Transportasi tradisional
Sebelum 1994, aktivitas Bambo Rafting atau Lanting ini dulu menjadi alat transportasi air bagi masyarakat Dayak di Loksado. Penduduk setempat membawa hasil panen hutan dan kebun untuk dijual ke kota dan belanja kebutuhan dapur.
Karena akses darat yang hanya jalan setapak dan sulit dilalui, lanting ini menjadi satu-satunya transportasi bagi Suku Dayak Meratus untuk menyusuri Sungai Amandit. Seiring meningkatnya pembangunan infrastruktur, Bamboo Rafting kini dimanfaatkan menjadi wisata unggulan.
Memasuki 2015, beberapa penduduk setempat mulai menawarkan jasa transportasi lanting untuk memperoleh pendapatan. Mereka membuka jasa joki mengantar warga ke berbagai tempat di sepanjang jalur Sungai Amandit.
Pada 2016, wisata ini mulai terkenal melalui Festival Loksado sebagai event pariwisata unggulan, kini lebih dikenal dengan nama Festival Bamboo Rafting. Meningkatnya jumlah wisatawan menjadi ladang ekonomi bagi para penjoki Bamboo Rafting.
Festival Bamboo Rafting memadukan berbagai potensi atraksi budaya dan wisata alam yang berakar dari budaya dan tradisi masyarakat adat Dayak di Pegunungan Meratus, dengan atraksi utamanya “Bamboo Rafting” yaitu atraksi wisata menyusuri jeram Sungai Amandit menggunakan rakit bambu.
“Bamboo Rafting bukan sekadar wisata air, tetapi merupakan warisan tradisi masyarakat Dayak Meratus yang telah menjadi ikon kebanggaan daerah," kata Sekretaris Daerah (Sekda) Hulu Sungai Selatan Muhammad Noor.
Baca juga: DKP Kalsel bagikan 200 paket makanan ikan olahan bagi anak di Loksado
Geopark Meratus
Pada 2018 Bamboo Rafting dan 53 situs lain yang menjadi bagian Geopark Meratus, resmi ditetapkan sebagai Geopark Nasional melalui Komite Nasional Geopark Indonesia.
Geopark sebuah kawasan geografis dengan warisan geologi yang bernilai tinggi, mencakup keanekaragaman hayati dan budaya, dan dikelola secara terpadu untuk konservasi, edukasi, dan pembangunan berkelanjutan.
Geopark Meratus memiliki 54 situs mulai dari rute timur, selatan, barat, dan utara. Bamboo Rafting Loksado menjadi situs ke-49 terletak di rute utara dengan karakteristik situs biologi, dan dengan fungsi utama untuk wisata alam, penelitian, dan pendidikan.
Berkat komitmen pemerintah daerah pula, Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) telah mengakui Geopark Meratus sebagai warisan geologi (kejadian bumi), dan resmi masuk anggota UNESCO Global Geopark (UGGp).
Pengakuan ini dibuktikan dengan diterimanya sertifikat UGGp untuk Geopark Meratus oleh Gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel) Muhidin di Prancis pada 3 Juni 2025.
