaris KPA Provinsi Kalsel Sukamto mengapresiasi Pemkab Banjar atas peran aktifnya dalam penanggulangan HIV/AIDS di daerah melalui pelatihan dengan peserta dari berbagai kalangan itu.
"Pelatihan seperti ini memiliki peran strategis meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat yang lebih positif terhadap isu HIV/AIDS sehingga bisa bersama-sama dalam mencegah penularannya," ucap dia.
Ditambahkan, pelatihan tidak hanya menyampaikan data atau fakta medis, tetapi juga bertujuan mentransformasi peserta menjadi agen perubahan yang memiliki kemampuan komunikasi efektif dengan masyarakat luas.
